{"id":32038,"date":"2025-04-24T17:12:19","date_gmt":"2025-04-24T17:12:19","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=32038"},"modified":"2025-04-24T17:12:20","modified_gmt":"2025-04-24T17:12:20","slug":"sikapi-indonesia-gelap-mui-jangan-mudah-terprovokasi-kampanye-negatif-dan-pesimis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/04\/24\/sikapi-indonesia-gelap-mui-jangan-mudah-terprovokasi-kampanye-negatif-dan-pesimis\/","title":{"rendered":"Sikapi \u201cIndonesia Gelap\u201d, MUI: Jangan Mudah Terprovokasi Kampanye Negatif dan Pesimis"},"content":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Majelis Ulama Indonesia atau MUI terus mengajak masyarakat Indonesia untuk dapat bersatu dan menjauhi narasi pesimisme seperti halnya kampanye \u201cIndonesia Gelap\u201d.<\/p>\n<p>Terkait hal itu, Wakil Ketua Umum MUI, Dr. KH. Marsudi Syuhud, MM, menilai bahwa narasi pesimisme seperti \u201cIndonesia gelap\u201d sering kali muncul saat ekspektasi masyarakat tidak sejalan dengan realita, terutama dalam kondisi tekanan ekonomi.<\/p>\n<p>Namun demikian, dirinya melihat bahwa pemerintahan Presiden Prabowo saat ini terus berusaha maksimal dalam mewujudkan cita-cita pembangunan.<\/p>\n<p>\u201cPresiden Prabowo telah menetapkan prioritas pembangunan nasional secara strategis, sebagai bentuk respons terhadap dinamika global yang juga berdampak pada berbagai negara di dunia, bukan hanya Indonesia,\u201d ujarnya dalam sebuah wawancara di stasiun televisi nasional, Kamis (24\/4)<\/p>\n<p>Karena itu, Kyai Marsudi menekankan pentingnya menjaga semangat kebangsaan dan tidak mudah terjebak pada narasi ketakutan yang dapat melemahkan semangat kolektif.<\/p>\n<p>\u201cKomunikasi politik yang dijalankan saat ini telah mampu meredam narasi pesimisme dan ketakutan, karena narasi tersebut justru dapat memperlambat semangat pembangunan jika terus digulirkan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum MUI itu mengajak masyarakat agar lebih jernih dalam menyikapi isu-isu yang beredar dan tidak mudah terpancing oleh provokasi.<\/p>\n<p>\u201cPenting bagi masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi negatif, melainkan melihat peluang dan upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk menjaga laju pembangunan nasional,\u201d kata Kyai Marsudi.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan yang sama, Dr. Aditya Perdana, pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), memandang positif keterbukaan pemerintah terhadap kritik.<\/p>\n<p>\u201cSikap terbuka Presiden Prabowo terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak menunjukkan komitmen kuat pada prinsip demokrasi deliberatif yang patut diapresiasi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga menilai pengakuan pemerintah atas kelemahan komunikasi publik menunjukkan kedewasaan dalam bernegara.<\/p>\n<p>\u201cPengakuan Presiden atas kelemahan komunikasi publik pemerintah merupakan bentuk kedewasaan politik, dengan komitmen untuk terus mengevaluasi dan menyempurnakan strategi komunikasi bersama jajaran kabinet,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Pakar komunikasi Politik UI tersebut juga berharap agar seluruh elemen masyarakat dapat bersatu dan dalam menghadapi berbagai dinamika bangsa.<\/p>\n<p>\u201cPara tokoh bangsa diharapkan terus mengimbau masyarakat untuk menjaga harmoni, mencegah polarisasi, dan memperkuat semangat kebangsaan\u201c pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Majelis Ulama Indonesia atau MUI terus mengajak masyarakat Indonesia untuk dapat bersatu dan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32031,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-32038","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32038","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32038"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32038\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32059,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32038\/revisions\/32059"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32031"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32038"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32038"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32038"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=32038"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}