{"id":16387,"date":"2023-09-22T14:38:48","date_gmt":"2023-09-22T14:38:48","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=16387"},"modified":"2023-09-22T14:38:48","modified_gmt":"2023-09-22T14:38:48","slug":"benny-wenda-dan-ulmwp-bukan-wakil-masyarakat-papua-di-ktt-msg-papua-bagian-integral-nkri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/09\/22\/benny-wenda-dan-ulmwp-bukan-wakil-masyarakat-papua-di-ktt-msg-papua-bagian-integral-nkri\/","title":{"rendered":"Benny Wenda dan ULMWP Bukan Wakil Masyarakat Papua di KTT MSG, Papua Bagian Integral NKRI"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Jakarta \u2013 Pemerhati Isu-Isu Strategis dan Global, Prof. Imron Cotan menilai capaian yang dilakukan Indonesia di KTT MSG sangat baik. Hal itu diutarakannya dalam Webinar Nasional Moya Institute bertema \u201cUpaya Benny Wenda Kandas di KTT Melanesian Spearhead Group (MSG), Jumat (22\/09) sore.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, sebagian besar kasus pelanggaran HAM dilakukan oleh Kelompok Separatis dan Teroris Papua (KSTP), bukan oleh aparat keamanan dan juga konflik sosial sesama orang Papua.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJadi mitos jika pelanggaran HAM berat dilakukan oleh aparat keamanan. Kebanyakan pemberitaan di media sosial tentang Papua tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Benny Wenda dan Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), lanjutnya, tidak mewakili sebagian besar masyarakat di Papua, karena ketujuh suku besar di sana sama sekali tidak terwakili oleh Benny.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof Imron mengatakan pihaknya mengetahui persis perkembangan isu Papua di kelompok negara MSG, dan dengan tegas menyatakan bahwa telah terjadi pergantian paradigma negara-negara itu ketika melihat isu Papua dari hal lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Narasumber lain, Prof. Dr. Teuku Rezasyah selaku Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Bandung, menilai Indonesia perlu tegas terhadap pihak asing agar Tanah Air bisa bebas dari berbagai kejahatan, termasuk bebas dari kejahatan peradaban Papua, kejahatan sibel, perdagangan manusia dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, pembangunan di Papua harus bisa dilakukan oleh pemerintah secara berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHarus ada fokus yang kuat untuk bisa benar-benar mempertahankan kedaulatan Indonesia dan hal itu merupakan sesuatu yang penting serta terus bisa didukung oleh semua pihak. Maka dari itu pembangunan harus secara sistematis dan termasuk mengajak masyarakat Papua sendiri,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Ketua Badan Musyawarah Papua, Willem Frans Ansanai selaku putra daerah Papua menilai kedaulatan NKRI akan tetap utuh meskipun Benny Wenda masih terus mengupayakan kemerdekaan Papua.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSetelah DOB direspon oleh Presiden Jokowi dan saat ini terlaksana dengan baik, masyarakat Papua sangat semangat dalam pembangunan itu. Bahkan KTT MSG lalu tidak terlalu muncul di masyarakat Papua sendiri,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Willem menilai bahwa upaya yang dibangun Benny Wenda dengan kelompoknya di dunia internasional sangat mengganggu bagi NKRI. Namun, dirinya melihat kerja Benny Wenda tidak akan berdampak pada Papua.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya mempunyai keyakinan kuat bahwa penyelesaian Papua sudah clear, dari segi historis hingga sisi pembenahan Papua, negara kita sangat concern dan pelaksanaannya mengalami progress baik,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dirinya juga menilai pelaksanaan KTT MSG merupakan prestasi luar biasa dari diplomasi Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya sangat optimis ada seruan dari kelompok separatis, dan saya menyatakan Papua adalah bagian NKRI, akan ada penolakan negara-negara MSG. Catatan saya bagi Papua, selain kita harus menghadapi kelompok ini, kita harus tahu bahwa Benny Wenda adalah narapidana dan melakukan upayanya dengan membangun semangat gerakan Papua Merdeka,\u201d lanjutnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada kesempatan sama, Politikus Reformasi, Mahfuz Sidik mengungkapkan bahwa semua pihak perlu memberi apresiasi kepada delegasi Indonesia di forum MSG yang mengambil langkah tegas dan tepat dengan walk out ketika Benny Wenda menyampaikan pidatonya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSikap itu yang mempengaruhi keputusan akhir dari KTT MSG. Karena dari MSG ada beberapa pihak yang terus mendorong dan mencari celah untuk mendukung ULMWP,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, semua sudah sepakat bahwa jika berbicara tentang isu ini, hanyalah kelompok kecil yang sebagiannya tidak berdomisili di Papua, serta terus mengeluarkan ide tentang separatisme dan mencari jalan, bukan hanya manuver secara domestik namun diplomasi internasional agar mendapat banyak dukungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia dan Papua, tambahnya, menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Seluruh pihak harus bekerja sama memajukan pembangunan serta mengakselerasi peningkatan kemajuan di Papua.<\/p>\n\n\n\n<p>Senada, Direktur Eksekutif Moya Institute, Hery Sucipto mengatakan bagaimanapun Papua tidak terpisahkan dari NKRI.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKarena itu menjadi kewajiban dan hak kita semua untuk mempertahankan dari segala rongrongan ataupun upaya untuk memisahkan diri,\u201d pungkasnya. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Pemerhati Isu-Isu Strategis dan Global, Prof. Imron Cotan menilai capaian yang dilakukan Indonesia&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":16376,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-16387","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16387","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16387"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16387\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16388,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16387\/revisions\/16388"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16376"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16387"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16387"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16387"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=16387"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}