{"id":36033,"date":"2025-07-24T08:41:48","date_gmt":"2025-07-24T08:41:48","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=36033"},"modified":"2025-07-24T08:41:49","modified_gmt":"2025-07-24T08:41:49","slug":"narasi-indonesia-cemas-berlebihan-pemerintah-kebut-aksi-nyata-tingkatkan-literasi-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/07\/24\/narasi-indonesia-cemas-berlebihan-pemerintah-kebut-aksi-nyata-tingkatkan-literasi-nasional\/","title":{"rendered":"Narasi \u201cIndonesia Cemas\u201d Berlebihan, Pemerintah Kebut Aksi Nyata Tingkatkan Literasi Nasional"},"content":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Narasi \u201cIndonesia Cemas\u201d yang digaungkan sejumlah kelompok dinilai ber-lebihan dan tidak mencerminkan kondisi objektif bangsa. Pemerintah menegaskan bah-wa Indonesia justru sedang bergerak maju dengan penuh optimisme.<\/p>\n<p>Kampanye pesimistis seperti \u201cIndonesia Gelap\u201d dan \u201cKabur Aja Dulu\u201d disebut sebagai propaganda politik yang tidak berdasar, yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional dan menyesatkan publik.<\/p>\n<p>Gerakan tersebut dinilai tidak lahir dari keresahan masyarakat, melainkan digerakkan oleh kepentingan politik segelintir elite. Pemerintah pun merespons dengan mempercepat agenda-agenda strategis, khususnya di bidang pendidikan dan literasi sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.<\/p>\n<p>Presiden Prabowo Subianto secara tegas menyatakan bahwa narasi-narasi tersebut bukanlah ekspresi keresahan rakyat, melainkan hasil rekayasa elite tertentu yang enggan menerima perubahan.<\/p>\n<p>\u201cDan ternyata memang ini adalah rekayasa. Ini dibuat-buat. Ini dibayar. Oleh siapa? Oleh mereka-mereka yang ingin Indonesia selalu gaduh, Indonesia selalu miskin,\u201d tegas Presiden dalam pidatonya.<\/p>\n<p>Alih-alih terjebak dalam wacana krisis buatan, pemerintah mempercepat langkah konkret untuk memperkuat pendidikan dan literasi nasional. Berbagai program strategis telah dijalankan, mulai dari pembangunan sekolah di wilayah tertinggal, peningkatan pelati-han guru, hingga perluasan akses pendidikan tinggi.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia cerah. Masa depan Indonesia cerah. Saya sudah lihat angka-angkanya. Kekayaan kita luar biasa, tinggal kita bisa mengelola atau tidak, tinggal kita berani atau tidak menjalankan perintah Undang-Undang Dasar,\u201d ujar Prabowo, menekankan opti-misme pemerintah dalam menata masa depan bangsa.<\/p>\n<p>Peneliti Center for Inclusive Engagement (CIE), Muhammad Chaerul, menambahkan bahwa stabilitas nasional dan peningkatan literasi harus menjadi prioritas bersama.<\/p>\n<p>\u201cAksi jalanan bukan solusi. Pemerintah saat ini sedang bekerja membangun masa depan melalui pendidikan. Itu yang perlu didukung, bukan diganggu,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, aktivis Corong Rakyat, Hasan, mengingatkan bahwa gerakan mahasiswa seharusnya berpijak pada data dan kajian objektif, bukan menjadi corong elite politik.<\/p>\n<p>\u201cKita justru sedang menyongsong pemerintahan baru yang kuat dan sah, kenapa justru dipojokkan dengan narasi yang dibangun oleh elite tertentu?\u201d, ujarnya.<\/p>\n<p>Pemerintah menegaskan akan terus membuka ruang dialog dan kritik konstruktif. Na-mun, segala bentuk agitasi yang menjurus pada delegitimasi pemerintahan akan dilawan dengan pendekatan berbasis data dan solusi nyata. Indonesia tidak sedang cemas. In-donesia sedang bekerja menuju masa depan yang inklusif, adil, dan berdaulat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Narasi \u201cIndonesia Cemas\u201d yang digaungkan sejumlah kelompok dinilai ber-lebihan dan tidak mencerminkan kondisi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-36033","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36033","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36033"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36033\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":36034,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36033\/revisions\/36034"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36033"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36033"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36033"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=36033"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}