{"id":36452,"date":"2025-08-04T03:44:55","date_gmt":"2025-08-04T03:44:55","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=36452"},"modified":"2025-08-04T03:44:56","modified_gmt":"2025-08-04T03:44:56","slug":"bendera-one-piece-dikibarkan-jelang-hut-ri-pakar-dan-pejabat-negara-imbau-hormati-simbol-negara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/08\/04\/bendera-one-piece-dikibarkan-jelang-hut-ri-pakar-dan-pejabat-negara-imbau-hormati-simbol-negara\/","title":{"rendered":"Bendera One Piece Dikibarkan Jelang HUT RI, Pakar dan Pejabat Negara Imbau Hormati Simbol Negara"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Menjelang perayaan HUT RI ke-80, fenomena pengibaran bendera Jolly Roger, ikon bajak laut dari serial manga dan anime populer One Piece menarik perhatian publik.<br \/>\nSosiolog Universitas Parahyangan, Garlika Martanegara, menilai maraknya pengibaran bendera One Piece merupakan refleksi menurunnya nasionalisme dan literasi digital.<\/p>\n<p>Garlika menjelaskan bahwa tren pengibaran bendera bajak laut terjadi akibat minimnya pemahaman sejarah, serta berkurangnya pendidikan kebangsaan.<\/p>\n<p>\u201cMasuk ke kelas dulu harus hormat bendera, mereka sudah enggak ada. Penataran P4 enggak ada. Ya, gitu akibatnya,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Fenomena ini, imbuhnya, menegaskan bahwa nasionalisme tidak bisa dianggap mainan.<\/p>\n<p>Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai menegaskan bahwa pelarangan pengibaran bendera One Piece sejajar dengan bendera Merah Putih penting demi menjaga kehormatan simbol negara dan menghindari potensi pelanggaran hukum, bahkan bisa mengarah ke tindakan makar.<\/p>\n<p>Menurut Pigai, pelarangan pengibaran bendera One Piece sejajar bendera Merah Putih bukan bentuk pembatasan atas kebebasan berekspresi, melainkan langkah tegas dalam menjaga keamanan nasional.<\/p>\n<p>\u201cIni adalah wujud nyata penghormatan terhadap simbol-simbol negara. Tidak boleh disamakan dengan bendera fiksi seperti bendera One Piece, apalagi saat momen penting seperti HUT RI ke-80,\u201d kata Pigai.<\/p>\n<p>Pigai juga menyebut pelarangan bendera fiksi ini sesuai dengan prinsip hukum internasional, termasuk Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi melalui UU Nomor 12 Tahun 2005.<\/p>\n<p>\u201cUndang-undang ini memberikan hak kepada negara untuk bertindak menjaga stabilitas dan kedaulatan nasional,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Pada kesempatan berbeda, Yakob Fiobetauw, Ketua Dewan Pimpinan Cabang \u2013 Barisan Merah Putih (DPC BMP) Kabupaten Jayapura mengimbau masyarakat untuk tidak mengikuti tren pengibaran bendera bajak laut One Piece bersamaan dengan bendera Merah Putih.<\/p>\n<p>Ia menilai, ajakan untuk menolak mengibarkan bendera Merah Putih di seluruh wilayah Indonesia dan juga adanya ajakan untuk mengibarkan bendera One Piece kurang tepat di momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80.<\/p>\n<p>\u201cKarena itu, kami dari Barisan Merah Putih (BMP) Kabupaten Jayapura mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya yang ada di Papua dan terlebih khusus lagi di Kabupaten Jayapura, agar tidak terprovokasi dengan adanya ajakan-ajakan dan juga isu-isu negatif yang bisa merusak kedaulatan negara kita,\u201d imbau Yakob.<\/p>\n<p>Ia mengajak seluruh warga Negara Republik Indonesia dimanapun berada, agar dapat mengibarkan bendera Merah Putih dari Sabang sampai Merauke.<\/p>\n<p>Senada, Menko Polkam, Budi Gunawan turut meminta masyarakat untuk tidak terprovokasi gerakan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cSebagai bangsa besar yang menghargai sejarah, sepatutnya kita semua menahan diri untuk tidak memprovokasi dengan simbol-simbol yang tidak relevan dengan perjuangan bangsa,\u201d ajak Budi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Menjelang perayaan HUT RI ke-80, fenomena pengibaran bendera Jolly Roger, ikon bajak laut&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":36448,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-36452","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36452","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36452"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36452\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":36453,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36452\/revisions\/36453"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36448"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36452"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36452"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36452"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=36452"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}