{"id":11523,"date":"2023-03-18T15:37:05","date_gmt":"2023-03-18T15:37:05","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=11523"},"modified":"2023-03-18T15:37:06","modified_gmt":"2023-03-18T15:37:06","slug":"sikapi-kolapsnya-bank-amerika-ketua-badan-supervisi-bi-percaya-pada-menkeu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/03\/18\/sikapi-kolapsnya-bank-amerika-ketua-badan-supervisi-bi-percaya-pada-menkeu\/","title":{"rendered":"Sikapi Kolapsnya Bank Amerika, Ketua Badan Supervisi BI: Percaya pada Menkeu"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta \u2013 Menyikapi kolapsnya bank di Amerika, masyarakat diimbau untuk percaya sepenuhnya dengan pemerintah, khususnya Menteri Keuangan, dalam menjaga stabilitas perbankan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini diungkapkan Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia, Muhammad Edhie Purnawan, dalam dialog di Kompas TV, Sabtu (18\/03\/2023).<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita semua harus percaya sepenuhnya dengan pernyataan Menkeu, bahwa tidak akan terjadi dampak yang relatif besar dengan kejadian di bank-bank Amerika,\u201d pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menilai perbankan di Indonesia relatif aman karena keterkaitan antara penutupan bank di Amerika dengan Indonesia tidak tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBank di Indonesia relatif aman karena keterkaitan antara kebangkrutan tiga bank di Amerika dengan Indonesia tidak tinggi. Hal yang perlu diperhatikan adalah perusahaan-perusahaan yang dibiayai, terutama start-up yang terhubung dengan bank-bank besar di Eropa atau Amerika. Bank-bank di Indonesia tidak perlu khawatir akan hal itu,\u201d ungkapnya<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, Edhie menjelaskan bahwa ada penurunan inflasi karena Amerika melakukan kebijakan moneter ketat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSehingga yang terjadi pada perekonomian global dan yang harus menjadi perhatian bersama, yang dilakukan Jay Powell terlihat agresif sehingga menyebabkan bank sentral semakin bersikap hawkish untuk mengendalikan inflasi yang mereka alami pada 2022 dan awal 2023,\u201d lanjutnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Indonesia, Dr. Teguh Dartanto menuturkan, sektor keuangan di Indonesia jauh lebih prudent dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, ada dua faktor berpengaruh, yaitu good policy dan good luck.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAda dua faktor yang berpengaruh, yaitu good policy dan good luck. Indonesia bisa mengontrol dengan baik isu terkait keuangan dan kebijakan di sektor riil cukup terkontrol,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menariknya, lanjut Teguh, ada koordinasi dari sektor fiskal, sektor moneter, dan sektor keuangan. Artinya ada koordinasi yang bagus antara Kemenkeu, Bank Indonesia, OJK, dan LPS. Pengalaman saat pandemi lalu bisa menjadi pembelajaran, sehingga Indonesia sudah cukup siap menghadapi kondisi global yang kemungkinan akan ada efek dominonya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Indonesia ini berpendapat, domino effect dari penutupan bank di Amerika tetap ada meskipun tidak sebesar yang dikhawatirkan. Pihaknya juga mengapresiasi pemerintah yang tetap waspada terhadap kondisi perekonomian global saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya sangat mengapresiasi dimana Presiden sebagai kepala negara telah memberikan peringatan \u201ckewaspadaan\u201d. Artinya, kita yakin bahwa Indonesia \u201cimun\u201d dan relatif tidak terdampak, tetapi juga tidak boleh jumawa. Disisi lain, Menteri Keuangan dengan data dan analisisnya juga menunjukkan Indonesia aman,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, dampak langsung dari kejadian penutupan bank di Amerika terhadap Indonesia mungkin tidak terjadi, namun kemungkinan dampak tidak langsung selalu ada.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni yang perlu kita monitor terus-menerus, dan yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah tetap waspada,\u201d&nbsp;katanya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Menyikapi kolapsnya bank di Amerika, masyarakat diimbau untuk percaya sepenuhnya dengan pemerintah, khususnya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11524,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-11523","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi-dan-investasi"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11523","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11523"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11523\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11525,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11523\/revisions\/11525"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11524"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11523"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11523"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11523"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=11523"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}