{"id":14929,"date":"2023-08-02T14:03:48","date_gmt":"2023-08-02T14:03:48","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=14929"},"modified":"2023-08-02T14:03:48","modified_gmt":"2023-08-02T14:03:48","slug":"komunikolog-kata-bajingan-tolol-tidak-mencerminkan-nilai-demokrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/08\/02\/komunikolog-kata-bajingan-tolol-tidak-mencerminkan-nilai-demokrasi\/","title":{"rendered":"Komunikolog: Kata \u201cBajingan-Tolol\u201d Tidak Mencerminkan Nilai Demokrasi"},"content":{"rendered":"\n<p>Pengamat politik Rocky Gerung menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai &#8220;bajingan tolol&#8221; dalam orasinya pada acara buruh di Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Umpatan dilontarkan dalam merespons kebijakan Jokowi dalam mengelola negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Dr. Emrus Sihombing Komunikolog Universitas Pelita Harapan menyebut, pernyataan Rocky Gerung tidaklah sesuai etika dan tidak berdasarkan atas nilai-nilai Pancasila. Menurutnya, umpatan tersebut tidak mencerminkan keberadaban sesuai asas Pancasila.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dKeberadaban sendiri sesuai dengan nilai-nilai yang ada di Indonesia termasuk etika, kesopanan dan menghargai orang lain. Saya melihat ada diksi yang muncul akhir pekan ini yang tidak tepat, inilah contoh demokrasi yang kebablasan seperti adanya diksi \u2018bajingan-tolol\u2019. Tentunya apa yang disampaikan dengan diksi itu sama sekali tidak pas,\u201d Ujarnya dalam salah satu acara stasiun televisi nasional, Rabu (02\/08\/2023).<\/p>\n\n\n\n<p>Dr. Emrus menjelaskan, kritik yang disuarakan oleh salah satu pengamat politik sangat tidak beretika dan mengandung unsur merendahkan orang lain. Tidak hanya merendahkan presiden tetapi juga merendahkan para pendengar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dMenurut pandangan saya, saya berpendapat bahwa itu adalah merendahkan orang lain. Bukan hanya Presiden Jokowi, namun dia juga merendahkan para pemirsanya dan merendahkan dirinya sendiri. Padahal dalam konumikasi hendaknya kita harus berposisi egaliter dan ada kesetaraan\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dr. Emrus beranggapan bahwa diksi \u201dbajingan-tolol\u201d sangat tidak pantas untuk disebutkan dalam kritik. Ia beranggapan bahwa diksi tersebut sangat menghina Presiden dan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dDiksi-diksi yang dibangun oleh Rocky Gerung selama ini memposisikan bahwa dirinya superior dan orang lain inferior, orang lain lebih rendah dari dirinya, Selama ini dia juga terus mencari pembenaran. Padahal dalam KBBI, arti dari \u2018bajingan\u2019 adalah penjahat, apakah itu layak untuk ditujukan kepada Kepala Negara?\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dirinya melanjutkan, dalam kritik seharusnya ada unsur membangun bukan dalam bentuk hinaan. Kritik yang membangun adalah kritik yang sehat yang ditujukan terhadap programnya, bukan ditujukan kepada seseorang termasuk presiden.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dDari sudut komunikasi, hendaknya bisa mengemukakan fakta, data, dan kelemahannya, jangan sampai menyebut nama orangnya. Sebut saja programnya. Tetapi ketika sudah terucap kata \u2018tolol\u2019, itu sudah personal kan, tidak baik itu,\u201d ujar dia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dKritik yang dilakukan oleh Rocky Gerung sangat diluar adab. Harus kita bedakan keterbukaan komunikasi, tetapi kita tidak setuju dengan keterbukaan yang mendiskreditkan orang lain,\u201d lanjutnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dr. Emrus juga berpesan kepada generasi muda atau milenial untuk dapat menggunakan berbagai sumber informasi dengan arif dan bijak, jangan hanya berdasarkan dari satu sumber semata.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dKepada generasi muda kita, terutama kepada generasi milenial, tentang sesuatu hal akseslah dari berbagai sumber informasi dan jangan hanya dari satu sumber saja. Karena itu akan mencerdaskan pula,\u201d pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengamat politik Rocky Gerung menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai &#8220;bajingan tolol&#8221; dalam orasinya pada&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":14921,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-14929","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14929"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14929\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14930,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14929\/revisions\/14930"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14921"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14929"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=14929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}