Sinyal Ekonomi Menguat Jadi Modal Menjaga Kepercayaan Pasar dan Rakyat
Oleh: Alexander Royce*)
Perekonomian Indonesia memasuki kuartal IV 2026 dengan fondasi yang relatif kuat. Di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan, Indonesia menunjukkan kemampuan menjaga pertumbuhan, stabilitas makroekonomi, daya beli masyarakat, serta kepercayaan investor. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah untuk memastikan momentum pertumbuhan tidak hanya bertahan hingga akhir tahun, tetapi juga menjadi pijakan menuju percepatan pembangunan ekonomi pada 2027.
Pemerintah menunjukkan komitmen untuk menjaga ketahanan ekonomi sekaligus membuka ruang lebih besar bagi investasi dan kemitraan strategis. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam forum investasi Indonesia-Amerika Serikat pada 6 Oktober 2026, menyampaikan bahwa sejumlah indikator ekonomi nasional menunjukkan fondasi yang tetap kokoh. Pertumbuhan ekonomi, investasi, daya beli, serta indikator sosial menjadi kekuatan yang menopang sentimen positif investor terhadap Indonesia.
Investasi yang meningkat sekitar 7 persen secara tahunan menjadi salah satu indikator penting bahwa kepercayaan dunia usaha terhadap prospek ekonomi nasional tetap terjaga. Pada saat yang sama, indeks keyakinan konsumen berada pada level 108,5, mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Dari sisi sosial, rasio Gini berada di angka 0,36, tingkat kemiskinan turun menjadi 8,7 persen, sedangkan tingkat pengangguran terbuka berada di sekitar 4,65 persen.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi terus diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas. Pertumbuhan tidak semata-mata dikejar melalui peningkatan angka produksi, tetapi juga melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan, serta penguatan daya beli masyarakat. Dengan demikian, ketahanan ekonomi menjadi bagian dari agenda besar pemerintahan Prabowo dalam membangun perekonomian yang produktif, inklusif, dan berdaya saing.
Hubungan ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat juga menunjukkan prospek yang positif. Pada semester I 2026, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai 15,85 miliar dolar AS dengan surplus perdagangan sebesar 8,56 miliar dolar AS. Sementara itu, investasi dari Amerika Serikat mencapai 1,72 miliar dolar AS. Capaian tersebut memperlihatkan posisi Indonesia yang semakin penting dalam rantai pasok dan kemitraan ekonomi global.
Pemerintah bahkan telah menyiapkan arah kebijakan ekonomi 2027 melalui tema Higher Growth – Faster Prosperity. Strategi tersebut diarahkan pada pengembangan sektor bernilai tambah tinggi, peningkatan ekspor dan investasi, percepatan digitalisasi, penguatan industri semikonduktor, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya menjaga stabilitas ekonomi saat ini, tetapi juga mempersiapkan fondasi transformasi ekonomi jangka panjang.
Optimisme tersebut semakin diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik. Ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, sedangkan pertumbuhan semester I mencapai 5,45 persen. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa konsumsi dan permintaan domestik masih menjadi kekuatan utama perekonomian nasional di tengah perlambatan dan ketidakpastian global.
Ketahanan eksternal juga tetap terjaga. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir September 2026 mencapai 146,3 miliar dolar AS atau setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor. Posisi tersebut memberikan bantalan yang kuat bagi stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap kemampuan Indonesia menghadapi berbagai tekanan eksternal.