{"id":2338,"date":"2022-02-19T13:41:16","date_gmt":"2022-02-19T13:41:16","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=2338"},"modified":"2022-02-19T13:41:20","modified_gmt":"2022-02-19T13:41:20","slug":"ppatk-para-pejabat-gunakan-kasino-sebagai-media-cuci-uang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2022\/02\/19\/ppatk-para-pejabat-gunakan-kasino-sebagai-media-cuci-uang\/","title":{"rendered":"PPATK: Para Pejabat Gunakan Kasino Sebagai Media Cuci Uang"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta, jurnalredaksi&#8211; Direktur Analisis Pemeriksaan I Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi (PPATK), Muhammad Novian menyebut pejabat negara cenderung melakukan pencucian uang hasil korupsi lewat digital currency maupun kasino (rumah judi).<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Penyelenggara negara atau profesional money launder, memiliki kecenderungan melakukan pencucian uang hasil korupsi itu melalui media digital currency dan juga penggunaan kasino,&#8221; kata Novian dalam diskusi &#8216;Indeks Persepsi Korupsi dan Momentum Presidensi G20 Indonesia&#8217;.<\/p>\n\n\n\n<p>Novian mengungkap pencucian uang lewat kasino sepanjang 2021 mencapai US$56.888.052 atau setara Rp815.333.783.277. Adapun angka pencucian uang lewat digital currency mencapai US$6 juta.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, kata Novian, pola pencucian uang lain yang digunakan adalah lewat institusi keuangan, perusahaan keuangan, perusahaan asuransi, perusahaan investasi, dan perusahaan penukaran uang atau valuta asing.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian medium yang digunakan selain kasino adalah agensi real estate, penjual metal atau batu, pengacara, agensi judi atau klub malam, juga stockbrokers atau pemain di bursa saham.<\/p>\n\n\n\n<p>Data tersebut didapat dari telaah kasus di tujuh negara, yakni Australia, Indonesia, Filipina, Laos, Malaysia, Selandia Baru, dan Singapura yang dikumpulkan sepanjang 2017 hingga 2021.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Dari tipologi yang ada, PPATK berhasil lihat, pencucian uang dari hasil tindak pidana korupsi pada 2019 kategori yang paling dominan adalah penyelenggara negara,&#8221; ujar Novian.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pihak yang paling banyak melaporkan adalah perbankan, kemudian sektor ekonomi. Yang paling dominan adalah natural resources atau sumber daya alam yang memiliki risiko tinggi,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Novian mencontohkan kasus pencucian uang yang makin gencar terjadi adalah lewat perusahaan valuta asing. Uang untuk suap dibawa dari perusahaan valuta saat masuk ke Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Dilakukan transaksi yang masif menggunakan US dolar, menggunakan perusahaan valuta asing untuk menyamarkan seolah-olah itu adalah bisnis pertukaran valuta asing dari dolar ke rupiah,&#8221; kata Novian.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Itu [terjadi] di perbatasan [negara]. Petugas valuta asing membawa uang tunai untuk transaksi, padahal untuk menyuap pejabat di Indonesia. Alasan yang digunakan seolah-olah dari bisnis penukaran uang,&#8221; ujarnya menambahkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Novian menyatakan kasus sepanjang 2021 ini dianggap berbahaya lantaran tingkat kasusnya semakin meningkat. Pihaknya pun menyatakan red flag atau bendera merah untuk pencucian uang.<\/p>\n\n\n\n<p>(CA\/AA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, jurnalredaksi&#8211; Direktur Analisis Pemeriksaan I Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi (PPATK), Muhammad Novian menyebut&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2339,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[660,659,658],"newstopic":[],"class_list":["post-2338","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi-dan-investasi","tag-cuci-uang","tag-kasino","tag-ppatk"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2338","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2338"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2338\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2340,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2338\/revisions\/2340"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2339"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2338"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2338"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2338"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=2338"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}