{"id":38516,"date":"2025-09-21T09:59:12","date_gmt":"2025-09-21T09:59:12","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=38516"},"modified":"2025-09-21T09:59:12","modified_gmt":"2025-09-21T09:59:12","slug":"pemerintah-optimalkan-teknologi-pertanian-untuk-swasembada-pangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/09\/21\/pemerintah-optimalkan-teknologi-pertanian-untuk-swasembada-pangan\/","title":{"rendered":"Pemerintah Optimalkan Teknologi Pertanian untuk Swasembada Pangan"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Pemerintah terus memperkuat upaya menuju swasembada pangan melalui optimalisasi teknologi pertanian modern. Langkah ini diwujudkan melalui kolaborasi strategis antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Pertanian (Kementan), serta PT Cipta Perdana Lancar Tbk., yang bersepakat mengembangkan inovasi mekanisasi pertanian berupa mesin penabur dolomit berpenggerak traktor roda dua.<\/p>\n<p>Kesepakatan tersebut ditandatangani di Kantor Kementan dengan fokus utama pada peningkatan produktivitas lahan rawa yang selama ini belum tergarap optimal. Penggunaan dolomit menjadi penting karena berfungsi meningkatkan kesuburan tanah, khususnya di lahan marginal, sehingga berpotensi memperkuat ketahanan pangan nasional.<\/p>\n<p>Kepala Pusat Riset Teknologi Mekanisasi Pertanian (PRTMP) BRIN, Taufik Hidayat, menegaskan BRIN punya tanggung jawab mendukung swasembada pangan, salah satunya dengan inovasi untuk lahan rawa. Mesin penabur dolomit ini diharapkan jadi teknologi kunci yang efisien dan berdampak, serta bisa dikembangkan ke teknologi pertanian lainnya seperti irigasi. Inovasi ini merupakan langkah strategis dalam mendukung swasembada pangan. <\/p>\n<p>\u201cHasil akhir dari kerja sama ini adalah terciptanya purwarupa dan uji coba mesin di lapangan. Teknologi ini diyakini akan membuka peluang baru dalam mengelola lahan rawa secara produktif sehingga mampu menopang peningkatan produksi beras nasional,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sejalan dengan itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Pancha Bakti, Prof. Dr. Ir. Agusalim Masulili, MP, menekankan bahwa swasembada pangan bukan sekadar isu pertanian, melainkan menyangkut kedaulatan negara. Ia mengingatkan bahwa ketersediaan pangan berhubungan langsung dengan stabilitas sosial dan politik bangsa. <\/p>\n<p>\u201cPresiden Prabowo Subianto menekankan bahwa swasembada pangan adalah salah satu pilar utama kedaulatan bangsa. Negara tidak akan stabil bila rakyatnya kekurangan pangan, karena masalah perut bisa berdampak pada sosial hingga politik,\u201d ujarnya<\/p>\n<p>Ditambahkannya, pencapaian swasembada pangan menuntut sinergitas dan inovasi. Untuk mencapai itu, dibutuhkan dua hal penting yaitu sinergitas dan inovasi. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya gizi seimbang bagi generasi muda sebagai fondasi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.<\/p>\n<p>\u201cSinergitas berarti adanya kerjasama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Sementara inovasi adalah kemampuan kita menghadirkan terobosan baru dalam produksi pangan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Dengan langkah kolaboratif ini, pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan menunjukkan komitmen kuat untuk mempercepat pencapaian swasembada pangan. Optimalisasi teknologi dan sinergi multipihak diharapkan menjadi pondasi kokoh dalam mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Pemerintah terus memperkuat upaya menuju swasembada pangan melalui optimalisasi teknologi pertanian modern. Langkah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-38516","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38516","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38516"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38516\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":38517,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38516\/revisions\/38517"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38516"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38516"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38516"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=38516"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}