{"id":21517,"date":"2024-05-17T03:44:09","date_gmt":"2024-05-17T03:44:09","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=21517"},"modified":"2024-05-17T03:44:11","modified_gmt":"2024-05-17T03:44:11","slug":"indonesia-bawa-langkah-nyata-tangani-permasalahan-air-dalam-wwf-2024","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2024\/05\/17\/indonesia-bawa-langkah-nyata-tangani-permasalahan-air-dalam-wwf-2024\/","title":{"rendered":"Indonesia Bawa Langkah Nyata Tangani Permasalahan Air Dalam WWF 2024"},"content":{"rendered":"<p>Bali \u2013 Masyarakat Indonesia, khususnya Bali antusias mendukung pelaksanaan World Water Forum (WWF) yang digelar pada 18 \u2013 25 Mei 2024 di Nusa Dua, Bali. <\/p>\n<p>Dosen Kimia Lingkungan FMIPA Universitas Udayana (UNUD), Dr. K.G. Dharma Putra, mengatakan Forum Air Sedunia ini membahas isu-isu penting sektor air yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Antusiasme masyarakat begitu tinggi, disertai harapan bahwa hasil dari pertemuan ini akan diterjemahkan ke dalam langkah nyata untuk memperbaiki sarana prasarana dan meningkatkan pelayanan di bidang air,&#8221; ujar Dr. Dharma Putra. <\/p>\n<p>Menurutnya, Indonesia cukup berhasil mengelola air, khususnya di wilayah Bali. <\/p>\n<p>\u201cBali masih sangat beruntung karena potensi sumber daya airnya yang cukup berlimpah dengan keberadaan mata air yang cukup banyak dan danau yang juga. Apalagi pemerintah menyiapkan dan menyediakan tampungan air yang cukup memadai, seperti pembangunan waduk yang sudah juga dilakukan di beberapa tempat untuk membantu penyiapan pangan bagi masyarakat Bali,\u201d jelas Dr. Dharma Putra.<\/p>\n<p>Bali, lanjutnya, dengan potensi sumber daya air yang melimpah, dapat menjadi contoh bagi negara peserta WWF, terkait bagaimana pengelolaan air yang baik dapat dilakukan. Sistem irigasi tradisional Subak di Bali, yang dikenal dengan kearifan lokalnya, bisa menjadi solusi pengelolaan air berkelanjutan.<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat Bali memiliki filosofi penghargaan terhadap air berdasarkan sebagian besar keyakinan religi yang juga dikenal sangat luas di dunia internasional, yakni Subak,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Dosen Kimia Lingkungan UNUD ini juga menjelaskan bahwa posisi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa memberikan keuntungan tersendiri. <\/p>\n<p>&#8220;Indonesia berada di daerah khatulistiwa yang memiliki dua musim, musim hujan dan musim kemarau, dengan potensi sumber daya air yang sangat berlimpah. Hal ini menjadikan Indonesia tempat yang strategis dan tepat untuk mendiskusikan persoalan air dan membahas kebijakan-kebijakan masa depan untuk penyelamatan air di muka bumi,&#8221; tambah Dr. Dharma Putra.<\/p>\n<p>Pihaknya pun optimis bahwa gelaran WWF ke-10 akan memberikan banyak manfaat bagi Indonesia dan dunia.<\/p>\n<p>&#8220;Di satu sisi, tuan rumah memiliki kesempatan untuk menyampaikan keberhasilan yang sudah dilakukan terkait dengan penyelenggaraan atau manajemen pengelolaan air. Di sisi lain, Indonesia juga dapat meminta dukungan masyarakat internasional dan membangun kerja sama untuk memperbaiki sistem pengelolaan air di Indonesia, khususnya di Bali,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bali \u2013 Masyarakat Indonesia, khususnya Bali antusias mendukung pelaksanaan World Water Forum (WWF) yang digelar&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":21518,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-21517","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21517","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21517"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21517\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21519,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21517\/revisions\/21519"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21518"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21517"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21517"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21517"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=21517"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}