{"id":30730,"date":"2025-03-27T17:07:05","date_gmt":"2025-03-27T17:07:05","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=30730"},"modified":"2025-03-27T17:07:07","modified_gmt":"2025-03-27T17:07:07","slug":"kepala-suku-wosak-ruben-kalolik-kecam-keras-tindakan-keji-opm-terhadap-nakes-dan-guru-di-yahukimo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/03\/27\/kepala-suku-wosak-ruben-kalolik-kecam-keras-tindakan-keji-opm-terhadap-nakes-dan-guru-di-yahukimo\/","title":{"rendered":"Kepala Suku Wosak Ruben Kalolik Kecam Keras Tindakan Keji OPM Terhadap Nakes dan Guru di Yahukimo"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Papua Pegunungan &#8211; Kepala Suku Wosak Papua Pegunungan Ruben Kalolik mengecam keras tindakan brutal dan keji yang dilakukan OPM terhadap tenaga kerja kesehatan (Nakes) dan Guru di Kabupaten Yahukimo Papua Pegunungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnya masyarakat didaerahnya di Papua Pegunungan ingin hidup damai dan tenang karena masyarakat disini semuanya tenang. Ruben Kalolik juga menyampaikan kekecewaan dan ketidak senangannya atas peristiwa yang terjadi menimpa para nakes dan guru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSaya tidak senang. Saya punya masyarakat itu tenang. Tidak boleh situasi begini. Tidak boleh tembak-menembak, masyarakat itu kasihan. Masyarakat itu cari makan dan minum\u2019, ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, Kepala Suku Wosak Ruben Kalolik meminta kepada TNI dan Polri turut menjaga agar situasi daerah tersebut dapat kembali tenang dan aman. Aparat keamanan harus dapat menjaga bersama \u2013 sama dengan masyarakat agar semuanya kembali kondusif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u2018Jaga bersama dengan masyarakat, dengan Indonesia, dan anggota TNI Polri itu jaga supaya masyarakat tenang, hidup tenang, tinggal tenang. Saya mohon sampaikan seluruh Papua, seluruh Kabupaten jaga bersama dengan masyarakat. Tidak boleh tembak-menembak, tidak boleh masuk kacau di daerah itu, tidak boleh. Karena kami ini hidup mandiri, hidup makan, hidup tinggal. Itu yang saya sampaikan, di Papua ini tidak boleh\u2019, pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal senada juga di sampaikan tokoh agama Papua Pendeta Yones Wenda. Tokoh agama Papua itu menyayangkan tindakan keji OPM. Pendeta Yones Wenda menjelaskan guru yang di bunuh itu merupakan tenaga pengajar yang ingin mendidik anak \u2013 anak Papua agar menjadi lebih pintar dan dapay menjadi pemimpin didaerahnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cGuru yang ditembakkan adalah bukan untuk melakukan rencana jahat, tetapi untuk membina mendidik anak-anak kita supaya ke depan mereka bisa memimpin daerahnya sendiri\u2019, tandasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendeta Yones Wenda menilai OPM telah melanggar UU yang ditetapkan Tuhan yaitu dalam ayat alkitab Keluaran Pasal 20 ayat 13, yang isinya jangan membunuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cOPM telah melanggar UU yang ditetapkan Tuhan yaitu Keluaran Pasal 20 Ayat 13 jangan membunuh orang. Karena manusia ini adalah ciptaan Tuhan yang murni.\u201d, ungkapnya. Menurut keyakinan Pasal 1 Ayat 26-28 oleh sebab itu barang siapa yang melakukan pembunuhan, yang terjadi di Yahukimo Tuhan tidak mengizinkan, Tuhan tidak senang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendeta Yones Wenda mengajak seluruh masyarakat Papua untuk dapat menghargai para nakes dan guru karena mereka memiliki niat baik untuk anak \u2013 anak kita dipedalaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMarilah kita harus melakukan hal yang baik terhadap guru-guru atau medis yang ditembakkan di pos-pos atau di pedalaman, hargai mereka dengan baik, dan jangan sengaja menciptakan konflik di Tanah Papua,\u201d ajak Pendeta Yones Wenda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Papua Pegunungan &#8211; Kepala Suku Wosak Papua Pegunungan Ruben Kalolik mengecam keras tindakan brutal dan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-30730","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30730"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30730\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30731,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30730\/revisions\/30731"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30730"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=30730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}