{"id":16324,"date":"2023-09-20T06:45:53","date_gmt":"2023-09-20T06:45:53","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=16324"},"modified":"2023-09-20T06:45:53","modified_gmt":"2023-09-20T06:45:53","slug":"hindari-polarisasi-di-masyarakat-cegah-penyebaran-radikalisme-jelang-pemilu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/09\/20\/hindari-polarisasi-di-masyarakat-cegah-penyebaran-radikalisme-jelang-pemilu\/","title":{"rendered":"Hindari Polarisasi di Masyarakat, Cegah Penyebaran Radikalisme Jelang Pemilu"},"content":{"rendered":"\n<p>Hindari polarisasi di&nbsp;tengah&nbsp;masyarakat akan mampu untuk bisa mencegah kemungkinan peningkatan paham radikal, terlebih menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) pada tahun 2024 mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p>Narasi dan argumentasi yang berpotensi untuk mampu&nbsp;membawa&nbsp;pengaruh&nbsp;akan&nbsp;ideonogi&nbsp;yang&nbsp;berasal&nbsp;dari&nbsp;transnasional&nbsp;memang&nbsp;seringkalidihembuskan&nbsp;oleh para kelompok yang intoleran dan juga radikal di ruang publik.&nbsp;Untuk bisa menanggulangi adanya hal tersebut, menjadi sangat penting adanya&nbsp;peranan&nbsp;dari&nbsp;kelompok&nbsp;agamis&nbsp;yang&nbsp;moderat.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal&nbsp;tersebut&nbsp;dikarenakan&nbsp;kelompok&nbsp;agamis&nbsp;yang&nbsp;moderat&nbsp;memang&nbsp;harus mampu memberikan adanya kontra narasi yang mampu menyasar kepada semua kalangan, khususnya untuk para generasi muda, yang mana mereka merupakan generasi yang sedang mencari jati dirinya dan&nbsp;sangatlah&nbsp;mudah&nbsp;untukterindoktrinasi&nbsp;atau&nbsp;terkena&nbsp;cuci&nbsp;otak dari banyaknya narasi yang dibuat oleh propagandis kelompok radikal.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkait dengan hal itu, Co-founder Peace Generation, Irfan&nbsp;Amelee&nbsp;menjelaskan&nbsp;bahwa&nbsp;frekuensiakan partisipasi para anak muda memang harus jauh ditingkatkan dan menjadi lebih sering lagi.&nbsp;Lantaran,&nbsp;algoritma&nbsp;yang&nbsp;bekerja&nbsp;dalam&nbsp;mesin pencarian di internet atau ruang digital memang akan selalu memprioritaskan sesuatu yang banyak serta sering diterbitkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sehingga, jumlah konten untuk melakukan kontra narasi sendiri memang hendaknya harus bisa jauh lebih banyak. Karena&nbsp;jika&nbsp;diibaratkan&nbsp;sebagai&nbsp;sebuah&nbsp;wadah, maka apabila telah dimasukkan setitik zat pewarna saja, maka untuk bisa membersihkannya kembali diperlukan air jernih dengan jumlah yang jauh lebih banyak lagi dari sebelumnya sehingga air dalam wadah itu bisa kembali jernih.<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, persoalan pun terus datang dan menjadi semakin kompleks, pasalnya karakteristik dari para generasi muda penerus bangsa Indonesia justru sering dihadapkan pada berbagai macam perdebatan yang sama sekali tidak produktif di dunia maya. Sebagai salah satu contoh adalah mengenai perdebatan benar atau salah, halal atau haram saja,&nbsp;hingga&nbsp;Pancasila&nbsp;atau&nbsp;khilafah&nbsp;dan lain&nbsp;sebagainya&nbsp;perdebatan yang kurang produktif sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari momentum dan karena telah membaca situasi&nbsp;demikian,&nbsp;maka&nbsp;justru&nbsp;dmanfaatkan&nbsp;dengan&nbsp;sangat&nbsp;baikoleh para kelompok yang intoleran dan radikal sehingga mereka mampu terus tidak mengenal lelah berupaya menggambarkan bahwa seolah-olah Pancasila sebagai suatu&nbsp;kemunduran&nbsp;bangsa&nbsp;dan&nbsp;khilafah&nbsp;adalah&nbsp;solusiterbaiknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Kepala&nbsp;Detasemen&nbsp;Khusus(Densus) 88,&nbsp;Marthinus&nbsp;Hokum mengatakan bahwa menjelang pelaksanaan pesta demokrasi dan kontestasi politik dalam gelaran Pemilihan Umum (Pemilu) pada tahun 2024 mendatang, memang tensi politik yang meninggi serta adanya fenomena kasus polarisasi yang terjadi di tengah masyarakat justru akan semakin meningkatkan potensi akan penyebaran paham radikal hingga terorisme semakin menjamur.<\/p>\n\n\n\n<p>Terlebih, ketika misalnya narasi tersebut didampingi dengan adanya praktik politik&nbsp;identitas&nbsp;denganmengusung&nbsp;seara&nbsp;sengaja&nbsp;akan&nbsp;identitas&nbsp;parsial dari salah satu kandidat calon yang hendak maju dalam kontestasi Pemilu. Karena jika cara demikian terus digunakan, maka akan terjadi sebuah perang identitas, lantaran pihak tertentu yang intoleran dan radikal akan dengan sengaja melihat dan memandang kelompok identitas lain berada di bawah derajat&nbsp;mereka&nbsp;atausecara&nbsp;inferoir&nbsp;dan&nbsp;hanya&nbsp;kelompok&nbsp;mereka saja yang berada di atas serta paling benar atau menjadi superior.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk bisa terus mengantisipasi berbagai macam kemungkinan&nbsp;tersebut,&nbsp;kemudian&nbsp;pihak&nbsp;Densus&nbsp;88&nbsp;sendiri&nbsp;telah&nbsp;memiliki komitmen yang sangat kuat untuk mampu menganalisis intelijen guna bisa mencegah adanya berbagai kelompok yang ingin memanfaatkan situasi akan ketegangan politik di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai macam prinsip dan strategi telah&nbsp;dikantongi&nbsp;oleh&nbsp;pihak&nbsp;Densus&nbsp;88&nbsp;sehingga&nbsp;merakamampu melakukan analisis intelijen. Pertama adalah dari database yang ada, kemudian cara kedua adalah dari bagaimana sejarah&nbsp;Pemilihan&nbsp;Presiden&nbsp;(Pilpres) yang&nbsp;ada. Sehingga pihak Detasemen Khusus 88 menegaskan bahwa mereka akan mengantisipasi sejumlah tokoh yang memang seringkali menggunakan banyak isu akan politik identitas dan juga isu lainnya yang justru dapat memantik kemunculan radikalisme hingga terorisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena sebenarnya dengan adanya pesta demokrasi sendiri seharusnya hal tersebut secara murni memang digunakan untuk bisa melakukan pemilihan pemimpin yang terbaik, justru bukan untuk membentuk adanya polarisasi dan pecah belah di tengah masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).<\/p>\n\n\n\n<p>Seluruh elemen masyarakat dari berbagai kalangan dan latar belakang pun&nbsp;hendaknya&nbsp;mampu untuk menghindari adanya penggunaan identitas secara parsial tersebut, karena dengan adanya praktik demikian yang terus dilakukan, maka sudah bisa dipastikan akan semakin membentuk adanya polarisasi di&nbsp;tengah&nbsp;masyarakat. Tentunya seluruh hal itu menjadi tanggung jawab dari seluruh elemen untuk bisa menjaganya secara bersama.<\/p>\n\n\n\n<p>Menjelang pelaksanaan Pemilu 2024 mendatang, memang peningkatan akan paham dan penyebaran radikal serta terorisme menjadi cukup signifikan terjadi. Sehingga salah satu cara dan langkah yang efektif untuk bisa mencegahnya adalah dengan&nbsp;terusmenciptakan&nbsp;situasi&nbsp;kamtibmas&nbsp;yang&nbsp;kondusif&nbsp;danmenghindari apapun yang berpotensi menyebabkan polarisasi di tengah masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hindari polarisasi di&nbsp;tengah&nbsp;masyarakat akan mampu untuk bisa mencegah kemungkinan peningkatan paham radikal, terlebih menjelang pelaksanaan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":16213,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-16324","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16324","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16324"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16324\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16325,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16324\/revisions\/16325"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16213"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16324"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16324"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16324"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=16324"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}