{"id":16424,"date":"2023-09-24T06:48:54","date_gmt":"2023-09-24T06:48:54","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=16424"},"modified":"2023-09-24T06:48:55","modified_gmt":"2023-09-24T06:48:55","slug":"berhasil-tangani-angka-kemiskinan-di-jateng-ganjar-optimis-mampu-wujudkan-indonesia-emas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/09\/24\/berhasil-tangani-angka-kemiskinan-di-jateng-ganjar-optimis-mampu-wujudkan-indonesia-emas\/","title":{"rendered":"Berhasil Tangani Angka Kemiskinan di Jateng, Ganjar Optimis Mampu Wujudkan Indonesia Emas"},"content":{"rendered":"\n<p>JAKARTA \u2014 Tidak bisa dipungkiri bahwa memang selama kepemimpinannya menjabat sebagai Gubernur di Jateng dua periode terakhir, Ganjar Pranowo mampu mengentaskan hingga 1 juta orang miskin.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan adanya capaian luar biasa dari Ganjar Pranowo tersebut juga mendapatkan apresiasi tinggi dari banyak pihak.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satunya, Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahardiansyah menilai bahwa torehan yang dicetak oleh Capres dari PDI Perjuangan itu sangat tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan, capaian tersebut bisa terus dibawa dan ditingkatkan secara nasional untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat Tanah Air.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kalau saya lihat dari capaian itu sangat tinggi, dalam arti dianggap berhasil meskipun dalam konteks itu perlu diformulasi lagi untuk peningkatan lebih baik. Artinya tidak hanya 1 juta, misal ditingkatkan lagi jadi 2 juta, sehingga kemiskinan itu hilang,&#8221; kata Trubus.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno menjelaskan bahwa keberhasilan penurunan angka kemiskinan di Jateng tentunya merupakan hasil dari kolaborasi pemerintah dengan banyak pihak lain termasuk sektor nonpemerintah.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk melakukan percepatan penanggulangan kemiskinan itu, pihak Pemprov Jateng juga terus mengoptimalkan berbagai sumber pendanaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan hanya dari APBD saja, melainkan juga menggali potensi dari kalangan industri dengan adanya CSR, Baznas dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBagaimana kita menangani kemiskinan di Jateng jauh menjadi lebih efektif dan efisien, serta mengalami penurunan yang cepat,\u201d harap Sumarno.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada kesempatan lain, Ganjar Pranowo sendiri mengungkapkan bahwa pengentasan kemiskinan itu merupakan salah satu capaian untuk menuju Indonesia Emas pada tahun 2045.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ada tujuh kemudian yang mesti kita sampaikan, membangun SDM produktif. Stablisasi harga pokok yang mesti kita lakukan. Kemiskinan mesti dihapus, setidaknya yang ekstrem, mesti nol. Kerjaan sudah dimulai,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, pemimpin berambut putih tersebut juga mengungkapkan strategi yang harus dilakukan, yakni dengan memperkuat jaringan pengaman sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian ada pula hilirisasi menuju industri kelas dunia dan upaya untuk mengembalikan alam Indonesia menjadi jauh lebih baik lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ganjar Pranowo sangat optimis bahwa Indonesia mampu untuk menjadi negara dengan ekonomi yang besar, diantaranya dengan mewujudkan Tanah Air yang semakin makmur, sehat, lebih pintar dan kian produktif.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam menyukseskan seluruh hal tersebut, menurutnya diperlukan tiga pondasi seperti digitalisasi dalam pemerintahan, membasmi korupsi dan melipatgandakan anggaran negara untuk mewujudkan pelayanan berkualitas.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Tingkatkan nilai tambah infrastruktur yang hari ini sudah dibangun pemerintah sebagai pondasi yang kuat,&#8221; pungkas Ganjar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Tidak bisa dipungkiri bahwa memang selama kepemimpinannya menjabat sebagai Gubernur di Jateng dua&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":16099,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-16424","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16424","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16424"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16424\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16425,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16424\/revisions\/16425"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16099"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16424"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16424"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16424"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=16424"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}