{"id":17758,"date":"2023-10-20T04:37:56","date_gmt":"2023-10-20T04:37:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=17758"},"modified":"2023-10-20T04:37:57","modified_gmt":"2023-10-20T04:37:57","slug":"survei-umm-terbaru-tunjukkan-elektabilitas-ganjar-pranowo-menang-telak-di-jawa-timur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/10\/20\/survei-umm-terbaru-tunjukkan-elektabilitas-ganjar-pranowo-menang-telak-di-jawa-timur\/","title":{"rendered":"Survei UMM Terbaru Tunjukkan Elektabilitas Ganjar Pranowo Menang Telak di Jawa Timur"},"content":{"rendered":"\n<p>MALANG \u2014 Hasil survei dari Pusat Studi Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terbaru menunjukkan bahwa elektabilitas dari Ganjar Pranowo menang telak di Provinsi Jawa Timur pada Pilpres 2024 mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Tim Survei Pusat Studi Ilmu Politik UMM, Rully Inayah Ramadhan mengatakan bahwa angka elektoral yang dimiliki oleh Capres yang diusung oleh PDI Perjuangan tersebut berhasil mengungguli kandidat lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Diketahui bahwa Ganjar Pranowo unggul dengan perolehan suara hingga sebesar 42,8 persen, yang mana juga menandakan bahwa elektabilitasnya terus naik dalam kurun dua bulan terakhir ini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNaik 0,5 persen ketimbang survei Juni lalu,\u201d ucap Rully.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika dilihat dari penyebaran wilayahnya, mantan Gubernur Jateng itu mampu unggul di wilayah Mataraman 54,6 persen dan wilayah Arek 47,9 persen. Bahkan di kalangan santri hingga non-santri, ternyata pemimpin berambut putih itu juga tetap unggul.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ganjar populer di kalangan santri dengan 38,8% memilih kader PDIP tersebut. Namun, di kalangan non-santri, Ganjar pun kembali unggul dengan 43,3%,&#8221; kata Rully.<\/p>\n\n\n\n<p>Para pemilih dari NU dan Muhammadiyah pun menjatuhkan pilihan mereka pada pasangan Ganjar-Mahfud.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Dari data itu, responden yang berafiliasi NU dan Muhammadiyah cenderung memilih Ganjar Pranowo,&#8221; kata dia.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Pengamat Politik Ali Armunanto mengatakan bahwa elektabilitas Ganjar Pranowo dengan menjadikan Mahfud MD sebagai Cawapresnya terus meningkat.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Saya memprediksi dengan ini posisi Ganjar akan naik lagi,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada kesempatan lain, Pengamat Politik dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, I Nyoman Subanda memuji langkah Parpol pimpinan Megawati Soekarnoputri itu dengan penunjukan Menko Polhukam sebagai Cawapres yang mereka usung.<\/p>\n\n\n\n<p>Pasalnya, dengan keberadaan Mahfud MD, maka elektabilitas dari Ganjar Pranowo semakin meroket.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kali ini PDIP sangat cerdas, dasar pertimbangannya karena Mahfud paket lengkap dan nasionalis,&#8221; kata Subanda.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai contoh, menurut pengamat tersebut, angka elektoral duet Ganjar-Mahfud di Bali langsung meningkat hingga 60 persen.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, keberadaan mantan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) itu juga mampu berkontribusi untuk merebut suara dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), utamanya di Jawa dan Madura.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pak Mahfud sangat mendongkrak tingkat eletabilitas Ganjar di kalangan akademisi, cendikiawan, dan aktivis,&#8221; kata Subanda.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, menurut pengamat politik Undiknas itu bahwa duet antara Ganjar Pranowo dengan Mahfud MD jelas merupakan paket yang sangat lengkap dan mampu semakin memperluas dukungan bahkan dari berbagai kalangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Terlebih, sosok pria kelahiran Sampang, Madura tersebut juga merupakan seorang tokoh bangsa yang sangat berpengalaman.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Mahfud MD punya nilai lebih, paket lengkap untuk saat ini. Akademisi, politisi, birokrat, dan juga berpengalaman di DPR dan MK,&#8221; ungkap Subanda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MALANG \u2014 Hasil survei dari Pusat Studi Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terbaru menunjukkan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":17493,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-17758","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17758","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17758"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17758\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17759,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17758\/revisions\/17759"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17493"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17758"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17758"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17758"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=17758"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}