{"id":21751,"date":"2024-05-21T05:49:07","date_gmt":"2024-05-21T05:49:07","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=21751"},"modified":"2024-05-21T05:49:08","modified_gmt":"2024-05-21T05:49:08","slug":"world-water-forum-ke-10-wujudkan-masa-depan-air-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2024\/05\/21\/world-water-forum-ke-10-wujudkan-masa-depan-air-berkelanjutan\/","title":{"rendered":"World Water Forum ke-10 Wujudkan Masa Depan Air Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p>Bali &#8211; World Water Forum memberikan platform bagi berbagai pihak guna berbagi pengetahuan serta pengalaman dalam hal pengelolaan sumber daya air. Pemerintah Indonesia pun mengajak negara-negara di dunia berperan aktif selama penyelenggaraan WWF ke-10 guna mencari berbagai mekanisme dan pendekatan untuk menyelesaikan isu yang berkaitan dengan air. <\/p>\n<p>Presiden Jokowi, menyampaikan bahwa kelangkaan air dapat memicu perang serta bisa menjadi sumber bencana. <\/p>\n<p>\u201cToo much water maupun too little water keduanya dapat menjadi masalah bagi dunia,\u201d kata Presiden Jokowi.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan bersama dengan kepala negara, Jokowi menjabarkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir pemerintah Indonesia telah memperkuat infrastruktur air dengan membangun 42 bendungan.<\/p>\n<p>Selain itu, lanjt Jokowi, selama masa pemerintahannya, pemerintah telah membangun 1,18 juta hektare jaringan irigasi dan 2.156 kilometer pengendali banjir serta pengamanan pantai, dan merehabilitasi 4,3 juta hektare jaringan irigasi.<\/p>\n<p> \u201cAir juga kami manfaatkan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di waduk cirata sebagai PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara,\u201d jelas Jokowi.<\/p>\n<p>Indonesia juga selama ini, terus memberdayakan hydro diplomacy atau diplomasi air sebagai bentuk kerja sama konkret dan inovatif <\/p>\n<p>Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa peran dan partisipasi aktif seluruh pihak penting dalam World Water Forum ke-10.<\/p>\n<p>\u201cInovasi dan kontribusi nyata sangat diperlukan untuk mewujudkan masa depan air yang berkelanjutan,&#8221; kata Luhut.<\/p>\n<p>Disisi lain, aktris seklaigus duta WWF, Cinta Laura mengatakan bahwa masalah lingkungan seperti sampah bisa menyebabkan sumber air.<\/p>\n<p>\u201cAir terkontaminasi yang dikonsumsi tersebut bisa menyebabkan penyakit, terutama anak-anak. Siapa yang mengurus anak-anak tersebut? Perempuan, sehingga mereka tidak bisa bekerja dan berkontribusi pada perekonomian,&#8221; ujarnya saat konferensi pers di sela World Water Forum ke-10 di Media Centre WWF Nusa Dua, Denpasar, Bali, <\/p>\n<p>Cinta menjelaskan, tidak bisa menyelesaikan masalah air sendirian, namun, masyarakat tetap dapat melakukan langkah kecil yang membantu mengatasi krisis air.  <\/p>\n<p>\u201cPertama, menyuarakan isu tersebut sehingga lebih banyak masyarakat yang peduli,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Kedua, lanjut Cinta, melakukan sejumlah langkah seperti menggalang dana serta berkolaborasi dengan organisasi yang sudah ada untuk mengatasi krisis tersebut.<\/p>\n<p>\u201cDengan WWF ini, aku harap bisa sangat berguna ke depan karena membuat orang sadar bahwa kebiasaan keseharian bisa memiliki dampak yang sangat kuat ke depannya,\u201d pungkas Cinta. []<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bali &#8211; World Water Forum memberikan platform bagi berbagai pihak guna berbagi pengetahuan serta pengalaman&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":21351,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-21751","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21751","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21751"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21751\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21752,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21751\/revisions\/21752"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21351"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21751"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21751"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21751"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=21751"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}