{"id":14126,"date":"2023-06-25T04:41:46","date_gmt":"2023-06-25T04:41:46","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=14126"},"modified":"2023-06-25T04:41:47","modified_gmt":"2023-06-25T04:41:47","slug":"para-capres-didorong-kedepankan-narasi-persatuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/06\/25\/para-capres-didorong-kedepankan-narasi-persatuan\/","title":{"rendered":"Para Capres Didorong Kedepankan Narasi Persatuan"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta \u2013 Para kandidat calon presiden diminta menonjolkan narasi persatuan, agar bangsa ini secara kolektif bisa menghadapi berbagai tantangan. Percakapan tentang persatuan juga krusial untuk terus digaungkan, demi tercapainya tujuan Indonesia Emas 2045.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemerhati isu-isu strategis dan global Prof Dubes Imron Cotan berpendapat, tantangan terbesar dari para capres terpilih nanti adalah mengedepankan persatuan dan kesatuan. Yang perlu dipertanyakan, menurut dia, adalah siapa di antara para capres yang benar-benar dilahirkan, siap, serta berkemampuan memupuk rasa nasionalisme bangsa dan menghimpun segenap elemen dan kekuatan bangsa, sehingga mampu menggiring Indonesia keluar sebagai pemenang dari masa \u201ctwilight zone\u201d saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAgar dapat mengokohkan upaya dan langkah kita bersama menuju Indonesia Emas 2045 yang akan datang,\u201d ujar Imron dalam webinar Moya Institute bertema \u201cMembaca Prospek Kemenangan Tiga Capres Populer\u201d, Jumat (23\/6\/2023).<\/p>\n\n\n\n<p>Imron menguraikan, dunia sedang melalui dan berada pada periode \u201ctwilight zone\u201d, ditandai dengan serangan pandemi Covid-19, perang proxy di palagan Eropa, yang melibatkan negara-negara berkemampuan senjata pemusnah massal (nuklir, biologi, dan kimia), serta meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik. Sementara di front dalam negeri, pada saat Indonesia mulai bangkit dari serangan pandemi Covid-19, siklus demokrasi lima tahunan segera akan berlangsung serentak pada bulan Februari 2024 yang akan datang, disusul pula oleh pilkada serentak pada tahun yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKedua agenda demokrasi tersebut merupakan tugas konstitusi, untuk mengawal Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 (demokratis, maju, dan sejahtera). Untuk itu, seluruh elemen bangsa dituntut untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan, terlepas dari siapa yang akan muncul menjadi pemimpin nasional dan lokal, sebagai hasil dari kontestasi politik 2024 yang akan datang,\u201d urainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Politikus Reformasi Fahri Hamzah mengatakan, narasi persatuan perlu dimunculkan dalam perhelatan Pilpres 2024, agar bangsa ini mampu menghadapi berbagai hal yang melemahkan upaya mencapai tujuan. Persatuan amat penting ditonjolkan dari sisi birokrasi maupun kepemimpinan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya kira keinginan Presiden Jokowi menciptakan Indonesia Emas 2045 itulah narasi persatuan dan tonggaknya banyak. Di situ Jokowi telah mewarisi narasi persatuan, bahwa siapa pun presidennya, jaga Indonesia Emas 2045. Indonesia Emas 2045 dapat menjaga kolektivisme bangsa,\u201d ujar Fahri yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta Prof Aidul Fitriciada Azhari mengatakan, ketiga capres yang kerap muncul namanya saat ini sama-sama mempunyai karakter kepemimpinan yang kuat dan baik. Hanya saja, Aidul mengemukakan, masing-masing capres punya perbedaan kapasitas dalam menghadapi tantangan yang muncul di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagaimana diketahui, saat ini ada tiga kandidat capres teratas, yaitu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, serta mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cGanjar Pranowo punya kemampuan menghadapi tantangan internal atau domestik, sebab gaya kepemimpinannya yang tidak terlalu \u2018tinggi, merakyat\u2019. Jika tantangannya itu bersifat global maka Prabowo dan Anies Baswedan punya keunggulan komparatif,\u201d ujar Aidul.<\/p>\n\n\n\n<p>Aidul menyebut, situasi Pilpres 2024 tidak akan jauh berbeda bila dianalisa dan diperbandingan dengan sejarah Pemilu 1955 dan 2019, di mana setiap ideologi punya basis pemilih masing-masing, dimana poros nasionalisme selalu berada di depan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSementara Prabowo dan Anies punya irisan yang sama yakni kalangan santri, meskipun yang paling santri sebenarnya Anies Baswedan. Sedangkan Ganjar Pranowo dari kelompok nasionalis,\u201d ucap Aidul.<\/p>\n\n\n\n<p>Direktur Eksekutif SMRC Sirojudin Abbas menyampaikan, tiga nama capres yang populer beredar sekarang merefleksikan bahwa pemilu Indonesia memang merepresentasikan aspirasi publik.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMemang banyak kritik terhadap model politik kuantitatif. Hanya dari hasil survei, ketiga nama capres inilah ditemukan popularitasnya paling tinggi di tengah masyarakat,\u201d imbuh Sirojudin. Hal yang sama terjadi juga di AS. Sirojudin memprediksi, pergeseran kekuatan politik dari ketiga capres berpotensi masih besar terjadi delapan bulan ke depan. Apalagi dengan langkah Presiden Jokowi belum lama ini, tambah Sirojudin, dengan cawe-cawenya yang dinarasikan menjadi kekuatan perantara terciptanya kesepakatan antara partai politik dan capres demi kepentingan bangsa. Sampai saat ini Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto berada di depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Direktur Eksekutif Moya Institute Hery Sucipto menuturkan, masyarakat hanya berharap siapa pun yang terpilih dari tiga capres populer kini adalah putra terbaik bangsa yang diharapkan memberikan kontribusi besar untuk kemajuan Indonesia. \u201cApapun afiliasi politik masyarakat nanti dalam pemilu, maka penting dipandang bahwa persatuan dan kesatuan adalah hal utama,\u201d kata Hery.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Para kandidat calon presiden diminta menonjolkan narasi persatuan, agar bangsa ini secara kolektif&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":13582,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-14126","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14126","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14126"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14126\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14127,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14126\/revisions\/14127"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13582"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14126"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14126"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14126"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=14126"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}