{"id":31923,"date":"2025-04-22T05:19:04","date_gmt":"2025-04-22T05:19:04","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=31923"},"modified":"2025-04-22T05:19:05","modified_gmt":"2025-04-22T05:19:05","slug":"surplus-neraca-perdagangan-sebagai-langkah-positif-ekonomi-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/04\/22\/surplus-neraca-perdagangan-sebagai-langkah-positif-ekonomi-nasional\/","title":{"rendered":"Surplus Neraca Perdagangan Sebagai Langkah Positif Ekonomi Nasional"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus signifikan pada Maret 2025, mencapai US$ 4,33 miliar. Surplus ini menjadi indikator positif bagi perekonomian nasional di tengah dinamika perdagangan global. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) tercatat sebagai negara penyumbang surplus terbesar, dengan nilai mencapai US$ 1,9 miliar.<\/p>\n<p>Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa selama kuartal I-2025 (Januari\u2013Maret), Indonesia mencatatkan surplus perdagangan dengan AS sebesar US$ 4,32 miliar. Ekspor Indonesia ke AS mencapai US$ 7,3 miliar, sementara impornya tercatat sebesar US$ 2,98 miliar.<\/p>\n<p>\u201cSelama Januari hingga Maret 2025 nilai ekspor empat komoditas ini mengalami peningkatan yang relatif baik dibandingkan tahun lalu,\u201d ujar Amalia.<\/p>\n<p>Empat komoditas utama yang mendorong surplus ekspor ke AS antara lain mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, pakaian dan aksesoris rajutan, serta bukan rajutan. Komoditas mesin dan perlengkapan elektrik menyumbang nilai ekspor sebesar US$ 1,2 miliar atau 16,71% dari total ekspor ke AS, dengan pertumbuhan 17,65% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>Nilai ekspor alas kaki mencapai US$ 657,9 juta atau 9,01% dari total ekspor ke AS, tumbuh 16,62%.<\/p>\n<p>\u201cUntuk alas kaki ekspor kita ke Amerika Serikat memberikan pangsa sebesar 34,16% dari total ekspor alas kaki, yang kemudian disusul negara kedua terbesar ekspor alas kaki dari Indonesia adalah ke Belanda, Belgia, Jepang, dan China,\u201d tutur Amalia.<\/p>\n<p>Ekspor pakaian dan aksesoris rajutan tercatat sebesar US$ 629,25 juta (8,61%) dengan pertumbuhan 20,46%.<\/p>\n<p>\u201cDari seluruh ekspor pakaian dan aksesorisnya (rajutan) pangsa ekspor kita ke AS adalah yang tertinggi yaitu sebesar 63,4% disusul ekspor barang yang sama ke Jepang dan Korea Selatan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, ekspor pakaian bukan rajutan tercatat sebesar US$ 568,46 juta (7,78%) dengan pertumbuhan 1,47%.<\/p>\n<p>\u201cUntuk pakaian dan aksesoris yang bukan rajutan dimana pangsa pasar ekspor Indonesia ke Amerika Serikat adalah sebesar 42,96%, disusul Jepang, dan Korea Selatan,\u201d terang Amalia.<\/p>\n<p>Selain AS, Indonesia juga membukukan surplus perdagangan dengan India (US$ 1,04 miliar) dan Filipina (US$ 714,7 juta) pada Maret 2025. Surplus dari India terutama didorong oleh ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani\/nabati, serta besi dan baja. Sementara itu, surplus dari Filipina ditopang oleh ekspor kendaraan, bahan bakar mineral, serta minyak hewani\/nabati.<\/p>\n<p>Surplus perdagangan ini menjadi penopang penting bagi stabilitas eksternal Indonesia serta memberikan ruang lebih dalam menjaga ketahanan sektor riil. Kendati masih ada tantangan dari negara mitra dengan defisit tinggi, tren positif ekspor ke sejumlah negara besar menunjukkan daya saing produk Indonesia terus menguat.<\/p>\n<p>[edRW]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus signifikan pada Maret 2025, mencapai US$ 4,33&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":31926,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-31923","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi-dan-investasi"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31923"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31923\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31927,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31923\/revisions\/31927"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31926"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31923"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=31923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}