{"id":39763,"date":"2025-10-18T07:39:21","date_gmt":"2025-10-18T07:39:21","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=39763"},"modified":"2025-10-18T07:39:21","modified_gmt":"2025-10-18T07:39:21","slug":"prabowo-gibran-dinilai-berhasil-bangun-fondasi-kuat-ekonomi-dan-kepercayaan-publik-di-tahun-pertama-pemerintahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/10\/18\/prabowo-gibran-dinilai-berhasil-bangun-fondasi-kuat-ekonomi-dan-kepercayaan-publik-di-tahun-pertama-pemerintahan\/","title":{"rendered":"Prabowo\u2013Gibran Dinilai Berhasil Bangun Fondasi Kuat Ekonomi dan Kepercayaan Publik di Tahun Pertama Pemerintahan"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta &#8211; Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai berhasil membangun optimisme nasional melalui capaian konkret di bidang ekonomi, diplomasi, dan pemberdayaan rakyat selama satu tahun pertama masa kepemimpinan. <\/p>\n<p>Hal tersebut mengemuka dalam dialog Sapa Indonesia Malam Kompas TV bertema \u201cSetahun Pemerintahan Prabowo\u2013Gibran: Bangun Optimisme Masa Depan\u201d, yang menghadirkan tiga narasumber lintas bidang: Prof. Dr. Perdana Wahyu (Ekonom Great Institute sekaligus Guru Besar FEB Universitas YARSI), Prof. Angel Damayanti, Ph.D (Guru Besar UKI dan Pakar Hubungan Internasional), serta Drajad Wibowo (Ekonom Senior).<\/p>\n<p>Prof. Dr. Perdana Wahyu menilai kinerja ekonomi nasional selama satu tahun terakhir menunjukkan lonjakan signifikan. Ia mengungkapkan bahwa neraca perdagangan Indonesia hingga September 2025 tumbuh 45,8 persen, angka pengangguran menurun hingga 4,76 persen, dan tingkat kemiskinan turun ke 8,47 persen \u2014 yang merupakan rekor terendah sejak krisis 1998.<\/p>\n<p>\u201cPertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,12 persen, di luar dugaan banyak pihak. Ini menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi pemerintah berjalan efektif dan mampu menumbuhkan kepercayaan pasar,\u201d ujarnya. <\/p>\n<p>Menurutnya, tanda-tanda optimisme kini terlihat jelas dari meningkatnya aktivitas publik di pusat ekonomi hingga pasar modal yang mencatat rekor tertinggi di level 8.250. <\/p>\n<p>\u201cLikuiditas baru senilai lebih dari 200 triliun ditambah stimulus BLT dan program magang berpotensi menambah 0,4 hingga 0,58 persen pertumbuhan dalam enam bulan ke depan,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Prof. Angel Damayanti menilai bahwa Presiden Prabowo berhasil mengangkat posisi Indonesia di panggung internasional melalui diplomasi ekonomi dan diplomasi perdamaian yang berimbang.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, kunjungan Presiden ke sejumlah negara telah menghasilkan potensi investasi sebesar 380 triliun rupiah.<\/p>\n<p>\u201cIni bukti konkret diplomasi ekonomi yang efektif. Dunia kini melihat Indonesia sebagai mitra yang strategis, bukan hanya pasar,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Ia juga menyoroti peran Indonesia dalam mendorong perdamaian global, khususnya melalui pidato Presiden Prabowo di Sidang Majelis Umum PBB dan kehadirannya dalam KTT Perdamaian Gaza.<\/p>\n<p>\u201cKetika Presiden berpidato tanpa teks selama dua puluh menit di PBB dengan semangat yang luar biasa, itu menjadi simbol kepemimpinan yang berwibawa dan berprinsip. Banyak pemimpin dunia memberi apresiasi karena melihat Indonesia berdiri teguh untuk keadilan dan perdamaian,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurut Prof. Angel, sikap Indonesia yang tetap mendukung kemerdekaan Palestina sambil membuka ruang dialog dengan Israel menunjukkan kedewasaan diplomasi yang berpegang pada prinsip, sekaligus fleksibel terhadap realitas global.<\/p>\n<p>\u201cSebagai negara dengan penduduk Muslim moderat terbesar di dunia, posisi Indonesia kini benar-benar diperhitungkan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Dalam pandangan ekonom senior Drajad Wibowo, arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo tidak hanya berfokus pada stabilitas makro, tetapi juga memberi ruang besar bagi penguatan ekonomi rakyat.<\/p>\n<p>Ia menyebut program Swasembada Pangan, Makan Bergizi Gratis (MBG), Magang Nasional, dan Koperasi Desa Merah Putih sebagai motor pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput.<\/p>\n<p>\u201cProgram swasembada pangan telah mempermudah petani mendapatkan pupuk bersubsidi karena aturan disederhanakan. Itu membuat produktivitas pertanian meningkat,\u201d jelas Drajad.<\/p>\n<p>Ia juga menekankan pentingnya kebijakan pemberdayaan perempuan yang telah membuka akses pembiayaan bagi 15 juta nasabah perempuan di seluruh Indonesia. <\/p>\n<p>\u201cLangkah ini melahirkan banyak wirausaha perempuan dan memperkuat ekonomi keluarga di tingkat desa,\u201d katanya. <\/p>\n<p>Drajad menilai program MBG menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan sosial dapat memberi dampak ekonomi langsung.<\/p>\n<p>\u201cKetika anggaran MBG meningkat, permintaan telur dan bahan pangan melonjak, pemerintah merespons cepat dengan membentuk kelompok usaha desa untuk beternak ayam petelur. Ini bukti bahwa kebijakan pemerintah berjalan sinergis antara pangan, UMKM, dan kesejahteraan masyarakat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sebagai penutup, Prof. Perdana menilai capaian ekonomi dan sosial selama setahun terakhir telah melahirkan keyakinan baru di tengah masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cOptimisme yang dibangun pemerintah saat ini bukan retorika, tapi realitas yang dirasakan masyarakat. Itulah modal sosial yang paling berharga untuk membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih kuat dan mandiri,\u201d tutup Prof. Perdana.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta &#8211; Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai berhasil membangun&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-39763","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39763","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39763"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39763\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39772,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39763\/revisions\/39772"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39763"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39763"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39763"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=39763"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}