{"id":38221,"date":"2025-09-15T01:38:25","date_gmt":"2025-09-15T01:38:25","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=38221"},"modified":"2025-09-15T01:38:26","modified_gmt":"2025-09-15T01:38:26","slug":"soliditas-tni-polri-jadi-bukti-negara-tidak-toleransi-aksi-anarkis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/09\/15\/soliditas-tni-polri-jadi-bukti-negara-tidak-toleransi-aksi-anarkis\/","title":{"rendered":"Soliditas TNI Polri Jadi Bukti Negara Tidak Toleransi Aksi Anarkis"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u0096 Soliditas TNI dan Polri menjadi bukti nyata bahwa negara tidak memberikan toleransi terhadap aksi anarkis yang berpotensi mengganggu stabilitas bangsa. Sinergi kedua institusi pertahanan dan keamanan ini menjadi tameng kuat dalam menjaga ketertiban masyarakat, sekaligus memastikan ruang demokrasi tetap berjalan sesuai koridor hukum.<\/p>\n<p>Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menegaskan komitmen Polri untuk mengusut tuntas kerusuhan yang terjadi dalam sejumlah aksi demonstrasi di berbagai wilayah Indonesia. Ia menekankan, langkah hukum tidak hanya berhenti pada pelaku di lapangan, melainkan juga diarahkan untuk menelusuri aktor intelektual yang menjadi dalang.<\/p>\n<p>\u201cKami bekerja sama nanti tentunya dengan teman-teman dari TNI, dan seluruh elemen yang bisa menjadi sumber informasi untuk kemudian kita bisa menuntaskan,\u201d ujar Kapolri.<\/p>\n<p>Menurutnya, kerja sama erat antarinstansi menjadi kunci menjaga ketertiban serta menciptakan kondisi aman demi keberlangsungan pembangunan nasional.<\/p>\n<p>\u0093Dan yang paling utama bagaimana ke depan kita menjaga kondusifitas bangsa ini, untuk terus bisa terjaga dengan baik, karena dengan itulah Indonesia bisa melaksanakan pembangunan, bisa menyejahterakan rakyatnya,\u0094 ungkapnya.<\/p>\n<p>Kapolri juga memberikan apresiasi terhadap masyarakat dan tokoh agama yang turut serta menjaga situasi tetap kondusif.<\/p>\n<p>\u0093Ya tentunya dengan kerja sama antara TNI, Polri, dan masyarakat serta tentunya dukungan doa dari ulama ini menjadi salah satu hal yang bisa mengakselerasi terciptanya situasi yang kondusif,\u0094 katanya.<\/p>\n<p>Sejalan dengan hal itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divhumas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, menegaskan bahwa kolaborasi TNI dan Polri merupakan wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.<\/p>\n<p>\u0093Ini adalah wujud kehadiran negara. TNI dan Polri hadir bersama, berdampingan di tengah masyarakat, untuk memastikan rasa aman dan nyaman tetap terjaga,\u0094 ujar Trunoyudo.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, sinergi kedua institusi terlihat dalam berbagai patroli bersama, sosialisasi pentingnya menyampaikan aspirasi dengan damai, serta penegakan hukum yang transparan terhadap para pelaku anarkis. \u0093Semua proses hukum akan berjalan dengan transparan demi memberikan rasa keadilan kepada masyarakat,\u0094 tambahnya.<\/p>\n<p>\u0093Polri adalah milik masyarakat. Kami tidak anti kritik. Justru kami terbuka terhadap masukan demi perbaikan ke depan. Hanya saja kami berharap aspirasi tetap disampaikan sesuai koridor hukum,\u0094 tegas Trunoyudo.<\/p>\n<p>Kekompakan TNI dan Polri dalam menghadapi kerusuhan menjadi bukti konkret bahwa negara tidak mentoleransi segala bentuk aksi anarkis. Kolaborasi ini tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga memperlihatkan keseriusan negara dalam menjaga persatuan, ketertiban, dan kesejahteraan rakyat.<\/p>\n<p>Soliditas yang ditunjukkan TNI dan Polri sekaligus menjadi pesan moral bahwa kebebasan berpendapat tidak boleh disalahgunakan menjadi tindakan destruktif. Dengan sinergi aparat, dukungan masyarakat, serta peran aktif tokoh bangsa, Indonesia menegaskan dirinya sebagai negara yang tegas, adil, dan tidak memberikan ruang bagi pihak-pihak yang mencoba merusak tatanan demokrasi melalui aksi anarkis.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u0096 Soliditas TNI dan Polri menjadi bukti nyata bahwa negara tidak memberikan toleransi terhadap&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-38221","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38221","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38221"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38221\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":38222,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38221\/revisions\/38222"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38221"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38221"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38221"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=38221"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}