{"id":20906,"date":"2024-04-12T05:22:26","date_gmt":"2024-04-12T05:22:26","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=20906"},"modified":"2024-04-12T05:22:30","modified_gmt":"2024-04-12T05:22:30","slug":"pentingnya-jaga-persatuan-nasional-pasca-pemilu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2024\/04\/12\/pentingnya-jaga-persatuan-nasional-pasca-pemilu\/","title":{"rendered":"Pentingnya Jaga Persatuan Nasional Pasca Pemilu"},"content":{"rendered":"<p>Menjaga persatuan nasional dalam momentum pasca Pemilihan Umum (Pemilu) seperti sekarang ini merupakan hal yang sangat penting. Bahkan seluruh masyarakat memiliki kewajiban yang sama untuk mewujudkannya.<br \/>\nPasalnya, sejak awal berjalannya pesta demokrasi dan kontestasi politik harusnya mampu dijalankan dengan semangat persatuan dan kesatuan antar sesama anak bangsa yang sedang berusaha untuk mencari sosok pemimpin masa depannya dalam rangka menjunjung tinggi asas demokrasi. Sehingga pelaksanaan kontestasi politik sendiri hendaknya justru bukan menjadi sebuah ajang yang memungkinkan terjadinya pecah belah antar kubu yang saling berseberangan.<br \/>\nMelakukan rekonsiliasi dan menjaga persatuan nasional adalah upaya untuk mempertahankan bangsa ini dari kemungkinan ancaman, baik itu dari pihak luar ataupun dari beberapa kelompok yang terus berupaya merongrong kesatuan nasional.<br \/>\nMenekankan betapa pentingnya menjaga persatuan nasional, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Kalimantan Selatan (Kalsel), Nurul Fajar Desira mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mampu menjaga semangat persatuan dan kesatuan pasca pelaksanaan Pemilu serentak 2024.<br \/>\nMembangun persatuan dan kesatuan usai pesta demokrasi memang sudah menjadi tugas bersama semua lapisan dan elemen masyarakat untuk terus memelihara asas demokrasi bangsa agar bisa berkembang dengan jauh lebih baik lagi, sehingga seluruh rakyat mengalami fase kedewasaan dalam berdemokrasi, yang mana ditandai dengan mampunya menerima apapun serta bagaimanapun hasil akhir yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).<br \/>\nUpaya persatuan juga terus digaungkan oleh para pemuda, yang tergabung ke dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (Bemnus) Wilayah Jawa Timur. Mereka mengajak kepada semua pihak untuk segera berhenti menyebarkan agitasi dan provokasi.<br \/>\nKetika segala macam bentuk agitasi dan provokasi tersebut mampu diredam, maka bukan tidak mungkin secara bersama-sama bangsa ini sedang mendorong terciptanya rekonsiliasi dan konsolidasi damai kepada semua pihak, baik itu dari calon yang pernah berkontestasi, simpatisan hingga para tim pemenangan mereka.<br \/>\nSekretaris Daerah Bemnus Jawa Timur, Daming Laisow berpendapat bahwa rekonsiliasi sendiri merupakan sebuah jembatan menuju harmoni nasional yang sangat penting untuk bisa diupayakan oleh seluruh elemen masyarakat agar bangsa ini tidak terus berlarut dan berkutat pada sentimen saja.<br \/>\nPara pemuda juga memiliki peranan yang strategis, bukan hanya sebagai garda terdepan untuk melakukan kontrol terhadap berjalannya asas demokrasi di negeri ini saja, tetapi para generasi penerus bangsa itu juga mampu menjadi jembatan untuk merawat kerukunan, keutuhan dan keakraban warga negara.<\/p>\n<p>Salah satu hal yang sangat bermanfaat untuk dilakukan yakni terus menggaungkan penguatan akan literasi politik dan konsolidasi damai. Pasca terjadinya proses politik elektoral bernama Pemilu, maka sebenarnya masyarakat di Indonesia sedang dihadapkan pada potensi akan keterbelahan dan polarisasi.<br \/>\nApabila konflik politik dukungan tersebut terus saja meruncing, maka sudah barang tentu akan berimbas pada harmonisasi warga negara. Tentunya jika dibiarkan, hal tersebut akan menjadi sebuah pola sosial yang sangat berbahaya bagi integrasi bangsa.<br \/>\nGenerasi muda, milenial dan mahasiswa jelas memiliki peranan yang juga sangat penting untuk menjadi perekat keakraban berwarga negara, utamanya dalam momentum pasca Pemilu 2024. Pasalnya memang banyak sekali dijumpai di ruang publik hingga ruang digital terus terjadi narasi perpecahan akibat dukungan politik. Sehingga dalam hal ini, pemuda harus bisa tampil untuk memunculkan kontranarasi.<br \/>\nTidak bisa dipungkiri, karena menjadi upaya bersama dari seluruh elemen masyarakat, termasuk di dalamnya juga peranan dari media menjadi sangat penting untuk membantu dan mendorong terciptanya persatuan nasional.<br \/>\nBeberapa waktu ke depan, bangsa ini akan kembali menyelenggarakan kontestasi politik berupa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024, sehingga dalam hal tersebut insan media juga harus memiliki komitmen kuat untuk terus menjaga suasana supaya tetap kondusif dan damai.<br \/>\nDengan adanya bantuan dari insan media, maka tentunya segala bentuk dan jenis provokasi serta konflik yang bisa saja mengganggu stabilitas dan perdamaian negara bisa diredam dengan jauh lebih optimal.<br \/>\nSementara itu, Pimpinan Redaksi (Pimred) Banjarmasin Post, Royan Naimi menuturkan bahwa pihaknya jelas ingin menjalankan salah satu fungsi dari media untuk bisa memberikan ruang setelah terjadinya hiruk-pikuk Pemilu agar masyarakat bisa bersatu kembali.<br \/>\nApa saja yang sempat menjadi perbedaan, baik itu secara pilihan, pandangan dan pendapat pada Pemilu beberapa waktu lalu hendaknya kini mampu disadari oleh masyarakat sehingga persatuan bisa kembali terwujud untuk bersama memajukan bangsa ini lebih baik lagi ke depannya.<br \/>\nMenjaga persatuan nasional pasca pelaksanaan Pemilu 2024 juga sama halnya dengan merawat keutuhan bangsa dari adanya ancaman akan pecah belah, disintegrasi bangsa hingga polarisasi yang bisa saja terjadi hanya karena perbedaan kubu dukungan politik dan tidak sesegera mungkin melakukan rekonsiliasi. Maka dari itu, menjadi sangat penting adanya rekonsiliasi dan konsolidasi tersebut.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjaga persatuan nasional dalam momentum pasca Pemilihan Umum (Pemilu) seperti sekarang ini merupakan hal yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":20907,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-20906","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20906","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20906"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20906\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20909,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20906\/revisions\/20909"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20907"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20906"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20906"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20906"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=20906"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}