{"id":33827,"date":"2025-06-01T11:42:07","date_gmt":"2025-06-01T11:42:07","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=33827"},"modified":"2025-06-01T11:42:14","modified_gmt":"2025-06-01T11:42:14","slug":"sekolah-garuda-langkah-strategis-pemerintah-bangun-masa-depan-anak-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/06\/01\/sekolah-garuda-langkah-strategis-pemerintah-bangun-masa-depan-anak-bangsa\/","title":{"rendered":"Sekolah Garuda Langkah Strategis Pemerintah Bangun Masa Depan Anak Bangsa"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan pemerataan pendidikan di seluruh pelosok negeri. Salah satu program unggulan yang kini menjadi sorotan adalah target pembangunan 20 SMA Unggul Garuda Baru hingga tahun 2029. Program ini bukan hanya sekadar pembangunan fisik, namun juga menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi emas Indonesia melalui pendidikan unggul dan merata.<\/p>\n<p>Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Ahmad Najib Burhani menegaskan bahwa pembangunan SMA Unggul Garuda bukan hanya pembangunan fisik, tetapi pembangunan kualitas pendidikan secara menyeluruh. \u201cJadi ada 20 SMA Unggul Garuda baru, yang artinya kita bangun dari nol. Mulai dari infrastruktur, sekolah, guru, akademik, dan sebagainya,&#8221; ujarnya dengan penuh keyakinan.<\/p>\n<p>Empat sekolah akan mulai dibangun pada tahun ini, dua di antaranya telah melalui tahap persiapan akhir dan segera memasuki proses konstruksi. \u201cInsyaAllah akan kita mulai pembangunannya segera, karena prosesnya sudah hampir selesai. Itu di Soe, Timur Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung,\u201d terang Najib. Selain itu, pembangunan juga akan dilakukan di Papua Tengah, dengan wilayah lain masih terbuka untuk pengajuan dari daerah.<\/p>\n<p>Najib juga menyampaikan bahwa sekolah-sekolah Garuda akan diprioritaskan di luar Pulau Jawa, untuk menjawab ketimpangan kualitas pendidikan dan membuka peluang pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal. Ini sejalan dengan strategi pembangunan nasional yang inklusif dan berbasis penguatan sumber daya manusia.<\/p>\n<p>Dari sisi pengajar, pemerintah akan membuka jalur rekrutmen bagi guru CPNS maupun non-PNS, dengan target sekitar 55 guru mata pelajaran di setiap sekolah. \u201cSaya kira itu sudah cukup. Nanti akan ada sesi sosialisasi khusus mengenai rekrutmennya,\u201d tambah Najib.<\/p>\n<p>Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menambahkan bahwa program Sekolah Garuda merupakan bagian langsung dari visi Presiden dalam memperkuat sumber daya manusia dan ekosistem pendidikan nasional. \u201cSekolah Garuda adalah program hasil Quick Wins nomor 7 yang merupakan visi langsung Bapak Presiden. Tujuannya adalah mewujudkan Asta Cita keempat, yaitu membangun sumber daya manusia, ekosistem, sains, dan teknologi,\u201d ungkap Stella.<\/p>\n<p>Melalui pembangunan 20 SMA Unggul Garuda hingga 2029, pemerintah menegaskan bahwa akses pendidikan bermutu bukan lagi hak eksklusif kota besar. Inilah saatnya setiap anak Indonesia, di mana pun mereka tinggal, mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang unggul.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus memperkuat komitmennya dalam&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33837,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-33827","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33827","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33827"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33827\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33838,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33827\/revisions\/33838"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33837"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33827"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33827"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33827"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=33827"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}