{"id":10112,"date":"2023-01-19T04:01:54","date_gmt":"2023-01-19T04:01:54","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=10112"},"modified":"2023-01-19T04:01:54","modified_gmt":"2023-01-19T04:01:54","slug":"mahupiki-dan-pakar-hukum-sepakati-kuhp-baru-sudah-sesuai-dengan-nilai-nilai-pancasila","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/01\/19\/mahupiki-dan-pakar-hukum-sepakati-kuhp-baru-sudah-sesuai-dengan-nilai-nilai-pancasila\/","title":{"rendered":"Mahupiki dan Pakar Hukum Sepakati KUHP Baru Sudah Sesuai Dengan Nilai-Nilai Pancasila"},"content":{"rendered":"<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1280\" height=\"841\" src=\"https:\/\/jurnalredaksi.com\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/WhatsApp-Image-2023-01-18-at-14.21.17-1-1.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-10113\" srcset=\"https:\/\/jurnalredaksi.com\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/WhatsApp-Image-2023-01-18-at-14.21.17-1-1.jpeg 1280w, https:\/\/jurnalredaksi.com\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/WhatsApp-Image-2023-01-18-at-14.21.17-1-1-768x505.jpeg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Pontianak \u2013 Pengesahan KUHP baru sudah mewadahi kepentingan banyak sekali pihak, lantaran hukum pidananya mampu melindungi kepentingan pribadi, masyarakat hingga negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal tersebut dikatakan oleh Guru Besar Hukum Pidana Universitas Indonesia, Profesor Topo Santoso dalam acara sosialisasi KUHP baru yang diselenggarakan oleh MAHUPIKI di Pontianak, pada Rabu (18\/1\/2023).<\/p>\n\n\n\n<p>Profesor Topo Santoso menjelaskan mengenai sistematika struktur hukum pidana dalam KUHP baru atau nasional. Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar dalam KUHP baru yang fundamental.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTrias hukum pidana itu adalah tiga bagian paling penting dari hukum pidana materil, pertama adalah tindak pidana, kedua adalah pertanggung jawaban pidana, dan ketiga adalah pidana dan pemidaan,\u201d ujar Prof Topo.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengatakan bawa KUHP baru merupakan simplifikasi dari KUHP lama atau WvS serta menyatukan berbagai istilah menjadi tindak pidana.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKUHP baru menghentikan perdebatan soal istilah perbuatan pidana, peristiwa pidana, dan istilah-istilah lain semua disatukan menjadi istilah tindak pidana,\u201d imbuh prof Topo.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Universitas Negeri Semarang (UNNES), Prof. Dr. Benny Riyanto juga menjelaskan, meski sistem hukum produk Belanda itu sudah mengalami naturalisasi, namun tetap saja di dalamnya tidak mungkin menganut nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, utamanya mengenai falsafah negara, yakni Pancasila.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKUHP WvS kita itu usianya sudah diatas 100 tahun, maka tidak heran kalau KUHP peninggalan Kolonial belanda sudah tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan hukum masyarakat,\u201d ujar Prof Benny.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Guru besar Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang, Prof. Dr. Pujiyono, SH. M.Hum., menjelaskan mengenai konsep pidana dalam buku II KUHP baru terkait tindak pidana yang ide dasarnya terdapat dalam buku I KUHP baru.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau kita bicara terkait dengan Buku II tentunya tidak bisa dilepaskan dari Buku I. Ketika kita mengkritisi di Buku II, harusnya kita paham terlebih dahulu mengenai Buku I. Karena dalam hukum pidana itu ada dua inti, yakni norma dan value. Sehingga dalam Buku II adalah norma, namun konsep dan ide dasarnya ada dalam Buku I,\u201d ucap Prof Pujiyono.*<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pontianak \u2013 Pengesahan KUHP baru sudah mewadahi kepentingan banyak sekali pihak, lantaran hukum pidananya mampu&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-10112","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10112","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10112"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10112\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10114,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10112\/revisions\/10114"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10112"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10112"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10112"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=10112"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}