{"id":36536,"date":"2025-08-06T01:04:46","date_gmt":"2025-08-06T01:04:46","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=36536"},"modified":"2025-08-06T01:04:47","modified_gmt":"2025-08-06T01:04:47","slug":"bendera-merah-putih-harga-mati-tolak-pengibaran-tren-bajak-laut-di-hari-kemerdekaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/08\/06\/bendera-merah-putih-harga-mati-tolak-pengibaran-tren-bajak-laut-di-hari-kemerdekaan\/","title":{"rendered":"Bendera Merah Putih Harga Mati, Tolak Pengibaran Tren Bajak Laut di Hari Kemerdekaan"},"content":{"rendered":"<p>Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, fenomena tren pengibaran bendera fiksi seperti Jolly Roger dari serial anime One Piece menjadi sorotan publik. Momen sakral yang seharusnya menjadi ajang memupuk nasionalisme justru tercoreng oleh tindakan yang dinilai tidak menghormati simbol negara.<\/p>\n<p>Para tokoh nasional pun angkat bicara dan mengimbau masyarakat untuk kembali menguatkan semangat kebangsaan melalui penghormatan terhadap bendera Merah Putih.<\/p>\n<p>Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Budi Gunawan mengingatkan masyarakat agar tidak ikut memprovokasi dengan mengibarkan simbol-simbol yang tidak relevan dengan perjuangan bangsa.<\/p>\n<p>\u0093Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai sejarah, sudah semestinya kita menghindari tindakan yang justru memicu provokasi melalui penggunaan simbol-simbol yang tidak memiliki kaitan dengan semangat perjuangan bangsa,\u0094 tegasnya.<\/p>\n<p>Fenomena ini menuai perhatian karena terjadi pada waktu yang sangat sensitif, yakni menjelang perayaan Hari Kemerdekaan. Pengibaran bendera Jolly Roger yang identik dengan bajak laut dinilai tidak pantas berdampingan dengan bendera Merah Putih yang menjadi simbol resmi kedaulatan negara.<\/p>\n<p>Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, secara tegas menyatakan bahwa pengibaran bendera fiksi sejajar bendera Merah Putih bukanlah bagian dari kebebasan berekspresi, melainkan tindakan yang berpotensi melanggar hukum.<\/p>\n<p>\u0093Hal ini merupakan bentuk konkret penghormatan terhadap lambang-lambang negara. Tidak bisa disetarakan dengan bendera fiktif seperti milik One Piece, terlebih di momen krusial seperti peringatan HUT RI ke-80,\u0094 ujar Pigai.<\/p>\n<p>Pigai juga menekankan bahwa pelarangan bendera fiksi ini sejalan dengan prinsip hukum internasional.<\/p>\n<p>\u0093Peraturan ini memberi kewenangan kepada negara untuk mengambil langkah dalam menjaga stabilitas serta melindungi kedaulatan nasional,\u0094 tambahnya, merujuk pada UU Nomor 12 Tahun 2005 yang meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik.<\/p>\n<p>Senada dengan itu, Koordinator Pusat BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah Indonesia (PTMAI), Yogi Syahputra Alidrus, mengajak seluruh masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih sebagai bentuk nyata semangat nasionalisme.<\/p>\n<p>\u0093Kami menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk membangkitkan kembali jiwa nasionalisme melalui tindakan sederhana namun penuh makna, yaitu dengan mengibarkan Bendera Merah Putih di rumah, kampus, dan lingkungan sekitar,\u0094 katanya.<\/p>\n<p>Yogi juga menyatakan penolakannya terhadap tren pengibaran bendera bajak laut saat Hari Kemerdekaan.<\/p>\n<p>\u0093Kami secara tegas menolak pengibaran bendera One Piece maupun simbol-simbol lain yang tidak merepresentasikan jati diri serta semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Aksi semacam itu bisa mencederai makna kemerdekaan dan justru memecah belah persatuan bangsa,\u0094 ujarnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, fenomena tren pengibaran bendera fiksi seperti Jolly&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-36536","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36536","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36536"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36536\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":36537,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36536\/revisions\/36537"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36536"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36536"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36536"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=36536"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}