{"id":16184,"date":"2023-09-14T04:53:31","date_gmt":"2023-09-14T04:53:31","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=16184"},"modified":"2023-09-14T04:53:32","modified_gmt":"2023-09-14T04:53:32","slug":"pbnu-tegaskan-tayangan-ganjar-dalam-adzan-di-tv-bukan-politik-identitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/09\/14\/pbnu-tegaskan-tayangan-ganjar-dalam-adzan-di-tv-bukan-politik-identitas\/","title":{"rendered":"PBNU Tegaskan Tayangan Ganjar dalam Adzan di TV Bukan Politik Identitas"},"content":{"rendered":"\n<p>JAKARTA \u2014 Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) menegaskan bahwa tayangan Ganjar Pranowo dalam adzan di televisi bukan merupakan sebuah praktik politik identitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, dirinya menjelaskan bahwa definisi dari politik identitas adalah ketika terjadi suatu \u2018penyerangan\u2019 terhadap tokoh, kandidat maupun kelompok dengan identitas suku, ras, gender maupun agama tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Politik identitas yang harus ditolak adalah mengapitalisasi perbedaan ras, etnis, gender, maupun agama untuk tujuan politik tertentu,&#8221; kata Gus Falah.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengenai adanya tampilan Ganjar Pranowo dalam tayangan adzan di stasiun televisi itu, menurut Ketua PBNU tersebut memang nyatanya sama sekali tidak ada serangan apapun terhadap identitas tokoh atau kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Senada, Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI, Saiful Rahmat Dasuki pun menilai bahwa tayangan yang menampilkan pria berambut putih itu dalam adzan sama sekali tidak masuk ke dalam kategori politik identitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Justru baginya, adzan itu merupakan bagian dari syiar agama.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kalau menurut saya nggak (masuk politik identitas),\u201d ujar Saiful.<\/p>\n\n\n\n<p>Terlebih, memang adzan sendiri merupakan bagian dari ritual yang wajar, yakni untuk peringatan waktu sholat sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena politik identitas sendiri menurut Wamenag baru terjadi apabila misalnya di sana dengan jelas disebutkan adanya identitas tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAdzan itu kan apa ya, bagian dari syiar aja, kecuali kalau memang identitasnya itu aku \u2018A\u2019 Anda \u2018B\u2019, atribut, itu kan (adzan) hanya bagian dari ritual yang wajar peringatan hari-hari,&#8221; kata Saiful.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Ketua Umum (Ketum) Sahabat Ganjar (Saga), Gus Nahib Shodiq menilai bahwa kemunculan pria kelahiran Kabupaten Karanganyar dalam tayangan adzan di televisi itu memang hanya sekedar menjadi ajakan untuk beribadah dan bermuatan dakwah.<\/p>\n\n\n\n<p>Pasalnya, dirinya menilai bahwa sejatinya sosok dari pribadi Ganjar Pranowo sendiri memang merupakan seorang yang religius dan taat menjalankan ibadah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBapak Ganjar adalah sosok yang religius dan taat dalam menjalankan ibadah seperti yang dilakukan dalam kesehariannya. Tidak ada yang salah. Ini merupakan dakwah dalam bentuk visual, ini merupakan ajakan untuk beribadah, dan ini bukan politik identitas,\u201d kata Gus Nahib.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan hanya religius, namun pria berusia 54 tahun itu dinilai merupakan figur dengan pribadi yang santun, merakyat dan juga sangat dekat dengan para ulama hingga santri. &#8220;Bapak Ganjar Pranowo dan istrinya Ibu Siti Atiqah sosok yang religius. Ibu Siti Atiqah itukan cucunya tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU), KH Hisyam A. Karim yang merupakan pendiri Pondok Pesantren PP Riyadus Sholikhin Kalijaran, Karanganyar, Purbalingga,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) menegaskan bahwa&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":16165,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-16184","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16184","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16184"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16184\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16185,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16184\/revisions\/16185"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16165"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16184"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16184"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16184"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=16184"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}