{"id":13186,"date":"2023-05-12T07:10:43","date_gmt":"2023-05-12T07:10:43","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=13186"},"modified":"2023-05-12T07:10:43","modified_gmt":"2023-05-12T07:10:43","slug":"penyelenggaraan-asean-summit-2023-picu-pertumbuhan-ekonomi-masyarakat-ntt","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/05\/12\/penyelenggaraan-asean-summit-2023-picu-pertumbuhan-ekonomi-masyarakat-ntt\/","title":{"rendered":"Penyelenggaraan ASEAN SUMMIT 2023 Picu Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat NTT"},"content":{"rendered":"\n<p>Manggarai Barat \u2013 Keketuaan Indonesia pada KTT ASEAN ternyata sukses mendorong perekonomian masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT), hal ini terbukti event tersebut mampu memicu peningkatkan ekonomi dan kunjungan wisatawan ke wilayah tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan KTT ASEAN 2023 di Labuan Bajo, tidak hanya sekadar pertemuan seremonial, namun menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi baik di Indonesia maupun di kawasan ASEAN.<\/p>\n\n\n\n<p>Khusus di Indonesia, Presiden RI Joko Widodo menginginkan pelaksanaan KTT ASEAN 2023 memberikan efek ganda bagi perekonomian di sektor pariwisata, transportasi, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSebenarnya ini pesan tersirat dari Presiden. Pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi di Bali atau Labuan Bajo, tapi juga harus tumbuh di daerah lain dan bangkit setelah pandemi,\u201d kata Moeldoko, Kamis (11\/5).<\/p>\n\n\n\n<p>Moeldoko juga menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten dan terjaga di atas lima persen, ditambah dengan bonus demografi dan kestabilan kawasan, menjadi aset bagi Indonesia dalam menjaga ASEAN sebagai pusat pertumbuhan dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini menjadikan Indonesia memiliki kewajiban untuk menjaga situasi kawasan tetap kondusif. Terlebih, saat ini terjadi ketegangan di Laut Cina Selatan, krisis politik di Myanmar, dan dampak perang Rusia dan Ukraina.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTantangan ke depan masih sangat berat. ASEAN harus semakin memperkuat integrasi ekonominya, mempererat kerja sama inklusif, memperkokoh arsitektur kesehatan, pangan, energi, dan stabilitas keuangan,\u201d ujar Moeldoko.<\/p>\n\n\n\n<p>Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengatakan, bahwa dirinya bersama masyarakat Manggarai Barat, sangat mengapresiasi keputusan Presiden Joko telah yang memilih Labuan Bajo sebagai venue ASEAN Summit ke-42.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya kira ini menjadi impian seluruh pemerintah daerah lainnya agar daerahnya bisa dipilih menjadi tempat diselenggarakan event berskala internasional,\u201d ujar Edi Endi.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, pelaksanaan KTT ASEAN telah berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi Manggarai Barat. Momen ini diyakini juga akan berdampak bagi keberlanjutan pembangunan dan pariwisata di wilayah lain di NTT.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) NTT, Wilson Liyanto mengatakan, pihaknya ikut berbahagia karena NTT kembali menjadi perhatian dunia. KTT ASEAN Summit 2023 ini merupakan ajang berdiskusi negara-negara ASEAN terkait perkembangan politik, keamanan, ekonomi, sosial dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPerhatian Presiden Joko Widodo kepada NTT sangat luar biasa, dampaknya sangat positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan investor-investor yang hadir dalam event ASEAN Summit,\u201d kata Wilson.<\/p>\n\n\n\n<p>KTT ASEAN ke-42 bertema \u201cASEAN Matters: Epicentrum of Growth\u201d yang bermakna ASEAN relevan dan penting sebagai pusat pertumbuhan dunia. Dalam keketuaannya, Indonesia mengajak negara-negara ASEAN untuk berperan aktif dan menawarkan ide serta solusi bagi perdamaian dan kemakmuran di regional. Sebagai ketua, Indonesia juga berkomitmen memperkuat pemulihan ekonomi dan menjadikan Asia Tenggara sebagai mesin pertumbuhan yang berkelanjutan.&nbsp;[*]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manggarai Barat \u2013 Keketuaan Indonesia pada KTT ASEAN ternyata sukses mendorong perekonomian masyarakat di Nusa&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-13186","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13186","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13186"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13186\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13187,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13186\/revisions\/13187"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13186"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13186"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13186"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=13186"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}