Oleh: Rai Adiguna )*
Pemerintah kembali menunjukkan konsistensinya dalam mendorong transformasi ekonomi melalui penguatan hilirisasi industri. Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama 13 proyek hilirisasi nasional tahap kedua yang tersebar di berbagai wilayah. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk memperkuat ekosistem industri nasional berbasis nilai tambah.
Peresmian yang berlangsung di Cilacap, Jawa Tengah, tersebut menandai keberlanjutan agenda hilirisasi yang sebelumnya telah dimulai pada tahap pertama. Pemerintah memandang bahwa pengolahan sumber daya alam di dalam negeri merupakan fondasi penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperluas struktur industri nasional.
Nilai investasi dari 13 proyek yang diluncurkan mencapai sekitar Rp116 triliun. Cakupan proyek yang meliputi sektor energi, mineral, hingga perkebunan menunjukkan pendekatan komprehensif dalam membangun rantai industri yang terintegrasi. Pemerintah tidak hanya berfokus pada satu sektor, melainkan mengembangkan berbagai lini strategis secara bersamaan.
Presiden menegaskan bahwa hilirisasi merupakan jalan strategis untuk mendorong kebangkitan ekonomi nasional. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya kajian berkelanjutan terhadap seluruh proyek agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan dinamika global. Pendekatan yang digunakan harus berbasis perhitungan ilmiah dan efisiensi agar setiap proyek memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Pemerintah juga memastikan bahwa pelaksanaan hilirisasi dilakukan dengan prinsip objektivitas dan akuntabilitas. Seluruh proyek diarahkan untuk menghasilkan skema terbaik yang tidak hanya efisien, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat. Pendekatan ini memperlihatkan komitmen pemerintah dalam menjaga kualitas pembangunan industri nasional.
Di sisi implementasi, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa proyek tahap kedua ini dilaksanakan secara serentak di 13 titik. Program tersebut merupakan kelanjutan dari mandat hilirisasi nasional yang telah dijalankan sejak fase pertama pada awal 2026.
Rosan juga menegaskan bahwa program hilirisasi tidak berhenti pada tahap kedua. Pemerintah telah menyiapkan fase lanjutan yang akan memperluas jumlah proyek secara signifikan. Secara keseluruhan, rencana pengembangan hilirisasi nasional diproyeksikan mencapai sekitar 30 proyek, yang akan terus dikembangkan secara bertahap.
Dari sisi sektor, proyek-proyek yang diresmikan memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan industri. Pada sektor energi, pembangunan fasilitas kilang gasoline di Cilacap dan Dumai serta penguatan infrastruktur penyimpanan BBM di wilayah timur Indonesia diarahkan untuk mengurangi ketergantungan impor. Kebijakan ini dinilai mampu meningkatkan kemandirian energi sekaligus menekan beban neraca perdagangan.
Rosan menyampaikan bahwa pembangunan fasilitas kilang tersebut diperkirakan dapat mengurangi impor hingga sekitar 1,25 miliar dolar AS per tahun. Hal ini menjadi indikator konkret bahwa hilirisasi mampu memberikan dampak ekonomi langsung yang terukur bagi negara.
Pada sektor mineral, pemerintah mendorong pengembangan industri pengolahan yang lebih maju. Proyek-proyek seperti pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether, manufaktur baja dan nikel, hingga hilirisasi tembaga dan emas menjadi langkah penting dalam meningkatkan nilai tambah komoditas nasional. Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, termasuk LPG.
