{"id":14875,"date":"2023-08-01T11:48:01","date_gmt":"2023-08-01T11:48:01","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=14875"},"modified":"2023-08-01T11:48:02","modified_gmt":"2023-08-01T11:48:02","slug":"komunikolog-ungkap-diksi-bajingan-tolol-rocky-gerung-sangat-jauh-dari-keberadaban-komunikasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/08\/01\/komunikolog-ungkap-diksi-bajingan-tolol-rocky-gerung-sangat-jauh-dari-keberadaban-komunikasi\/","title":{"rendered":"Komunikolog Ungkap Diksi Bajingan-Tolol Rocky Gerung Sangat Jauh dari Keberadaban Komunikasi"},"content":{"rendered":"\n<p>JAKARTA \u2014 Komunikolog mengungkapkan bahwa terdapat penggunaan diksi Bajingan-Tolol yang sempat digunakan oleh Rocky Gerung, yang mana hal itu sangat jauh dari keberadaban komunikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Komunikolog Indonesia, Emrus Sihombing menanggapi sebuah pernyataan yang viral di media sosial mengenai adanya penggunaan diksi Bajingan-Tolol yang dikemukakan oleh seseorang dan ditunjukkan pada orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, hal tersebut meski bagaimanapun status sosial orang tersebut, menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak mengindahkan aksiologi komunikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan, Emrus menilai bahwa pesan demikian adalah pola komunikasi yang sangat jauh dari keberadaban komunikasi dan akal sehat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dirinya kemudian berpesan bahwa hendaknya pesan komunikasi apabila sudah dilontarkan ke ruang publik, harusnya rasional, bermanfaat dan tetap menjaga akan keberadaban komunikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pernyataan tersebut menanggapi bagaimana beberapa waktu lalu pengamat politik Rocky Gerung sempat memberikan kritik yang menggebu kepada Presiden Jokowi dalam sebuah kesempatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Rocky bahkan menuding bahwa Kepala Negara terus berupaya untuk bisa mempertahankan legacy yang dia miliki.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Begitu Jokowi kehilangan kekuasaanya dia jadi rakyat biasa, enggak ada yang peduli nanti. Tetapi Jokowi ambisi Jokowi adalah mempertahankan legacy-nya,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian, terdapat diksi yang kemudian menjadi persoalan dan sama sekali tidak beradab ketika pengamat politik itu menuding Presiden RI ketujuh hanya mencari kejelasan akan nasibnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Dia menawarkan IKN, mondar-mandir ke koalisi, untuk mencari kejelasan nasibnya, dia mikirin nasibnya bukan nasib kita, itu bajingan yang tolol, sekaligus bajingan pengecut,&#8221; imbuh Rocky.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan adanya pernyataan itu, Ketua Cyber Indonesia, Muannas Alaidid langsung berkomentar dan mempertanyakan apakah boleh menggunakan diksi demikian kepada pemimpin negara.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Boleh ya bilang presiden kita; bajingan tolol @DivHumas_Polri,&#8221; tulisnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Pegiat Media Sosial, Denny Siregar juga turut berkomentar dan menyebut bahwa ungkapan dari Rocky Gerung itu jelas sudah melewati batas.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cRocky Gerung kali ini sangat offside,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya bahkan ungkapan yang dikemukakan oleh filsuf tersebut sudah termasuk ke dalam penghinaan presiden.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni penghinaan terhadap Presiden,\u201d ujar Denny.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak juga respon lain yang berdatangan dari para warganet di jagat maya yang mengungkapkan bahwa apabila terdapat orang yang menghina presiden, berarti sama dengan menghina pemilihnya.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Menghina presiden sama aja menghina rakyat yang memilihnya,&#8221; imbuh warganet lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Warganet lain juga terus mendorong agar Rocky Gerung bisa segera ditangkap oleh Polri.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Harus ditangkap nih orang dungu ini @DivHumas_Polri,&#8221; tulis warganet di kolom komentar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Komunikolog mengungkapkan bahwa terdapat penggunaan diksi Bajingan-Tolol yang sempat digunakan oleh Rocky Gerung,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":14872,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-14875","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14875"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14875\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14876,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14875\/revisions\/14876"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14875"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=14875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}