{"id":16222,"date":"2023-09-16T05:13:58","date_gmt":"2023-09-16T05:13:58","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=16222"},"modified":"2023-09-16T05:13:59","modified_gmt":"2023-09-16T05:13:59","slug":"survei-terbaru-smrc-ganjar-tetap-mampu-unggul-di-pilpres-2024","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/09\/16\/survei-terbaru-smrc-ganjar-tetap-mampu-unggul-di-pilpres-2024\/","title":{"rendered":"Survei Terbaru SMRC, Ganjar Tetap Mampu Unggul di Pilpres 2024"},"content":{"rendered":"\n<p>JAKARTA \u2014 Simulasi terbaru dari survei yang dilaksanakan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan bahwa Ganjar Pranowo tetap mampu unggul di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal tersebut merujuk kepada survei terbaru yang mereka rilis, yakni pada Kamis (14\/9) lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam survei itu, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan tersebut disimulasikan berpasangan dengan mantan Gubernur Provinsi Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil.<\/p>\n\n\n\n<p>Hasilnya, Ganjar dan Ridwan Kamil mampu mengantongi elektabilitas hingga 35,4 persen suara dukungan yang mengungguli calon lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendiri SMRC, Saiful Mujani sendiri bahkan mengaku bahwa suara dari Anies Baswedan dengan Muhaimin Iskandar sama sekali belum bisa menaikkan angka elektoral dari Anies.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cArtinya, ketika Anies berpasangan dengan Muhaimin, data ini menunjukkan suara Anies belum mengalami kenaikan,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai informasi, bahwa survei dari SMRC itu digelar pada periode tanggal 5 hingga 8 September 2023.<\/p>\n\n\n\n<p>Survei tersebut melibatkan hingga 1.212 responden yang dipilih melalui metode random digit dialing (RDD) atau pembangkitan nomor telepon secara acak.<\/p>\n\n\n\n<p>Margin of error yang terdapat dari data itu diperkirakan kurang lebih sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan hingga 95 persen.<\/p>\n\n\n\n<p>Pasalnya, dalam survei tersebut, pasangan Anies Muhaimin hanya mengantongi suara 16,5 persen saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengamat Politik dari Trias Politika, Agung Baskoro menilai bahwa adanya duet antara Ganjar Pranowo dengan Ridwan Kamil memang dinilai mampu saling melengkapi.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Duet Ganjar-RK saling melengkapi karena memiliki basis massa yang berbeda. Dalam konteks demografi, Ganjar punya ceruk di Jateng, sementara RK di Jabar,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, jika berbicara mengenai partai pengusung antar kedua tokoh itu, memang keduanya saling berbeda habitat politik lantaran PDI Perjuangan identik sebagai partai nasionalis kiri.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Golkar cenderung menggarap ceruk pemilih nasional (tengah)-catch all party,&#8221; ucap Agung.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelumnya, data dari lembaga riset Ipsos Indonesia juga menunjukkan bahwa sosok pemimpin berambut purih itu memiliki elektabilitas paling tinggi, yakni hingga sebesar 40,12 persen suara.<\/p>\n\n\n\n<p>Peneliti Senior Ipsos, Arif Nurul Imam menilai bahwa fenomena Ganjar rebound benar-benar terjadi dan membuatnya kini menjadi yang paling unggul.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHari ini, Ganjar Pranowo rebound naik menjadi bakal calon presiden yang paling unggul,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tingginya elektabilitas yang dimiliki oleh pemimpin kelahiran Kabupaten Karanganyar itu tentu tidak bisa dilepaskan dari bagaimana sosoknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis buku \u2018Membongkar Pikiran Ganjar\u2019, Hamid Basyaib menilai bahwa figur Ganjar Pranowo merupakan seorang pemimpin dengan pemikiran yang orisinil.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ganjar memiliki pemikiran yang orisinil dalam memahami kondisi masyarakat. Rekam jejak selama 10 tahun memimpin Jateng tidak ada masalah dari segi kebebasan berpolitik,&#8221; katanya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Simulasi terbaru dari survei yang dilaksanakan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":16102,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-16222","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16222","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16222"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16222\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16223,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16222\/revisions\/16223"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16102"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16222"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16222"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16222"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=16222"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}