{"id":34380,"date":"2025-06-15T14:03:11","date_gmt":"2025-06-15T14:03:11","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=34380"},"modified":"2025-06-15T14:03:12","modified_gmt":"2025-06-15T14:03:12","slug":"pemerintah-gencarkan-sosialisasi-program-mbg-demi-wujudkan-generasi-sehat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/06\/15\/pemerintah-gencarkan-sosialisasi-program-mbg-demi-wujudkan-generasi-sehat\/","title":{"rendered":"Pemerintah Gencarkan Sosialisasi Program MBG Demi Wujudkan Generasi Sehat"},"content":{"rendered":"<p>image<br \/>\nLombok \u2013 Anggota Komisi DPR RI, Muazzim Akbar, menjelaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi komitmen pemerintah dalam mewujudkan generasi sehat, cerdas, dan kuat menuju Indonesia Emas 2045.<\/p>\n<p>Ia mengatakan, sosialisasi yang dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN) bersama DPR RI sangat penting untuk memastikan informasi mengenai sasaran, mekanisme, dan manfaat program tersampaikan secara jelas kepada masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cProgram ini menyasar pelajar dari PAUD hingga SMA, santri, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Melalui sosialisasi langsung, masyarakat dapat memahami bahwa MBG bukan hanya tentang pemberian makanan, tetapi juga peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Muazzim menambahkan bahwa implementasi program MBG juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal dengan membuka peluang kemitraan bagi warga, baik dari sisi pengadaan bahan pangan maupun tenaga kerja di dapur gizi yang disiapkan. Dengan begitu, dampak MBG tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat.<\/p>\n<p>Senada dengan Muazzim, Sekretaris Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN, Lalu Muhammad Iwan Mahardan, menyampaikan bahwa pemenuhan gizi yang berkualitas sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, kemampuan belajar, serta masa depan generasi muda. Menurutnya, keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat dan dukungan pemerintah daerah.<\/p>\n<p>\u201cProgram MBG bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi upaya jangka panjang untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. Diperlukan partisipasi aktif masyarakat agar target optimal pemenuhan gizi anak di seluruh Indonesia bisa tercapai,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sementara itu, dalam pelaksanaan di berbagai daerah, sosialisasi program MBG turut menyentuh aspek partisipatif masyarakat lokal seperti yang dilakukan di Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.<\/p>\n<p>Anggota Komisi IX DPR RI, Ade Rezki Pratama, mengatakan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi penentu keberhasilan program, baik dari sisi penyediaan bahan pangan maupun dalam pengelolaan dapur gizi.<\/p>\n<p>\u201cProgram ini tidak hanya meningkatkan gizi, tetapi juga membuka peluang kerja dan pengembangan potensi lokal, seperti hasil pertanian masyarakat. Ini yang menjadi kekuatan dari program MBG,\u201d ujar Ade.<\/p>\n<p>Menurut Tenaga Ahli Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN, Adib Al Fikry, MBG diarahkan untuk menurunkan angka stunting dan malnutrisi, serta meningkatkan prestasi belajar siswa melalui penyediaan makanan bergizi di sekolah.<\/p>\n<p>\u201cDengan asupan gizi yang baik, konsentrasi dan partisipasi siswa akan meningkat, yang berkontribusi pada perbaikan kualitas pendidikan. MBG menjadi investasi kesehatan dan pendidikan jangka panjang bagi bangsa,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Adib juga menegaskan bahwa program ini dirancang secara menyeluruh dengan sistem pengawasan yang ketat, termasuk oleh BPOM, serta melibatkan UMKM, petani, dan nelayan dalam rantai pasok untuk memperkuat dampak ekonomi lokal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>image Lombok \u2013 Anggota Komisi DPR RI, Muazzim Akbar, menjelaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-34380","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34380","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34380"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34380\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":34381,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34380\/revisions\/34381"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34380"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34380"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34380"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=34380"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}