{"id":25619,"date":"2024-09-05T15:08:27","date_gmt":"2024-09-05T15:08:27","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=25619"},"modified":"2024-09-05T15:08:29","modified_gmt":"2024-09-05T15:08:29","slug":"paus-fransiskus-pimpin-misa-akbar-di-indonesia-sempat-ucapkan-doa-dalam-bahasa-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2024\/09\/05\/paus-fransiskus-pimpin-misa-akbar-di-indonesia-sempat-ucapkan-doa-dalam-bahasa-indonesia\/","title":{"rendered":"Paus Fransiskus Pimpin Misa Akbar di Indonesia, Sempat Ucapkan Doa dalam Bahasa Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta \u2014 Pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Paus Fransiskus, mencuri perhatian puluhan ribu umat Katolik saat memimpin misa akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sore ini (5\/9). Dalam momen istimewa tersebut, Paus mengucapkan salah satu doa penting, yaitu pernyataan tobat umat Katolik, dengan kalimat \u201cSaya Mengaku\u201d dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah menyapa dan memberkati bayi serta anak-anak, Paus memasuki altar di ujung stadion. Lagu pujian yang dinyanyikan paduan suara menggema, dimulai dengan \u201cKristus Raja,\u201d kemudian berlanjut dengan \u201cAve Maria,\u201d lagu yang ditujukan untuk Bunda Maria, ibu Yesus.<\/p>\n\n\n\n<p>Acara dimulai ketika Paus Fransiskus beranjak dari kursinya dan membuka misa dengan mengucapkan tanda salib dalam bahasa Latin, \u201cIn Nomine Patris Et Filii Et Spiritus Sancti,\u201d diikuti dengan seruan \u201cAmen\u201d dari para jemaat.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, beliau menyampaikan salam damai, \u201cPax Vobis,\u201d yang disambut hangat oleh umat yang hadir.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat memasuki bagian pernyataan tobat, Paus Fransiskus mengubah bahasanya dari Latin ke Indonesia, memimpin doa dengan mengucapkan, \u201cSaya mengaku\u2026\u201d yang segera direspon dengan suara meriah dari ribuan umat.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka melanjutkan dengan, \u201cKepada Allah Yang Maha Kuasa, dan kepada saudara sekalian bahwa saya telah berdosa\u2026.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Misa di Stadion GBK hanya dilaksanakan di area jalur atletik dan tribun penonton. Panggung untuk Paus tidak dibangun di atas rumput lapangan GBK yang hijau.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum memasuki lokasi misa, Paus Fransiskus sempat berkeliling kompleks GBK menaiki Maung MV3 berwarna putih dengan atap terbuka, menyapa umat Katolik. Misa akbar bersejarah Paus Fransiskus di GBK diikuti 87.000 umat Katolik.<\/p>\n\n\n\n<p>Paus pun sebelumnya disambut oleh Presiden Joko Widodo, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Agus Subiyanto, dan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya ucapkan selamat menjalankan ibadah misa suci dan semoga menjadi berkat bagi sesama,\u201d kata Presiden Jokowi melalui tayangan videotron.<\/p>\n\n\n\n<p>Presiden Jokowi menyatakan bahwa umat Katolik di Indonesia merupakan bagian penting dari bangsa dalam upaya menjaga persatuan. Kepala negara menekankan peran umat Katolik dalam menyebarkan kasih dan toleransi bersama umat beragama lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPerbedaan adalah kekayaan dan toleransi adalah pupuk bagi persatuan dan perdamaian kita sebagai bangsa,\u201d imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Paus Fransiskus, yang telah berada di Indonesia sejak 3 September, sebelumnya mengunjungi beberapa lokasi penting, termasuk Masjid Istiqlal, Istana Merdeka, dan Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Kunjungan ini dijadwalkan berakhir pada 6 September 2024.<\/p>\n\n\n\n<p>Momen bersejarah ini tidak hanya menunjukkan keterbukaan Gereja Katolik terhadap budaya lokal, tetapi juga memperkuat hubungan antaragama di Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2014 Pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Paus Fransiskus, mencuri perhatian puluhan ribu umat Katolik saat&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":25614,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-25619","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25619","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25619"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25619\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25624,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25619\/revisions\/25624"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25614"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25619"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25619"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25619"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=25619"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}