{"id":32330,"date":"2025-04-29T08:55:57","date_gmt":"2025-04-29T08:55:57","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=32330"},"modified":"2025-04-29T08:55:58","modified_gmt":"2025-04-29T08:55:58","slug":"perayaan-mayday-momentum-refleksi-damai-dan-kolaborasi-untuk-masa-depan-buruh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/04\/29\/perayaan-mayday-momentum-refleksi-damai-dan-kolaborasi-untuk-masa-depan-buruh\/","title":{"rendered":"Perayaan Mayday, Momentum Refleksi Damai dan Kolaborasi untuk Masa Depan Buruh"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Menjelang perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei, berbagai elemen masyarakat mengajak seluruh buruh di Indonesia untuk menjaga suasana kondusif, menjauhi provokasi, dan merayakan momentum tahunan ini dengan semangat positif. May Day dinilai sebagai kesempatan penting, tidak hanya untuk menyuarakan hak-hak buruh, tetapi juga untuk melakukan refleksi bersama demi membangun masa depan dunia kerja yang lebih sejahtera dan produktif.<\/p>\n<p>CEO PT Hernadhi Jaya Abadi (HJKARPET), Heru Purnomo, mengingatkan bahwa kesejahteraan buruh tidak semata-mata diukur dari besarnya gaji yang diterima, melainkan juga ditentukan oleh etos kerja dan produktivitas. \u201cBuruh harus bersama-sama melakukan introspeksi karena etos kerja dan produktivitas karyawan di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain. Untuk itu perlu ada pengawasan dan peningkatan produktivitas. Ini introspeksi bersama, bukan hanya soal gaji, tapi kinerja juga penting,\u201d ujar Heru.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Heru menekankan pentingnya mempersiapkan masa depan buruh setelah pensiun. Ia mendorong adanya program pelatihan keterampilan dua hingga empat tahun sebelum masa pensiun untuk membekali para pekerja membuka usaha atau berinvestasi. \u201cProgram pra-pensiun ini membutuhkan kerja sama antara perusahaan, serikat buruh, dan pemerintah untuk dapat berjalan efektif,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Pengamat Politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Nurmadi Harsa Sumarta, mengingatkan pentingnya pengelolaan aksi demonstrasi secara bijak pada peringatan May Day. Ia menyampaikan bahwa demonstrasi yang tidak terkontrol bisa membawa dampak buruk terhadap perekonomian dan iklim investasi. \u201cAksi demonstrasi yang tidak dikelola secara bijak bisa menimbulkan efek domino. Tak hanya kerugian ekonomi, reputasi industri pun bisa hancur. Bahkan, tak sedikit investor yang memilih hengkang dan memindahkan usahanya ke daerah atau negara yang lebih kondusif,\u201d jelas Nurmadi.<\/p>\n<p>Senada dengan itu, Ketua Umum Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali, juga mengimbau agar May Day dirayakan secara damai dan penuh semangat positif. Ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan tidak terjebak dalam provokasi. \u201cMay Day adalah momen penting bagi buruh untuk menyuarakan hak-haknya, tetapi harus dirayakan dengan cara yang positif, riang gembira, dan tetap menjaga persatuan,\u201d ujar Habib Syakur. Ia menambahkan, \u201cKita harus hati-hati terhadap oknum-oknum yang ingin menciderai esensi perjuangan buruh dengan aksi anarkis atau kekerasan.\u201d<\/p>\n<p>Menurut Habib Syakur, buruh Indonesia harus mampu menjadi pelopor perubahan yang cerdas dan bermartabat. \u201cJangan biarkan provokasi merusak solidaritas kita,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>Dengan semangat refleksi, kolaborasi, dan kedamaian, perayaan May Day tahun ini diharapkan menjadi pijakan baru untuk membangun hubungan industrial yang lebih sehat, meningkatkan daya saing tenaga kerja nasional, serta memperjuangkan kesejahteraan buruh secara berkelanjutan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Menjelang perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei, berbagai elemen&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32314,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-32330","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32330","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32330"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32330\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32345,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32330\/revisions\/32345"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32314"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32330"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32330"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32330"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=32330"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}