{"id":13161,"date":"2023-05-11T10:21:07","date_gmt":"2023-05-11T10:21:07","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=13161"},"modified":"2023-05-11T10:21:08","modified_gmt":"2023-05-11T10:21:08","slug":"komitmen-kuat-keketuaan-indonesia-dalam-ktt-asean-2023-wujudkan-kawasan-damai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/05\/11\/komitmen-kuat-keketuaan-indonesia-dalam-ktt-asean-2023-wujudkan-kawasan-damai\/","title":{"rendered":"Komitmen Kuat Keketuaan Indonesia dalam KTT ASEAN 2023 Wujudkan Kawasan Damai"},"content":{"rendered":"\n<p>Manggarai Barat \u2014 Komitmen kuat sangat dimiliki oleh Keketuaan Indonesia dalam perhelatan KTT ASEAN 2023 untuk terus mewujudkan kawasan yang penuh akan kedamaian agar bisa menjadikan ASEAN sebagai sentral bagi dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konferensi pers di Hotel Bintang Flores Labuan Bajo, NTT, Kamis (11\/5), Presiden RI, Joko Widodo menyatakan bahwa sejatinya seluruh negara ASEAN adalah satu keluarga dan harus bisa bersama berlayar menuju ke satu tujuan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMemang ASEAN ini adalah satu keluarga, ikatannya sangat kuat, kesatuannya sangat penting untuk berlayar menuju satu tujuan yang sama, menjadikan ASEAN Epcentrum of Growth dan kawasan yang damai dan sejahtera,\u201d kata Presiden Jokowi.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkait dengan upaya untuk mewujudkan perdamaian tersebut, bahkan telah disepakati oleh seluruh Kepala Negara se-ASEAN bahwa memang perlindungan pekerja migran serta korban perdagangan manusia harus bisa ditindak tegas pelakunya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHal yang menyentuh kepentingan rakyat menjadi hal penting para leaders, termasuk perlindungan pekerja migran dan korban perdagangan manusia. Dan saya mengajak negara-negara ASEAN untuk menindak tegas pelaku utamanya,\u201d jelas Presiden Jokowi.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara tegas, dirinya juga menyatakan bahwa konflik Myanmar yang mencederai kemanusiaan sama sekali tidak bisa ditoleransi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian, dalam rangka mewujudkan perdamaian di ASEAN, bahkan Indonesia sendiri telah berkomitmen siap untuk berbicara dengan banyak pihak mengenai upaya menghentikan konflik Myanmar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIndonesia siap berbicara dengan siapapun, termasuk dengan Junta dan seluruh stakeholder di Myanmar untuk kepentingan kemanusiaan, dan yang penting untuk saya tegaskan bahwa melakukan pendekatan bukan berarti memberikan pengakuan,\u201d kata Presiden RI ketujuh tersebut, didamping Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, dirinya juga berharap agar tidak ada pihak manapun yang justru mengambil keuntungan dari adanya konflik Myanmar.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal tersebut, ungkap Jokowi, justru akan sangat rawan menimbulkan perpecahan sehingga perdamaian pun tidak akan terlaksana. Jokowi pun mengajak ASEAN untuk bersatu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTidak boleh ada pihak di dalam atau di luar ASEAN yang mengambil manfaat dari konflik internal di Myammar, kekerasan harus dihentikan dan rakyat harus dilindungi,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jokowi kembali menegaskan bahwa kesatuan ASEAN sangat penting, karena tanpa kesatuan akan mudah pihak lain memecah ASEAN.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan hanya sekedar komitmen, namun beberapa langkah juga telah dilakukan oleh Indonesia dalam upayanya menghentikan konflik Myanmar.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia telah menjalin komunikasi dengan banyak sekali stakeholder terkait dan terus mendorong implementasi 5 poin konsensus.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita akan terus mendorong implementasi dari 5 poin konsensus, mendorong terciptanya dialog dan tidak hanya dengan Junta karena di sana banyak pihak dan kepentingan yang terlibat, sehingga kita akan memperbanyak stakeholder yang ada di Myanmar,\u201d pungkas Presiden&nbsp;Jokowi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manggarai Barat \u2014 Komitmen kuat sangat dimiliki oleh Keketuaan Indonesia dalam perhelatan KTT ASEAN 2023&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-13161","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13161","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13161"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13161\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13162,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13161\/revisions\/13162"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13161"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13161"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13161"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=13161"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}