{"id":11779,"date":"2023-03-23T10:28:32","date_gmt":"2023-03-23T10:28:32","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=11779"},"modified":"2023-03-23T10:28:33","modified_gmt":"2023-03-23T10:28:33","slug":"ciptakan-pemilu-2024-damai-hindari-adanya-politisasi-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/03\/23\/ciptakan-pemilu-2024-damai-hindari-adanya-politisasi-agama\/","title":{"rendered":"Ciptakan Pemilu 2024 Damai, Hindari Adanya Politisasi Agama"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta \u2014 Ketua Eksponen Alumni HMI Pro Jokowi-Amin, Ato\u2019 Ismail menyatakan bahwa sangat penting menjaga gelaran Pemilu 2024 tetap damai.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPemilu 2024 merupakan salah satu agenda demokrasi yang perlu dijaga agar Indonesia tetap damai,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Baginya, salah satu cara untuk bisa menciptakan kedamaian Pemilu adalah dengan menghindari adanya praktik politisasi agama.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentunya, Ato\u2019 menambahkan bahwa politik identitas yang diskriminatif atas nama agama tidak boleh dilakukan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pasalnya, politik yang dibungkus dengan SARA akan banyak sekali menyebabkan perpecahan seperti pada banyak negara lain yakni Suriah, Libia, Yaman, Somalia dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Senada, Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), Hamka Haq juga menyampaikan bahwa Pemilu 2024 akan damai tanpa politisasi agama.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKedamaian berbangsa perlu diciptakan menuju pemilu 2024 tanpa politisasi agama,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Bidang Keagamaan tersebut menjelaskan bahwa adanya konflik yang mengatasnamakan ahama memang akan memunculkan terjadinya perpecahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Terlebih, ketika menjelang adanya Pemilu, maka konflik yang terjadi baginya biasanya adalah lantaran ambisi politik dari kelompok tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAmbisi politik yang ingin menguasai kelompok lain, yang ingin hidup sendiri di negara ini dan mengabaikan kepentingan kelompok-kelompok lain,\u201d kata Hamka.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan adanya ambisi politik tersebut, menurutnya memang sangat merusak tali persaudaraan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAmbisi politik itulah yang merusak pertalian,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dirinya kemudian mengajak kepada umat Muslim untuk terus menjaga kedamaian di tengah masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJangan menjadi pelopor perpecahan. Jangan menjadi sumber kegaduhan di tengah masyarakat Indonesia yang sudah damai,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kunci untuk bisa terus menjaga perdamaian tersebut menurutnya adalah dengan kepercayaan yang taat dan juga terus setia pada Pancasila.<\/p>\n\n\n\n<p>Merujuk pada bagaimana di jaman Rasulullah ketika masyarakat Madinah patuh terhadap konstitusi, mereka mampu hidup berdampingan dengan kaum Nasrani dan Yahudi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMereka hidup berdamai di Madinah, mengawal konstitusi. Dalam konstitusi Madinah semua agama yang ada di Madinah khusunya kaum Nasrani dan Yahudi diakui eksistensinya,\u201d tutur Hamka.<\/p>\n\n\n\n<p>Hamka juga menjelaskan bahwa sama sekali tidak ada agama yang justru mengajarkan konflik.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKarena saya yakin semua agama mengajarkan kedamaian. Tidak ada agama yang mengajarkan konflik,\u201d tegasnya. []<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2014 Ketua Eksponen Alumni HMI Pro Jokowi-Amin, Ato\u2019 Ismail menyatakan bahwa sangat penting menjaga gelaran Pemilu 2024 tetap damai.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11774,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-11779","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11779","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11779"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11779\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11780,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11779\/revisions\/11780"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11774"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11779"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11779"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11779"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=11779"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}