{"id":17844,"date":"2023-10-24T05:27:11","date_gmt":"2023-10-24T05:27:11","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=17844"},"modified":"2023-10-24T05:27:11","modified_gmt":"2023-10-24T05:27:11","slug":"mampu-kembangkan-industri-kreatif-seniman-dan-budayawan-sebut-duet-ganjar-mahfud-pasangan-ideal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/10\/24\/mampu-kembangkan-industri-kreatif-seniman-dan-budayawan-sebut-duet-ganjar-mahfud-pasangan-ideal\/","title":{"rendered":"Mampu Kembangkan Industri Kreatif, Seniman dan Budayawan Sebut Duet Ganjar-Mahfud Pasangan Ideal"},"content":{"rendered":"\n<p>JAKARTA &#8211; Dinilai mampu mengembangkan industri kreatif, seniman dan budayawan menyebut bahwa duet Ganjar-Mahfud merupakan pasangan yang ideal.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal tersebut dikemukakan oleh Adi Kla Project, yang mengaku sangat bersyukur dengan kemunculan pasangan yang dideklarasikan oleh PDI Perjuangan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ini pasangan ideal, karena kami seniman terbiasa dengan idealisme,&#8221; tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dirinya juga menitipkan harapan besar kepada pasangan tersebut untuk bisa terus mengembangkan ekonomi kreatif.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Anggaran untuk ekonomi kreatif kecil sekali. Padahal Indonesia punya talenta yang tak terhitung. Kami titipkan kepada Pak Ganjar-Mahfud,&#8221; ujar Adi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Butet Kertaradjasa menilai bahwa Cawapres yang dimiliki oleh Ganjar Pranowo kali ini jelas bukan merupakan boneka ataupun ban serep semata.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Saya yakin, kalau Pak Mahfud jadi Wapres, jelas bukan ban serep apalagi boneka,&#8221; tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa diantara seniman dan budayawan yang berkumpul tersebut, terdapat Cak Lontong yang mengaku bahwa dirinya sudah lama mengawal dan mengenal sosok Ganjar-Mahfud.<\/p>\n\n\n\n<p>Baginya, dengan kepemimpinan pasangan duet tersebut akan menjadikan seniman mampu tetap berkomedi tanpa tekanan.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kami mewakili seniman, ingin tetap berkomedi yang tanpa tekanan dan rileks. Jadi Pemilu juga harus rileks,&#8221; tutur Cak Lontong.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian menjawab mengenai bagaimana bisa menghadapi tantangan akan industri kreatif, Ganjar menyampaikan bahwa penciptaan lapangan kerja pada ekonomi kreatif jelas membutuhkan investasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka dari itu, menurutnya harus ada perizinan yang mudah dan tidak berbelit.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Harus tanpa pungli dan birokrasi yang ruwet. Kepastian hukum juga wajib jelas,&#8221; cetus mantan Gubernur Jawa Tengah dua periode itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada kesempatan yang sama, Mahfud MD menjelaskan mengenai bagaimana keadilan dan penegakan hukum.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, untuk bisa mencapai hal tersebut maka memerlukan pendekatan secara konseptual atau isi aturan, kemudian aparat keamanan hingga budaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Baginya, terkait dengan isi aturan cenderung mudah untuk diperbaiki, namun yang menjadi tantangan adalah bagaimana aparat penegak hukum dan juga birokrasi serta budayanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mahfud MD menilai bahwa kini di semua level sudah rusak dan sering terjadi mafia, bahkan marak akan adanya transaksi gelap dan praktik Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN).<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal pada level tersebut sebenarnya sangat krusial untuk pengembangan investasi di dunia ekonomi kreatif. Sehingga kebijakan pada level atas harus dilakukan untuk penegakan kepastian dalam izin proses investasi.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Karena yang sering, tumpang tindih, kisruh. Ditambah hukumnya tumpul karena menyangkut orang kuat dan pejabat. Nah, yang ke bawah, rakyat kecil, harus diberi perlindungan,&#8221; pungkas Mahfud MD.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Dinilai mampu mengembangkan industri kreatif, seniman dan budayawan menyebut bahwa duet Ganjar-Mahfud merupakan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":17794,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-17844","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17844","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17844"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17844\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17845,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17844\/revisions\/17845"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17794"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17844"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17844"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17844"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=17844"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}