{"id":18011,"date":"2023-10-31T08:38:52","date_gmt":"2023-10-31T08:38:52","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=18011"},"modified":"2023-10-31T08:38:52","modified_gmt":"2023-10-31T08:38:52","slug":"rekam-jejak-konkret-pengamat-ui-nilai-ganjar-mahfud-mampu-pertegas-penegakan-kasus-ham-tanah-air","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/10\/31\/rekam-jejak-konkret-pengamat-ui-nilai-ganjar-mahfud-mampu-pertegas-penegakan-kasus-ham-tanah-air\/","title":{"rendered":"Rekam Jejak Konkret, Pengamat UI Nilai Ganjar-Mahfud Mampu\u00a0Pertegas\u00a0Penegakan\u00a0Kasus\u00a0HAM\u00a0Tanah Air"},"content":{"rendered":"\n<p>JAKARTA \u2014 Memiliki rekam jejak yang sangat konkret, Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI)&nbsp;Ade Reza Hariyadi&nbsp;menilai bahwa pasangan Ganjar-Mahfud mampu semakin mempertegas bagaimana penegakan kasus pelanggaran HAM di Tanah Air.<\/p>\n\n\n\n<p>Ade&nbsp;menilai bahwa pasangan Capres dan Cawapres yang dideklarasikan oleh koalisi PDI Perjuangan itu akan bisa mengatasi seluruh catatan buruk&nbsp;pemerintah sebelumnya mengenai penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).<\/p>\n\n\n\n<p>Pasalnya&nbsp;sejauh ini kontribusi yang dimiliki oleh Mahfud MD selaku pasangan Ganjar Pranowo sudah sangat terbukti dari kinerjanya sebagai Menko Polhukam RI.&nbsp;Bukan hanya di dalam ranah peradilan saja, melainkan peranan dari pria kelahiran Sampang, Madura itu juga banyak sekali di luar peradilan terhadap para korban kasus HAM.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Seperti memulihkan reputasi, meningkatkan kondisi ekonomi, menyediakan perumahan, dan mengembalikan hak-hak bagi mereka yang sebelumnya terlantar di luar negeri pada masa Orde Lama,&#8221; kata Ade.<\/p>\n\n\n\n<p>Senada, Pakar Hukum Pidana, Chairul Huda juga menilai bahwa duet Capres-Cawapres tersebut juga akan bisa menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia, terlebih karena terdapat sosok mantan Hakim MK yang juga merupakan ahli hukum Tanah Air.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, Ganjar-Mahfud juga telah berjanji akan memperkuat adanya penerapan restorative justice, yang mana menurut Huda merupakan langkah yang baik untuk mewujudkan perbaikan hukum.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Masalah&nbsp;<em>restorative justice<\/em>, menurut saya, bukan hanya tentang pelaksanaan di pemerintahan, melainkan juga pada aspek legislasi yang masih perlu diperkuat,\u201d katanya<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOleh karena itu, visi dan misi mereka, terutama dalam hal penguatan regulasi, harus fokus pada upaya tersebut, bukan hanya pada pelaksanaannya,&#8221; imbuh pakar tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Terlebih, pasangan Ganjar-Mahfud sendiri juga telah memiliki komitmen yang sangat kuat untuk bisa menyelesaikan berbagai isu pelanggaran HAM di masa lampau.<\/p>\n\n\n\n<p>Komitmen tersebut bahkan juga telah masuk secara integral pada visi-misi mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kami akan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Kami akan terus berjuang untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM secara adil.&#8221; kata mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelumnya,&nbsp;<a><\/a>Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Amnesty International Indonesia (AII) memberikan rapor mera kepada situasi HAM selama pemerintahan Jokowi dan Ma\u2019ruf Amin.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam laporan itu terdapat 211 proyek dan 13 program utama dari pemerintahan Jokowi yang telah menyebabkan insiden kekerasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka dari itu Pengamat dari UI, Ade Reza menilai bahwa Mahfud MD jelas berpotensi untuk mengubah seluruh situasi buruk tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Mahfud memiliki potensi untuk mengubah situasi yang buruk ini,\u201d pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Memiliki rekam jejak yang sangat konkret, Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI)&nbsp;Ade Reza&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":17975,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-18011","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18011","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18011"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18011\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18012,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18011\/revisions\/18012"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17975"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18011"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18011"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18011"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=18011"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}