{"id":36092,"date":"2025-07-25T04:04:36","date_gmt":"2025-07-25T04:04:36","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=36092"},"modified":"2025-07-25T04:04:36","modified_gmt":"2025-07-25T04:04:36","slug":"mengapresiasi-gerak-cepat-pemerintah-tindak-stasiun-mbg-kupang-tingkatkan-pengawasan-ketat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/07\/25\/mengapresiasi-gerak-cepat-pemerintah-tindak-stasiun-mbg-kupang-tingkatkan-pengawasan-ketat\/","title":{"rendered":"Mengapresiasi Gerak Cepat Pemerintah Tindak Stasiun MBG Kupang, Tingkatkan Pengawasan Ketat"},"content":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Pemerintah bergerak cepat menindaklanjuti kasus keracunan makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kupang. <\/p>\n<p>Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pengawasan ketat agar kejadian serupa tidak terulang. <\/p>\n<p>Dalam rapat kabinet, Presiden menilai penyebab keracunan bisa berasal dari kebiasaan siswa yang belum terbiasa menggunakan sendok atau tidak mencuci tangan dengan bersih sebelum makan.<\/p>\n<p>Presiden menceritakan pengamatannya saat meninjau langsung pelaksanaan MBG di sekolah. Dari 30 anak, 10 di antaranya makan tanpa sendok. <\/p>\n<p>Menurutnya, kebiasaan tersebut berpotensi memicu masalah kesehatan. <\/p>\n<p>Presiden juga menduga keracunan terjadi karena siswa belum terbiasa mengonsumsi susu.<\/p>\n<p>\u201cMasalah itu, dia enggak pernah minum susu. Kami kasih susu dia butuh waktu penyesuaian,\u201d ujar Prabowo. <\/p>\n<p>Presiden menekankan bahwa angka kasus keracunan hanya 200 dari 3 juta penerima manfaat MBG, atau setara 0,005 persen, sehingga tingkat keberhasilan program mencapai 99,9 persen. <\/p>\n<p>Namun, ia tetap mengapresiasi target Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mencapai zero kesalahan.<\/p>\n<p>Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menegaskan evaluasi program MBG menjadi prioritas uta-ma pemerintah provinsi. <\/p>\n<p>Dalam rapat bersama di Ruang Gubernur, Melki meminta percepatan pembangunan dapur MBG agar target 600 dapur segera terpenuhi. <\/p>\n<p>Menurutnya, program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi siswa, tetapi juga mendorong ekonomi lokal melalui pembukaan lapangan kerja.<\/p>\n<p>\u201cAspek gizi mestinya bagus untuk siswa-siswi, balita dan anak PAUD. Aspek ekonomi, pro-gram ini berpotensi memutar perekonomian di daerah sekitar sekolah dan dapur yang berge-rak,\u201d tegas Melki. <\/p>\n<p>Ia juga menekankan pentingnya perbaikan tata kelola di tingkat pelaksana agar standar higieni-tas terpenuhi.<\/p>\n<p>Sementara itu, Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan pihaknya menunggu hasil uji sam-pel makanan dari BPOM sebelum mengambil tindakan lebih lanjut. <\/p>\n<p>Dadan memastikan distribusi MBG di SMPN 8 Kupang dihentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi. <\/p>\n<p>Ia menambahkan, BGN tengah menyiapkan sertifikasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna memastikan standar higienitas dan keamanan pangan terpenuhi di seluruh dapur MBG.<\/p>\n<p>\u201cKami melibatkan Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk penerbitan sertifikasi tersebut,\u201d ujar Dadan. <\/p>\n<p>Upaya sertifikasi tersebut akan dimulai pada Juni atau Juli mendatang. BGN menargetkan se-luruh SPPG memiliki sertifikasi laik higienis, sanitasi, hingga HACCP untuk menjamin kea-manan makanan bagi jutaan penerima manfaat MBG di seluruh Indonesia. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Pemerintah bergerak cepat menindaklanjuti kasus keracunan makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG)&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-36092","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36092","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36092"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36092\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":36093,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36092\/revisions\/36093"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36092"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36092"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36092"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=36092"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}