{"id":33060,"date":"2025-05-14T07:53:49","date_gmt":"2025-05-14T07:53:49","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=33060"},"modified":"2025-05-14T07:53:50","modified_gmt":"2025-05-14T07:53:50","slug":"indonesia-tuan-rumah-konferensi-puic-ke-19-momentum-strategis-perkuat-solidaritas-dunia-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/05\/14\/indonesia-tuan-rumah-konferensi-puic-ke-19-momentum-strategis-perkuat-solidaritas-dunia-islam\/","title":{"rendered":"Indonesia Tuan Rumah Konferensi PUIC ke-19: Momentum Strategis Perkuat Solidaritas Dunia Islam"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Konferensi Persatuan Parlemen Negara Anggota OKI (PUIC) ke-19 yang digelar di Indonesia menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat solidaritas antarnegara Muslim di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Prof. Teuku Rezasyah.<\/p>\n<p>Menurut Prof. Rezasyah, konferensi ini hadir di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta krisis yang belum mereda di Eropa Timur. \u201cSituasi ini menuntut solidaritas nyata dan kerja sama antarnegara Muslim untuk menghadapi tantangan bersama,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sebagai negara Muslim moderat dengan posisi strategis di kawasan Asia Tenggara dan anggota aktif dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Indonesia dinilai layak menjadi tuan rumah yang kredibel. Lebih dari itu, Indonesia dapat memainkan peran kepemimpinan dalam membangun diplomasi yang konstruktif di kalangan negara-negara Muslim.<\/p>\n<p>Prof. Rezasyah menekankan bahwa penyelenggaraan PUIC sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. \u201cIndonesia dapat menunjukkan kepemimpinan globalnya di antara negara-negara Muslim, serta memperkuat posisinya di forum-forum internasional seperti G20, BRICS, dan OKI,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya agar konferensi ini tidak sekadar menghasilkan pernyataan politik. \u201cPerlu ada dorongan kuat untuk membangun kerja sama konkret, terutama di bidang ekonomi, teknologi, pemberdayaan perempuan, dan pengembangan sumber daya manusia,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia juga mendorong Indonesia untuk membentuk koalisi strategis dengan negara-negara kaya anggota OKI seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Iran guna memperkuat investasi, perdagangan, dan inovasi teknologi. \u201cKoalisi semacam ini akan meningkatkan daya saing dunia Islam di panggung global,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Prof. Rezasyah turut menyoroti peran penting parlemen dalam diplomasi multilateral. Menurutnya, parlemen memiliki posisi strategis dalam menjaga nilai moral dan mengawasi kebijakan luar negeri, khususnya dalam merespons isu-isu kemanusiaan seperti konflik Palestina.<\/p>\n<p>Konferensi PUIC ini juga diharapkan mampu membuka peluang kemitraan baru, khususnya di sektor ekonomi dan pariwisata antarnegara OKI. \u201cKerja sama ekspor, investasi, dan pertukaran wisatawan dengan negara-negara seperti Aljazair, Mesir, Iran, Yordania, Kuwait, dan Libya harus diintensifkan,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Dengan menjadi tuan rumah PUIC ke-19, Indonesia tidak hanya memperkuat perannya dalam dunia Islam, tetapi juga menunjukkan kapasitas diplomatiknya dalam menjawab tantangan global secara inklusif dan progresif.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Konferensi Persatuan Parlemen Negara Anggota OKI (PUIC) ke-19 yang digelar di Indonesia menjadi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33066,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-33060","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33060","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33060"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33060\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33067,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33060\/revisions\/33067"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33066"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33060"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33060"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33060"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=33060"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}