{"id":25143,"date":"2024-09-01T05:35:02","date_gmt":"2024-09-01T05:35:02","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=25143"},"modified":"2024-09-01T05:35:05","modified_gmt":"2024-09-01T05:35:05","slug":"rasa-takjub-pada-kebhinekaan-jadi-alasan-kunjungan-paus-ke-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2024\/09\/01\/rasa-takjub-pada-kebhinekaan-jadi-alasan-kunjungan-paus-ke-indonesia\/","title":{"rendered":"Rasa Takjub pada Kebhinekaan Jadi Alasan Kunjungan Paus ke Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta \u2014 Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo menjelaskan alasan Paus Fransiskus datang ke Indonesia. Salah satunya adalah karena takjubnya Vatikan dan negara Eropa lain pada kebhinekaan di Tanah Air.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, memang terdapat hubungan Imdonesia dengan Vatikan yang telah berlangsung lama.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPertama, hubungan antara negara Vatikan dan Negara Republik Indonesia itu sudah berlangsung sejak awal kemerdekaan. Bahkan tahun 1947 Vatikan sudah mempunyai perwakilan di Indonesia,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya itu, lanjutnya, ternyata Vatikan juga menjadi salah satu negara yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cVatikan adalah salah satu negara yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia. Vatikan sungguh mendukung perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia,\u201d ungkap Uskup Agung Jakarta tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, Ignatius Kardinal Suharyo juga menyebutkan bahwa Vatikan sangat menghargai Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Alasan lainnya yakni ternyata mulai dari Vatikan, termasuk berbagai negara Eropa lain sangat penasaran mengenai bagaimana mungkin negara sebesar Indonesia yang begitu beragam namun dapat bersatu padu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya kira bukan hanya Vatikan, tetapi negara-negara Eropa pada umumnya ingin tahu lebih jauh bagaimana mungkin Indonesia, negara yang seluas ini dengan segala macam keanekaragaman bisa hidup sebagai satu bangsa,\u201d kata Kardinal.<\/p>\n\n\n\n<p>Dirinya menilai bahwa keanekaragaman dan persatuan serta kesatuan Indonesia sangat menarik di mata orang Eropa sehingga menjadikan mereka sangat ingin merasakannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Terlebih, secara khusus, mereka juga ingin memahami lebih baik mengenai Islam di Indonesia karena terlihat seperti berbeda dengan bayangan orang Eropa yang digambarkan identik dengan Pakistan atau Timur Tengah.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun ternyata Islam di Indonesia berbeda lantaran lebih terbuka dan toleran.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIndonesia kan Islamnya berbeda. Islam yang terbuka, Islam yang toleran. Itu yang sangat ingin dipahami oleh Vatikan,\u201d tutur Uskup Kardinal.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena keingintahuan kuat tersebut, maka menjadi tidak heran mengapa jika terdapat acara lintas agama di Vatikan, banyak wakil dari Indonesia yang mendapatkan undangan dan diminta untuk berbicara.<\/p>\n\n\n\n<p>Alasan terakhir mengapa Paus Fransiskus ke Indonesia menurut Kardinal Suharyo, adalah karena tentu terdapat umat Katolik yang berjumlah tidak sedikit serta gereja di Tanah Air merupakan tempat ibadah yang hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKarena Indonesia ada umat Katolik yang tidak sedikit, sekitar 9 juta,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSecara eksplisit pernah disampaikan bahwa Gereja Katolik Indonesia adalah gereja yang hidup,\u201d pungkas Uskup Agung Jakarta itu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2014 Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo menjelaskan alasan Paus Fransiskus datang ke Indonesia&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":25000,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-25143","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25143","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25143"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25143\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25147,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25143\/revisions\/25147"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25000"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25143"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25143"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25143"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=25143"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}