{"id":18444,"date":"2023-11-22T01:37:43","date_gmt":"2023-11-22T01:37:43","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=18444"},"modified":"2023-11-22T01:37:44","modified_gmt":"2023-11-22T01:37:44","slug":"tokoh-pemuda-papua-puji-komitmen-presiden-jokowi-wujudkan-kedaulatan-pangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2023\/11\/22\/tokoh-pemuda-papua-puji-komitmen-presiden-jokowi-wujudkan-kedaulatan-pangan\/","title":{"rendered":"Tokoh Pemuda Papua Puji Komitmen Presiden Jokowi Wujudkan Kedaulatan Pangan"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta &#8211; Ketua Gerakan Cinta NKRI Provinsi Papua Barat, Napoleon Fakdawer memuji tentang bagaimana komitmen Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam mewujudkan kedaulatan pangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan tanpa soal, membangun ketahanan pangan menurut Napoleon, tidak semudah membalikan telapak tangan. Sebab, terdapat banyak tantangan yang menghadang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSatu diantaranya kemunculan fenomena El Nino yang membuat curah hujan lebih rendah, sehingga pasokan air berkurang dan menciptakan kekeringan hingga gagal panen\u201d tutur Napoleon.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menilai Pemerintah melalui Kementerian Pertanian atau Kementan terus mendorong terwujudnya pertanian berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Gerakan Cinta NKRI Provinsi Papua Barat itu juga mengingatkan bahwa terwujudnya kedaulatan pangan memerlukan kolaborasi dari seluruh komponen masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTak hanya pemerintah, masyarakat juga berperan penting dalam menjaga kedaulatan pangan di Indonesia\u201d jelas Napoleon<\/p>\n\n\n\n<p>Dirinya pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung petani lokal serta mengonsumsi pangan lokal yang dianggap dapat meredam gejolak pangan akibat perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKami mengapresiasi dan mendukung pemerintah yang tidak berdiam diri dan melakukan sejumlah langkah untuk menuntaskan permasalahan pangan, khususnya di Papua.\u201d tuturnya<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSehingga, diharapkan pengentasan kemiskinan dan kedaulatan pangan bisa terwujud di Bumi Cendrawasih tercinta\u201d pungkas Napoleon<\/p>\n\n\n\n<p>Senada, Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengungkapkan Pemerintah sejauh ini memiliki komitmen kuat mengantisipasi gejolak harga pangan yang diakibatkan oleh banyak faktor.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTermasuk apa yang dilakukan sejak tahun lalu, ketika harga beras itu tinggi pemerintah melalukan operasi pasar maupun bantuan sosial yang terus berlanjut hingga tahun ini.\u201d Imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak hanya itu, Pengamat Pertanian AEPI itu mengungkapkan bahwa beberapa kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi gejolak harga pangan itu relatif berhasil di masyarakat, antara lain di komoditas beras.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKetika bantuan beras tidak lagi diberikan, yakni Juli-Agustus, harga beras tinggi lagi\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menekankan bahwa kebijakan Pemerintah dalam mengantisipasi gejolak harga pangan memang sangatlah berorientasi pada masyarakat bawah.<\/p>\n\n\n\n<p>Khudori menilai bahwa kebijakan itu dapat dipahami karena kenaikan harga pangan akan mengganggu daya beli masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJika harga beras tinggi maka daya beli mereka akan terganggu bahkan orang yang hanya beberapa jengkal diatas garis kemiskinan itu bisa jatuh miskin.\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, Pemerintah juga aktif mengamankan cadangan beras untuk mengantisipasi potensi gagal panen. Salah satunya adalah dengan membuka keran impor beras.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta &#8211; Ketua Gerakan Cinta NKRI Provinsi Papua Barat, Napoleon Fakdawer memuji tentang bagaimana komitmen&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":18448,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-18444","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18444","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18444"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18444\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18449,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18444\/revisions\/18449"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18448"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18444"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18444"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18444"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=18444"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}