{"id":32019,"date":"2025-04-24T17:04:56","date_gmt":"2025-04-24T17:04:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=32019"},"modified":"2025-04-24T17:04:57","modified_gmt":"2025-04-24T17:04:57","slug":"rangkul-optimisme-berbangsa-wakil-ketua-mui-ajak-masyarakat-tolak-narasi-indonesia-gelap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/04\/24\/rangkul-optimisme-berbangsa-wakil-ketua-mui-ajak-masyarakat-tolak-narasi-indonesia-gelap\/","title":{"rendered":"Rangkul Optimisme Berbangsa, Wakil Ketua MUI Ajak Masyarakat Tolak Narasi Indonesia Gelap"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Masa depan Indonesia yang cemerlang mengharuskan kita memelihara kebersamaan dan keutuhan. Seruan untuk mempertahankan keharmonisan dan optimisme, menjadi kunci dalam membangun negara Indonesia yang lebih tangguh dan maju.<\/p>\n<p>Masyarakat Indonesia diharapkan agar menolak beragam narasi pesimis, seperti Indoensia Gelap, dan tetap bersatu demi menjaga keutuhan negara di tengah berbagai tantangan global yang sedang dihadapi dunia.<\/p>\n<p>Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum MUI, Dr. KH. Marsudi Syuhud dalam sebuah acara diskusi di salah satu stasiun TV Nasional, Kamis (24\/4) bertema \u201cJaga Persatuan untuk Indonesia Cemerlang\u201d<\/p>\n<p>\u201cKita optimis membangun kedepan karena sesungguhnya perintah agama kita,\u201d tutur KH. Marsudi Syuhud.<\/p>\n<p>Dirinya mengajak masyarakat untuk menciptakan optimisme, bukan menyebarkan narasi Indonesia Gelap yang bisa merusak keharmonisan. Hal penting adalah penyampaian ke publik agar tidak terpengaruh ataupun mempengaruhi orang lain dengan narasi Indonesia Gelap.<\/p>\n<p>\u201cCiptakan optimisme, bukan dengan mengatakan Indoensia gelap, tetapi mari kita membuat kalimat-kalimat optimis. Keharmonisan dapat tercapai dan bisa terjaga, jika saling memahami keadaanya,\u201d kata KH. Marsudi.<\/p>\n<p>Disisi lain, menurut KH. Marsudi Syuhud, ketika masih ada perbedaan pendapat, bisa disampaikan ke publik. Mengkritik itu boleh, lanjutnya, namun kritik yang membangun.<\/p>\n<p>\u201cKritik itu sesungguhnya untuk membangun, bukan untuk kebencian, selama kita bersatu menuju satu tujuan maka saya yakin bisa mencapai targetnya,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan yang sama, Pakar Komunikasi Politik, Dr. Aditya Perdana, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo selalu membuka diri dan tidak anti kritik.<\/p>\n<p>\u201cSikap terbuka Presiden Prabowo terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak menunjukkan komitmen kuat pada prinsip demokrasi deliberatif yang patut diapresiasi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dr. Aditya menekankan, Presiden punya tanggung jawab dan ruang untuk melakukan banyak hal, namun butuh dukungan dari Masyarakat<\/p>\n<p>\u201cPresiden Prabowo memiliki sumber daya yang kuat, baik politik maupun kelembagaan, yang memberikan peluang besar untuk merealisasikan berbagai janji dan program kerja,\u201d kata Dr. Aditya.<\/p>\n<p>Menurutnya, keberhasilan Presiden Prabowo merangkul berbagai kekuatan politik menjadi modal strategis dalam mempercepat pembangunan dan menciptakan stabilitas pemerintahan ke depan.<\/p>\n<p>\u201cSituasi ini seharusnya mendorong munculnya optimisme nasional, dengan keyakinan bahwa arah pemerintahan ke depan akan semakin konstruktif dan inklusif,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Para tokoh bangsa diharapkan terus mengimbau masyarakat untuk turut berperan dalam menjaga harmoni, mencegah polarisasi, dan memperkuat semangat kebangsaan. Persatuan dan keguyuban seluruh elemen bangsa akan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan dan dinamika kebangsaan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Masa depan Indonesia yang cemerlang mengharuskan kita memelihara kebersamaan dan keutuhan. Seruan untuk&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32020,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-32019","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32019","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32019"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32019\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32021,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32019\/revisions\/32021"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32020"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32019"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32019"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32019"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=32019"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}