Oleh: Faisal Wijaya*
Pemerintah bergerak cepat dan strategis dalam merespons kebijakan tarif impor baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Melalui pembentukan Tim Lobi Tingkat Tinggi, Indonesia menunjukkan kesiapan dan ketangguhan diplomatik dalam menghadapi tantangan global yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi nasional. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi, menegaskan bahwa tim ini akan diberangkatkan segera ke Amerika Serikat untuk melakukan negosiasi langsung dengan pemerintah AS.
Langkah ini merupakan sinyal tegas bahwa Indonesia tidak tinggal diam menghadapi tekanan eksternal. Hasan menyebutkan bahwa tim lobi menjadi bagian dari strategi menyeluruh pemerintah yang juga mencakup penghitungan cermat atas dampak kebijakan tarif, serta deregulasi dalam negeri agar produk Indonesia semakin kompetitif di pasar global. Ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mengelola risiko sekaligus memanfaatkan peluang dari dinamika perdagangan internasional.
Pernyataan Hasan diperkuat oleh Deputi PCO Noudhy Valdryno, yang menegaskan bahwa Presiden Prabowo sudah mengantisipasi gejolak global jauh sebelum kebijakan tarif Trump diumumkan. Presiden, menurut Noudhy, telah menyiapkan tiga langkah besar: memperluas mitra dagang, mempercepat hilirisasi sumber daya alam, serta memperkuat daya tahan konsumsi domestik. Langkah ini bukan sekadar reaktif, tapi bentuk kesiapan jangka panjang yang menunjukkan kepemimpinan visioner di tengah ketidakpastian global.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, turut mendukung langkah cepat pemerintah. Ia menilai pengiriman Tim Lobi adalah inisiatif yang tepat sebagai langkah awal diplomatik. Misbakhun mengingatkan bahwa ekspor Indonesia ke AS bernilai strategis, dengan produk padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki yang kini terancam oleh tarif 32 persen. Ia menekankan pentingnya efisiensi biaya produksi untuk menjaga daya saing, sekaligus mendorong implementasi arahan Presiden dalam deregulasi demi memperkuat struktur industri dalam negeri.
Tak hanya itu, Misbakhun juga menyoroti pentingnya stabilisasi nilai tukar rupiah yang bisa terdampak akibat ketidakpastian global dan potensi penurunan suku bunga oleh The Fed. Di tengah momentum libur Lebaran, ia menilai Bank Indonesia memiliki ruang untuk menyiapkan langkah stabilisasi yang tepat sebelum pasar kembali aktif. Kewaspadaan fiskal dan moneter menjadi bagian tak terpisahkan dalam strategi komprehensif menghadapi tarif Trump.
Dukungan kuat juga datang dari dunia usaha. Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Anindya Bakrie, menjelaskan bahwa Kadin akan mengirim delegasi ke Amerika Serikat pada awal Mei 2025. Mereka akan bertemu dengan US Chamber of Commerce dan menghadiri konferensi bisnis guna membuka ruang negosiasi lanjutan. Anindya melihat bahwa kebijakan Trump masih bersifat awal dan belum final, yang berarti Indonesia punya peluang untuk memperjuangkan kepentingan nasional di meja diplomasi.
Anindya menegaskan bahwa Indonesia memiliki nilai strategis di mata AS, baik sebagai anggota APEC, bagian dari ASEAN, negara Muslim terbesar, maupun pemimpin negara nonblok. Dengan diplomasi cerdas, kombinasi faktor-faktor ini dapat menjadi kekuatan dalam lobi politik dan ekonomi. Ia juga menekankan perlunya Indonesia membuka pasar alternatif di Asia Tengah, Turki, Eropa, Afrika, hingga Amerika Latin sebagai diversifikasi mitra dagang.
Dalam jangka panjang, kebijakan tarif AS bisa memengaruhi arus investasi langsung (FDI) maupun portofolio. Oleh karena itu, menurut Anindya, Indonesia perlu mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk menarik investor AS dan sekutunya, sekaligus menangkap peluang relokasi industri dari China. Hal ini akan memperkuat struktur ekspor dan menciptakan basis industri yang lebih solid di dalam negeri.
Di sektor energi dan pertahanan, Indonesia tetap punya ruang untuk memperkuat kerja sama dengan AS. Kebijakan Inflation Reduction Act dari AS membuka peluang ekspor produk energi bersih, termasuk nikel dan mineral strategis Indonesia, selama memenuhi standar lingkungan dan ketenagakerjaan yang ditetapkan. Dengan pendekatan selektif dan terukur, sektor-sektor potensial bisa tetap berkembang di tengah tantangan tarif.
Kebijakan tarif Trump memang menimbulkan guncangan, namun dengan langkah cepat pemerintah melalui pembentukan tim lobi dan berbagai strategi pendukung, Indonesia berada pada posisi yang cukup kuat untuk beradaptasi dan menavigasi tekanan tersebut. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga moneter menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya siap bertahan, tapi juga siap mengambil inisiatif dalam percaturan ekonomi global.
Dalam kondisi ini, tim lobi menjadi simbol ketangguhan diplomasi ekonomi Indonesia. Mereka bukan hanya utusan, tapi garda depan yang membawa kepentingan nasional ke meja negosiasi internasional. Dukungan luas dari legislatif, eksekutif, dan dunia usaha menjadi bukti bahwa bangsa ini bersatu untuk menjaga kepentingan ekonomi rakyat di tengah badai global.
*) Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Ekonomi Universitas Dharma Persada