PAPUA Pemerintah menjadikan Papua sebagai wilayah strategis dalam agenda pembangunan nasional. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pengembangan perkebunan sawit di Papua dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus mendorong lahirnya pusat-pusat pertumbuhan baru berbasis hilirisasi di kawasan timur Indonesia.
Dorongan Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas pengembangan sawit di Papua tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi komoditas unggulan, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui pemerataan pembangunan dan optimalisasi potensi daerah. Dengan sumber daya yang dimiliki, Papua dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masa depan.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan bahwa penguatan swasembada di berbagai wilayah merupakan bagian dari strategi membangun daya tahan bangsa menghadapi berbagai tantangan global.
“Saya melihat ini pendapat saya pribadi adalah bahwa kita juga sebagai negara harus bertahan. Secara geopolitik kita harus memainkan peranan yang baik dan secara internal kita harus kuat. Maka swasembada itu baik,” ujar Sudaryono.
Menurutnya, kemampuan setiap wilayah untuk memenuhi kebutuhan strategisnya sendiri akan memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh. Karena itu, pengembangan sektor produktif di Papua menjadi bagian penting dalam menciptakan ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Sudaryono menekankan pentingnya membangun kemandirian di setiap pulau agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terjamin dalam berbagai kondisi.
“Jadi kita kalau terjadi apa-apa yang tidak kita inginkan di pulau itu cukup pangan, cukup energi,” tegas Sudaryono.
Sejalan dengan visi tersebut, transformasi sektor sawit di Papua mulai diarahkan pada penguatan hilirisasi. Salah satu langkah yang didorong adalah pembangunan kawasan terpadu berbasis kelapa sawit atau Plaza Sawit di Kabupaten Keerom yang diinisiasi APKASINDO Papua.
Ketua DPW APKASINDO Papua Albert Yoku menjelaskan bahwa kawasan tersebut dirancang untuk mengintegrasikan kebun sawit, pabrik pengolahan, dan industri turunan dalam satu ekosistem ekonomi. Dengan demikian, nilai tambah produk sawit dapat dinikmati langsung oleh masyarakat setempat.
“Kita ingin membangun bukan hanya kebun, tapi sebuah kawasan ekonomi. Kalau PKS dan industri turunannya ada di sini, maka hasil sawit tidak perlu lagi dibawa jauh ke luar daerah. Semua bisa diolah di tempat, menciptakan lapangan kerja dan menambah nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Albert Yoku.
