{"id":33102,"date":"2025-05-15T07:02:47","date_gmt":"2025-05-15T07:02:47","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=33102"},"modified":"2025-05-15T07:02:48","modified_gmt":"2025-05-15T07:02:48","slug":"kesuksesan-indonesia-selenggarakan-puic-ke-19-kukuhkan-peran-strategis-dalam-diplomasi-parlemen-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/05\/15\/kesuksesan-indonesia-selenggarakan-puic-ke-19-kukuhkan-peran-strategis-dalam-diplomasi-parlemen-islam\/","title":{"rendered":"Kesuksesan Indonesia Selenggarakan PUIC ke-19, Kukuhkan Peran Strategis dalam Diplomasi Parlemen Islam"},"content":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Konferensi ke-19 Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) yang digelar di Jakarta menjadi momentum penting dalam menunjukkan kesuksesan dan kepemimpinan Indonesia di kancah internasional.<\/p>\n<p>Dalam perayaan 25 tahun berdirinya PUIC, para pemimpin parlemen negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menegaskan solidaritas dan komitmen bersama membangun tatanan dunia yang lebih baik, adil, dan berwawasan kemanusiaan.<\/p>\n<p>Konferensi kali ini mengangkat tema &#8220;Good Governance and Strong Institutions as Pillars of Resilience&#8221;, yang menyoroti pentingnya tata kelola pemerintahan yang baik sebagai fondasi ketahanan dalam menghadapi tantangan global.<\/p>\n<p>Ketua DPR RI, Puan Maharani, dalam pidatonya menyampaikan bahwa semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 masih sangat relevan dan menjadi inspirasi bagi PUIC dalam menggalang kekuatan baru negara berkembang demi kemajuan umat Muslim.<\/p>\n<p>\u201cKita tidak bisa membiarkan tatanan dunia berkembang secara alamiah. Kita harus mengambil peran, bersatu dalam solidaritas PUIC untuk menciptakan tata politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang humanis dan berkeadilan,\u201d ujar Puan.<\/p>\n<p>PUIC diakui sebagai kekuatan strategis yang dapat memengaruhi kebijakan global apabila seluruh anggotanya bersatu. Sidang PUIC bukan hanya forum diskusi, tetapi wadah untuk menghasilkan agenda konkret dalam menghadapi tantangan global.<\/p>\n<p>\u201cKita kuat karena solid, dan kita solid karena kuat. Maka dari itu, sidang ini bukan hanya forum diskusi, tapi juga wadah membahas konflik geopolitik, perubahan iklim, kesenjangan ekonomi, hingga perjuangan kemerdekaan Palestina,\u201d tegas Puan.<\/p>\n<p>Sementara itu, Presiden RI Prabowo Subianto saat membuka secara resmi konferensi, menyampaikan kebanggaan Indonesia sebagai tuan rumah PUIC ke-19 serta komitmen penuh dalam membela hak rakyat Palestina.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia tidak akan pernah berhenti mendukung Palestina. Perjuangan ini butuh keberpihakan nyata, bukan sekadar diskusi atau resolusi,\u201d ujar Prabowo.<\/p>\n<p>Prabowo juga mengajak negara-negara Islam meneladani kepemimpinan besar dalam sejarah Islam seperti Sholahudin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih yang membangun peradaban melalui kasih sayang, pengetahuan, dan keteladanan.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada negara miskin yang kuat. Kunci kekuatan ada pada pemerintahan yang bersih dan institusi yang kuat,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Bramantyo Suwondo, turut menegaskan peran Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian dan stabilitas global.<\/p>\n<p>\u201cDalam situasi global yang semakin tidak menentu, Indonesia berkomitmen untuk terus menjadi mitra aktif dalam membangun kerja sama internasional yang adil dan setara,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dengan kesuksesan penyelenggaraan PUIC ke-19 dan semangat kebersamaan yang diperlihatkan para anggota, Indonesia kembali menunjukkan diri sebagai pemimpin yang mampu menjembatani kepentingan dunia Islam dan mendorong terciptanya peradaban dunia yang damai, adil, dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>(*\/rls)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Konferensi ke-19 Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) yang digelar di&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33114,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-33102","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33102","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33102"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33102\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33115,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33102\/revisions\/33115"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33114"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33102"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33102"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33102"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=33102"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}