{"id":16527,"date":"2023-09-29T05:02:30","date_gmt":"2023-09-29T05:02:30","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=16527"},"modified":"2023-09-29T05:02:31","modified_gmt":"2023-09-29T05:02:31","slug":"ganjar-komitmen-tingkatkan-peluang-pekerjaan-bagi-disabilitas-dan-siapkan-sekolah-inklusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/09\/29\/ganjar-komitmen-tingkatkan-peluang-pekerjaan-bagi-disabilitas-dan-siapkan-sekolah-inklusi\/","title":{"rendered":"Ganjar Komitmen Tingkatkan Peluang Pekerjaan bagi Disabilitas dan Siapkan Sekolah Inklusi"},"content":{"rendered":"\n<p>JAKARTA \u2014 Ganjar Pranowo memiliki komitmen yang sangat kuat dalam meningkatkan peluang pekerjaan bagi para kaum penyandang disabilitas dan juga mempersiapkan sekolah inklusi untuk mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Pernyataan tersebut dikemukakan dalam acara temu kangen dengan disabilitas di Jakarta Timur, yang mana dirinya memaparkan mengenai gagasan pentingnya terkait pemberian kuota khusus dalam pemerintahan dan juga perusahaan untuk disabilitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut pemimpin berambut putih itu, dengan adanya pemberian kuota khusus pekerjaan tersebut, jelas akan bisa semakin mendukung inklusi sosial dan ekonomi bagi para disabilitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, Ganjar Pranowo juga menekankan bahwa hendaknya pemerintah harus mampu mengambil tindakan secara afirmatif dengan memberikan kuota pekerjaan secara khusus bagi disabilitas.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ya harus ada afirmasi. Maka umpama dalam ketenagakerjaan, mesti ada kewajiban perusahaan, pemerintah, kalau perlu dikasih kuota. Inilah tindakan afirmasi agar mereka (disabiltas) bisa bekerja,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain mengenai kuota pekerjaan, pemimpin berusia 54 tahun itu juga memandang sangat penting adanya persiapan akan sumber daya manusia (SDM) dari kalangan disabilitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Upaya untuk peningkatan SDM tersebut melibatkan adanya pelatihan dan juga peningkatan keterampilan agar penyandang disabilitas mampu dipersiapkan dalam mengisi posisi yang tersedia.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Nah, kita bisa menyiapkan mereka agar mereka juga siap. Jadi ketemu, yang disini (pemerintah\/perusahaan) dipaksa dengan aturan untuk memberikan kuota, yang sebelah sini (kaum disabilitas) disiapkan untuk dilatih agar nanti bisa mengisi kuota,&#8221; kata Ganjar.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan adanya gagasan dan komitmen kuat tersebut, kemudian mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari pendamping kaum disabilitas di Jakarta Timur, Mustar Bona Ventura.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia menyampaikan bahwa memang selama ini, rekam jejak yang ditunjukkan oleh Ganjar Pranowo sama sekali bukan seorang pemimpin yang pilih kasih.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cFigur Pak Ganjar 10 tahun di Jateng kita amati, ini orang yang betul-betul tidak pilih kasih, kepedulian Pak Ganjar terhadap disabilitas itu langsung betul-betul nyata, mempekerjakan, melatih, dan lebih penting tidak ada jarak,\u201d ungkap Mustar.<\/p>\n\n\n\n<p>Gagasan cemerlang yang dimiliki oleh sosok pemimpin kelahiran Kabupaten Karanganyar itu dalam menyejahterakan penyandang disabilitas juga kemudian mendatangkan doa serta harapan besar dari para disabilitas kepada sosoknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu penyandang disabilitas, Reza Fahmi (40) berharap agar para penyandang disabilitas mampu mendapatkan perhatian dari pemerintah, utamanya terkait dengan pekerjaan, akses pendidikan, pelatihan dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan hanya itu, mereka juga mendoakan supaya Ganjar Pranowo mampu menjadi pemimpin masa depan bangsa yang mampu peduli pada kelompok disabilitas.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Banyak di antara kami yang menganggur karena sulit mendapatkan pekerjaan. Banyak perusahaan yang tidak mau menerima peyandang disabilitas untuk bekerja,&#8221; kata Reza.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Ganjar Pranowo memiliki komitmen yang sangat kuat dalam meningkatkan peluang pekerjaan bagi para&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":16288,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-16527","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16527","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16527"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16527\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16528,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16527\/revisions\/16528"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16288"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16527"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16527"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16527"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=16527"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}