{"id":3706,"date":"2022-04-23T02:47:55","date_gmt":"2022-04-23T02:47:55","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=3706"},"modified":"2022-04-23T02:48:00","modified_gmt":"2022-04-23T02:48:00","slug":"aktivis-senior-gpii-nanang-qosim-ajak-kaum-muda-tangkal-radikalisme-dengan-menggaungkan-pancasila-uud-1945-dan-bhinneka-tunggal-ika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2022\/04\/23\/aktivis-senior-gpii-nanang-qosim-ajak-kaum-muda-tangkal-radikalisme-dengan-menggaungkan-pancasila-uud-1945-dan-bhinneka-tunggal-ika\/","title":{"rendered":"Aktivis Senior GPII Nanang Qosim Ajak Kaum Muda Tangkal Radikalisme Dengan Menggaungkan Pancasila, UUD 1945 Dan Bhinneka Tunggal Ika"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta, jurnalredaksi\u2013 Aktivis Senior Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Nanang Qosim mengatakan kaum muda harus bisa menangkal paham radikalisme dengan cara membumikan atau menggaungkan Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal tersebut diungkapkan Nanang Qosim saat mengikuti Dialog Kebangsaan secara daring di Pancasila TV Jumat Malam (22\/4\/2022).<\/p>\n\n\n\n<p>Nanang Qosim mengatakan pemuda Indonesia di bulan Ramadhan ini harus memiliki spirit atau semangat untuk memotong dan menangkal gurita radikalisme di Indonesia. Dalam hal ini artinya bahwa pemuda \u2013 pemuda di Indonesia secara keseluruhan harus cinta secara sungguh \u2013 sungguh kepada NKRI, dan rasa cintanya itu harus diwujudkan dalam rasa syukur karena dilahirkan dibumi yang namanya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Falsafah \u2013 falsafah seperti Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi Kiblatnya bangsa Indonesia dan harus dipedomani pemuda Indonesia karena sudah final, tegas Nanang.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika pemuda Indonesia sudah paham dan cinta terhadap kiblat tersebut, maka yang namanya paham \u2013 paham radikalisme itu tidak akan masuk kedalam relung \u2013 relung jiwa pemuda Indonesia yang cinta kepada negaranya, ujar Aktivis Senior GPII.<\/p>\n\n\n\n<p>Kaum muda harus bisa menyaring paham \u2013 paham yang tersebar di media sosial sehingga tidak mempengaruhi pikiran mereka. Oleh sebab itu, perlu dipupuk mulai dari rasa bersyukur dan berpedoman pada Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, ungkap Nanang.<\/p>\n\n\n\n<p>Akar radikalisme sampai saat ini dibulan suci Ramadhan masih Nampak, hal tersebut dapat dibuktikan dengan aparat Kepolisian masih melakukan penangkapan \u2013 penangkapan jaringan teroris yang teridentifikasi ingin merusak NKRI. Lalu sebelum bulan Puasa, PNS masih terpapar, kata Nanang Qosim.<\/p>\n\n\n\n<p>Peran serta seluruh stakeholder dari mulai tingkat paling bawah hingga ke tingkat pusat harus bahu \u2013 membahu menjaga pilar \u2013 pilar kebangsaan supaya tidak terkoyak \u2013 koyak dengan paham yang berasal dari luar, tutur Nanang.<\/p>\n\n\n\n<p>Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika harus terus dibumikan atau digaungkan agar rasa syukur dan kecintaannya terhadap NKRI benar \u2013 benar mendalam. Jika sudah ada rasa kecintaannya yang mendalam tentu rasa nasionalismenya terhadap negara ini juga akan tumbuh dan tidak mudah terpengaruh ataupun dirasuki oleh paham \u2013 paham seperti radikalisme, tutup Nanang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, jurnalredaksi\u2013 Aktivis Senior Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Nanang Qosim mengatakan kaum muda harus&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3707,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[58],"newstopic":[],"class_list":["post-3706","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-agama-dan-pluralitas","tag-radikalisme"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3706","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3706"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3706\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3708,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3706\/revisions\/3708"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3707"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3706"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3706"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3706"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=3706"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}