{"id":33583,"date":"2025-05-23T06:22:47","date_gmt":"2025-05-23T06:22:47","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=33583"},"modified":"2025-05-23T06:22:47","modified_gmt":"2025-05-23T06:22:47","slug":"tokoh-sepakat-tolak-provokasi-indonesia-gelap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/05\/23\/tokoh-sepakat-tolak-provokasi-indonesia-gelap\/","title":{"rendered":"Tokoh Sepakat Tolak Provokasi \u201cIndonesia Gelap\u201d"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Di tengah riuh narasi pesimisme yang menggambarkan kondisi nasional seakan \u201cIndonesia gelap,\u201d Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal dan Wakil Ketua Umum MUI Dr. KH. Marsudi Syuhud, MM, sepakat menolak provokasi tersebut dengan cara yang elegan dan konstruktif. Mereka menegaskan bahwa kritik harus ditempatkan dalam kerangka dialog dan mekanisme resmi, bukan sekadar retorika yang dapat memecah belah.<\/p>\n<p>Cucun Ahmad Syamsurijal membuka pernyataannya dengan menegaskan pentingnya saluran resmi untuk menyampaikan aspirasi.<\/p>\n<p>\u201cSemua ini pemerintah lagi bekerja,\u201d ujarnya, menegaskan bahwa berbagai kementerian dan lembaga saat ini tengah menuntaskan program prioritas nasional.<\/p>\n<p>Menurut Cucun, tudingan bahwa pemerintahan sedang \u201cgelap gulita\u201d jauh dari fakta lapangan\u2014di mana infrastruktur terus dibangun, kebijakan ekonomi dipercepat, dan program sosial diperluas.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kritik yang membangun justru akan memperkuat legitimasi pemerintahan. \u201c<\/p>\n<p>Kalau kritik jangan terlalu berlebihan sampai ke arah sana. Ada mekanisme,\u201d kata Cucun, merujuk pada hak interpelasi dan rapat dengar pendapat di DPR RI.<\/p>\n<p>Baginya, kritik yang \u201cberlebihan\u201d hingga menyeret isu pemakzulan hanya akan mengalihkan energi dari perbaikan substantif dan mengganggu stabilitas politik.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Dr. KH. Marsudi Syuhud menyoroti bagaimana narasi pesimisme kerap muncul saat ekspektasi masyarakat tidak sejalan dengan realita, terutama di tengah tekanan ekonomi global.<\/p>\n<p>\u201cNarasi pesimisme sering kali muncul saat ekspektasi masyarakat tidak sejalan dengan realita, terutama dalam kondisi tekanan ekonomi,\u201d ungkapnya beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p>Menurut Marsudi, retorika \u201cIndonesia gelap\u201d bisa menjadi distraksi yang melemahkan semangat kolektif untuk bangkit.<\/p>\n<p>Untuk itu, Marsudi menekankan pentingnya strategi komunikasi politik yang efektif.<\/p>\n<p>\u201cKomunikasi politik yang dijalankan saat ini telah mampu meredam narasi pesimisme dan ketakutan, karena narasi tersebut justru dapat memperlambat semangat pembangunan jika terus digulirkan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa MUI siap berkolaborasi dengan pemerintah dan media untuk menyebarkan narasi optimisme yang berbasis fakta.<\/p>\n<p>Keduanya sepakat bahwa menolak provokasi \u201cIndonesia gelap\u201d bukan berarti menutup mata terhadap tantangan, melainkan menyikapinya dengan kritis, objektif, dan penuh harapan. DPR berkomitmen memperkuat mekanisme aspirasi masyarakat, sementara MUI akan mengadakan forum lintas agama untuk mempromosikan pesan kebangsaan dan kemajuan. Melalui sinergi ini, diharapkan energi publik dialihkan dari ketakutan ke partisipasi aktif dalam pembangunan. []<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Di tengah riuh narasi pesimisme yang menggambarkan kondisi nasional seakan \u201cIndonesia gelap,\u201d Wakil&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33584,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-33583","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33583","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33583"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33583\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33585,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33583\/revisions\/33585"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33584"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33583"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33583"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33583"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=33583"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}