{"id":29535,"date":"2025-03-11T14:15:56","date_gmt":"2025-03-11T14:15:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=29535"},"modified":"2025-03-11T14:15:57","modified_gmt":"2025-03-11T14:15:57","slug":"presiden-prabowo-pacu-ekonomi-kreatif-untuk-percepat-pertumbuhan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/03\/11\/presiden-prabowo-pacu-ekonomi-kreatif-untuk-percepat-pertumbuhan-nasional\/","title":{"rendered":"Presiden Prabowo Pacu Ekonomi Kreatif untuk Percepat Pertumbuhan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta &#8211; Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai delapan persen, dengan ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar utama.<\/p>\n\n\n\n<p>Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menegaskan pentingnya pemberdayaan kaum muda melalui sektor ini karena berperan sebagai mesin pertumbuhan baru.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEkonomi kreatif memiliki peran strategis sebagai new engine of growth dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi delapan persen yang dicanangkan Presiden Prabowo,\u201d ujar Ibas di Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak pemerintahan Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, sektor ekonomi kreatif menunjukkan pertumbuhan signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat dari Rp500 triliun menjadi Rp1.400 triliun serta menyerap sekitar 27 juta tenaga kerja.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEkonomi kreatif bukan hanya menjadi pilar pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga memiliki daya saing global. Terbukti, nilai ekspor sektor ini mencapai 12,36 miliar dolar. Generasi milenial dan Gen Z adalah aktor utama dalam pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi, ekonomi kreatif juga berperan dalam peningkatan devisa, penyerapan tenaga kerja, serta memperkuat keberagaman budaya dan kualitas masyarakat. Ibas pun mengajak generasi muda untuk fokus dan konsisten dalam mengembangkan potensinya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita harus memiliki mimpi besar agar ekonomi kreatif Indonesia semakin mendunia. Tantangan pasti ada, seperti fenomena fear of missing out (FOMO) yang membuat anak muda kehilangan fokus. Sebaliknya, kita perlu menerapkan konsep you only need one (YONO) \u2013 fokus pada satu bidang dan tekuni hingga menjadi ahli,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menteri Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (MenEkraf\/KaBekraf), Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan mesin pertumbuhan baru yang menjadi perhatian utama pemerintahan Presiden Prabowo.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cUntuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, ekonomi kreatif memiliki kementerian tersendiri. Ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam mendorong sektor ini menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional,\u201d ujar Riefky.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menjelaskan bahwa potensi ekonomi kreatif tersebar di seluruh daerah Indonesia dan harus dikembangkan sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Oleh karena itu, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kreatif mencapai delapan persen hingga 2029, dengan menciptakan ruang dan peluang investasi yang lebih luas.<\/p>\n\n\n\n<p>Wakil Ketua Umum DPP PAN, Saleh Partaonan Daulay, juga berharap ekonomi kreatif semakin mendorong pertumbuhan UMKM.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDi era digital, persaingan semakin ketat dengan berkembangnya e-commerce. Pelaku usaha harus mampu beradaptasi dengan tren perdagangan yang tak lagi dibatasi ruang dan waktu,\u201d pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta &#8211; Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai delapan persen, dengan ekonomi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-29535","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29535","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29535"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29535\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29548,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29535\/revisions\/29548"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29535"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29535"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29535"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=29535"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}