{"id":11961,"date":"2023-04-04T05:40:32","date_gmt":"2023-04-04T05:40:32","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=11961"},"modified":"2023-04-04T05:40:33","modified_gmt":"2023-04-04T05:40:33","slug":"waspadai-politisasi-tempat-ibadah-untuk-tempat-kampanye","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/04\/04\/waspadai-politisasi-tempat-ibadah-untuk-tempat-kampanye\/","title":{"rendered":"Waspadai Politisasi Tempat Ibadah untuk Tempat Kampanye"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jakarta \u2014 Para peserta Pemilu 2024 dan juga masyarakat harus bisa terus mewaspadai adanya praktik politisasi di tempat ibadah untuk kepentingan kampanye politik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI, Lolly Suhenti menyatakan bahwa para peserta Pemilu 2024 sama sekali tidak diperkenankan untuk berkampenye di tempat ibadah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukan hanya itu, namun menurutnya juga akan ada sanksi pidana jika peserta Pemilu masih melakukan pelanggaran tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSanksi yang berkenaan dengan Pasal 280 itu sifatnya pidana, dalam konteks ini kita harus hati-hati. Ketika Bawaslu melakukan penanganan pelanggaran, dia pasti akan diiringi dengan upaya pencegahan,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemudian, pihak Bawaslu sendiri masih terus berupaya untuk memastikan agar para peserta Pemilu tidak melakukan apa yang telah dilarang sebelumnya dengan melakukan beberapa pencegahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIni yang sedang kami lakukan saat ini memastikan seluruh teman-teman parpol yang memang sudah punya nomor itu tidak melakukan yang sebagaimana dilarang,\u201d sambung Lolly.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih lanjut, pihak Bawaslu kemudian menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk melakukan pengawasan kampanye di masjid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal tersebut penting untuk bisa turut mensukseskan pelaksanaan Pemilu 2024.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH. Cholil Nafis menyatakan bahwa pihaknya sudah melakukan imbauan serta edukasi kepada masyarakay mengenai pelarangan melakukan politisasi di tempat ibadah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKami Komisi Dakwah dan Ukhuwah MUI sudah sosialisasi ke takmir-takmir masjid,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Khususnya sosialisasi tersebut dberikan kepada para takmit masjid, lantaran mereka adalah pihak yang mengundang para penceramah ke masjid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">KH. Cholil Nafis menekankan supaya para takmir masjid tidak mengundang mereka yang memiliki ketertarikan berpolitik praktis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selanjutnya, menurut dia bahwa memang sebaiknya masjid memiliki rambu-rambu yang menerangkan akan larangan melakukan kampanye.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baginya, justru apabila terdapat calon atau elite politik tertentu atau peserta Pemilu 2024 yang melakukan politisasi di tempat ibadah, sebaiknya tidak perlu dipilih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTapi, jangan sampai pilih itu, apalagi caleg itu begini, nah tidak boleh melakukan politik praktis seperti itu,\u201d ujar Cholil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dirinya kemudian meminta kepada para takmir masjid untuk bisa melakukan pencegahan dengan tindakan yang baik, terukur dan sopan sehingga tidak menimbulkan masalah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kendati demikian, dia menegaskan bahwa kampanye bisa dilakukan di mana saja, namun selain di tempat ibadah dan tempat yang dilarang oleh peraturan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDi luar masjid silakan,\u201d kata Cholil.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2014 Para peserta Pemilu 2024 dan juga masyarakat harus bisa terus mewaspadai adanya praktik&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11807,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-11961","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11961","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11961"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11961\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11962,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11961\/revisions\/11962"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11807"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11961"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11961"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11961"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=11961"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}