{"id":25566,"date":"2024-09-05T07:34:10","date_gmt":"2024-09-05T07:34:10","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=25566"},"modified":"2024-09-05T07:34:12","modified_gmt":"2024-09-05T07:34:12","slug":"buka-isf-2024-presiden-jokowi-dorong-kolaborasi-global-yang-berperikemanusiaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2024\/09\/05\/buka-isf-2024-presiden-jokowi-dorong-kolaborasi-global-yang-berperikemanusiaan\/","title":{"rendered":"Buka ISF 2024, Presiden Jokowi Dorong Kolaborasi Global yang Berperikemanusiaan"},"content":{"rendered":"\n<p>JAKARTA \u2014 Dalam pembukaan International Sustainability Forum (ISF) 2024, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menekankan bagaimana terjadinya perubahan iklim akan dapat tertangani jika sudah tidak menggunakan pendekatan ekonomi dan kepentingan secara egosentris.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya ingin menekankan permasalahan perubahan iklim ini tidak akan bisa terselesaikan selama dunia menggunakan pendekatan ekonomi. selama dunia hanya menghitung keuntungannya sendiri, dan hanya mementingkan egosentrisnya sendiri,\u201d katanya pada Kamis (5\/9) di Jakarta Convention Center (JCC).<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menyelesaikan seluruh tantangan iklim dunia, menurut Presiden Jokowi sangat penting adanya kolaborasi yang berperikemanusiaan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKarena untuk menyelesaikannya butuh pendekatan yang kolaboratif dan berprikemanusiaan, dan kolaborasi antara negara maju dan negara berkembang, serta kemanusiaan agar prosesnya tidak mengorbankan kepentingan rakyat kecil,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Baginya, terwujudnya ekonomi hijau sendiri bukan sekedar untuk perlindungan lingkungan, namun bagi kesejahteraan yang berkelanjutan bagi rakyat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKarena ekonomi hijau bukan hanya tentang perlindungan lingkungan, tapi juga tentang bagaimana menciptakan kesejahteraan bagi rakyat, kesejahteraan yang berkelanjutan bagi rakyat,\u201d jelas Presiden Jokowi.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara menekankan pada dunia supaya tidak meragukan bagaimana komitmen kuat Indonesia untuk mencapai net zero emission.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJangan meragukan komitmen Indonesia dalam mencapai net zero emission dan berkontribusi bagi dunia yang lebih hijau. Indonesia memiliki potensi energi hijau yang melimpah, mencapai lebih dari 3600 Giga Watt,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada kesempatan yang sama, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan bahwa sejatinya keberadaan forum tersebut sangat relevan dan penting untuk bersama menghadapi tantangan dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cISF sendiri sangat penting terselenggara di sini, karena di wilayah ini sangat kaya akan berbagai macam hal. Maka dari itu, harus terwujud adanya forum keberlanjutan karena juga sangat relevan menghadapi berbagai tantangan dunia hari ini,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, menurutnya ISF bukan hanya sekedar forum diskusi untuk membahas adanya krisis iklim saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih dari itu, namun melalui ISF 2024 juga sekaligus sebagai platform untuk mewujudkan inovasi dan berkolaborasi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya percaya bahwa ISF 2024 bukan hanya berkaitan dengan pendiskusian mengenai tantangan krisis iklim saja, namun juga menjadi sebuah platform untuk memunculkan inovasi dan berkolaborasi demi keberlanjutan pembangunan,\u201d ungkap Luhut.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejauh ini, Indonesia terus berhasil membuktikan kepemimpinannya di tingkat dunia dengan terus menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT), hal itu terbukti dari adanya PLTS Apung yang bahkan terbesar ketiga di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIndonesia membuktikan diri mampu memimpin terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan, dengan menggunakan energi baru dan terbarukan,\u201d<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Dalam pembukaan International Sustainability Forum (ISF) 2024, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menekankan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":25512,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-25566","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25566","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25566"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25566\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25569,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25566\/revisions\/25569"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25512"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25566"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25566"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25566"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=25566"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}