{"id":11391,"date":"2023-03-16T05:28:59","date_gmt":"2023-03-16T05:28:59","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=11391"},"modified":"2023-03-16T05:28:59","modified_gmt":"2023-03-16T05:28:59","slug":"lentera-research-ciptakan-pemilu-yang-damai-demokratis-dan-bebas-dari-politik-identitas-hoax-serta-hate-speech","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/03\/16\/lentera-research-ciptakan-pemilu-yang-damai-demokratis-dan-bebas-dari-politik-identitas-hoax-serta-hate-speech\/","title":{"rendered":"LENTERA RESEARCH: CIPTAKAN PEMILU YANG DAMAI, DEMOKRATIS DAN BEBAS DARI POLITIK IDENTITAS, HOAX SERTA HATE SPEECH"},"content":{"rendered":"<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/assets-e.promediateknologi.id\/crop\/0x0:0x0\/x\/photo\/2023\/03\/16\/WhatsApp-Image-2023-03-16-at-121208-951930448.jpeg\" alt=\"\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>JAKARTA &#8211; Direktur Eksekutif Lentera Research Institute, Dr. (Cand) David N mengatakan bahwa untuk mewujudkan pemilu 2024 yang damai dan demokratis maka semua pihak harus memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga persatuan dan kesatuan ditengah perbedaan preferensi politik.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia memandang bahwa pemilu merupakan sarana berkompetisi untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan bangsa Indonesia berdasarkan prinsip kedaulatan rakyat dan bukan sarana berkonflik.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTidak ada yang menang atau kalah, yang ada berapa presentase masyarakat yang memilih dan dari suara terbanyak, maka peserta berhak memperoleh kedudukan atau jabatan. Jadi bukan arena konflik menang atau kalah seperti melawan musuh. Intinya berupaya memberikan yang terbaik bagi rakyat,\u201d ujar David melalui Zoom, Rabu (15\/03\/2023).<\/p>\n\n\n\n<p>Semua pihak dia nilai harus bekerja sama dalam mencegah terjadinya kecurangan, baik itu dalam bentuk politik uang, intimidasi, atau manipulasi data. Khususnya, masyarakat harus waspada dengan politik identitas maupun HOAX dan Ujaran kebencian yang bisa terjadi pada pemilu 2024.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOleh karena itu kita semua harus memisahkan antara agama dengan politik. Karena pada dasarnya agama mengajarkan kebaikan serta perdamaian dan bukan permusuhan apalagi perpecahan bangsa,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia berharap seluruh pihak harus berhati-hati dan menghindari tindakan yang dapat memicu konflik atau kekerasan serta melaporkan kejadian yang mencurigakan kepada pihak yang berwenang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTujuan daripada kontestasi politik adalah pesta demokrasi, yaitu ajang saling menghormati perbedaan preferensi politik dan dilakukan dengan menjunjung tinggi moral kebangsaan. Kontestasi politik harus kita maknai sebagai persatuan ditengah perbedaan, bukan saling menghancurkan,\u201d pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>David mengajak masyarakat untuk bersama-sama menolak perilaku yang dapat menyebabkan perpecahan antar individu maupun masyarakat untuk memastikan Pemilu berjalan dengan damai, santun, dan mengedepankan kepentingan bersama.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia pun kembali mengingatkan memasuki tahun politik, kemajuan teknologi informasi berpotensi membawa masuk pada situasi terjadinya gempuran informasi, termasuk ujaran kebencian dan berita HOAX yang berpotensi menyebabkan konflik di masyarakat hingga dapat menimbulkan kekerasan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita harus bijaksana. Memiliki pemahaman yang baik dan benar dalam menerima setiap informasi yang masif di ruang digital. Tanpa pemahaman yang baik terhadap informasi yang beredar, maka sangat rawan terjadi konflik karena misinformasi, akibat kurang literasi digital,\u201d tutupnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Direktur Eksekutif Lentera Research Institute, Dr. (Cand) David N mengatakan bahwa untuk mewujudkan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-11391","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11391","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11391"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11391\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11392,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11391\/revisions\/11392"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11391"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11391"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11391"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=11391"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}